Kesal Ditipu, Pria Ini Laporkan Pacarnya ke Polisi

 395 total views,  2 views today

*Korban “Ratu Tipu” Bertambah

EMPAT LAWANG | KS – Nama Ratih Kinasih Adelia (25) dikenal sebagai “ratu tipu” kelas kakap ini kian populer. Setelah meringkuk di jeruji besi Mapolres Empat Lawang, atas dugaan penipuan mencapai miliaran rupiah terhadap mantan anggota DPRD Empat Lawang. Ternyata korban lainnya pun terus bertambah, melaporkan aksi penipuan sang ratu tipu ke Mapolres Empat Lawang.

Kemarin (29/6) sekitar pukul 13.00, korban lainnya AP (25) warga Gelumbang Kabupaten Muara Enim turut melapor ke Mapolres Empat Lawang atas dugaan penipuan. Pria tak lain pacar Ratih ini, mengaku telah ditipu Rp 180 juta utuk kelulusan seleksi CPNS 2014 lalu.

Diceritakan AP,  awal pertama berkenalan Ratih mengaku PNS di bagian Protokol Setda Empat Lawang dan sangat dekat dengan Bupati Empat Lawang, H Budi Antoni Aljufri (HBA). Dengan alasan kedekatan itu, korban dijanjikan bisa lulus seleksi CPNS asalkan menyetor uang Rp 180 juta ke bupati meminta kepada korban untuk menerima BlackBerry Messenger (BBM) milik HBA yang akan mengivitenya, sehingga mudah berkomunikasi.

Aksi penipuan cukup cantik, karena contact BBM tersebut memang memiliki Display Pictur (DP) wajah HBA dan bertuliskan nama H Budi Antoni Aljufri. Padahal, contact BBM tersebut bukanlah milik HBA, diduga hanya akal-akalan pelaku demi melancarkan aksinya.

Singkat cerita, AP pun sudah mentransfer uang pelicin tersebut dengan nominal Rp 180 juta. Namun, karena korban tidak lulus pada penerimaan CPNS 2014 lalu, sehingga korban memaksa Ratih mengembalikan uangnya, namun yang dikembalikan hanya sebesar Rp 28 juta. “Saya sebelumnya tidak menaruh curiga, karena bicaranya yang meyakinkan. Dia ngaku PNS di Bagian Protokol Setda Empat Lawang dan dekat dengan bupati, sehingga bisa memuluskan untuk menjadi CPNS,” ungkap AP yang meminta namanya diinisialkan dan tidak mau diambil fotonya.

Ditambahkannya, setahun lebih, sejak Desember 2013 lalu, ia belum dapat kabar dari tersangka, bahkan tes PNS sudah dilaksanakan. Karena itu dia mulai bercerita dengan orang lain mengenai prihal yang dihadapinya, hingga sampai kontak dengan seorang anggota TNI yang sering ikut HBA. Dari seorang TNI tersebutlah, dia baru tahu kalau HBA tidak akan mau mengurus masalah penerimaan CPNS,  dari itulah dirinya sadar sudah ditipu dan ingin melapor ke polisi.

“Karena tau saya ingin melapor itulah Ratih mengembalikan uang saya Rp 28 juta. Setelah itu tidak ada kabar lagi, dirinya tidak ada itikad baik untuk mengembalikannya, sehingga keluarga saya menjadi kesal, bahkan saya sendiri sempat tidak diperdulikan keluarga akibat masalah ini,” terang AP mengaku, menyesal pernah dekat dan sempat pacaran dengan pelaku.

Dalam waktu yang sama, pengacara HBA, Agus Yuliono juga melaporkan tersangka yang mulai dikenal Ratu Tipu ke Polres Empat Lawang atas dugaan fitnah dan mencemarkan nama baik HBA sebagai orang nomor satu di Bumi Saling Keruani Sangi Kerawati. Hal ini diberatkan oleh keterangan saksi korban, AP.
“Sebelumnya pak bupati tidak begitu peduli dan hanya mengabaikan saja perkara ini, karena dirinya tidak berbuat apa-apa, meskipun tersangka menggunakan BBM mencatut namanya. Namun, karena mencuat sekarang ini, jadi saya selaku kuasa hukumnya juga menuntut tersangka. Tersangka kita tuntut dengan pasal 311/318 KUHP atas perbuatan fitnah dan pencemaran nama baik dan
Junto pasal 27 (3) UU No 11 tahun 2008 tentang ITE,” ungkap Agus.

Sementara itu Kapolres Empat Lawang, AKBP Rantau Isnur Eka SIk melalui Kasatreskrim, AKP Nanang Supriyatna mengatakan, sejauh ini sudah ada empat korban yang melaporkan tersangka Ratih Kinasi Adedila binti Solahudin yang telah ditahan di Mapolres Empat Lawang. Pihaknya akan terus melakukan pengembangan penyelidikan terhadap perkara yang melibatkan Ratih.

Bahkan, dari Polsek Sukarami Palembang juga sudah menghubunginya, bahwa ada korban yang melapor ke Polsek Sukarami atas dugaan penggelapang mobil rental merk Grand Livina. “Kita akan lakukan pengembangan penyelidikan untuk proses hukum tersangka Ratih ini. Kita masih menunggu kalau masih ada korban lain melapor, sejauh ini sudah ada empat korban,”jelas Nanang.

Kasus penipuan dilakukan tersangka Ratih bakal berbuntut panjang. Pasalnya korban-korbannya yang sudah ditipu beramai-ramai melapor ke Polres Empat Lawang, termasuk Bupati Empat Lawang H Budi Antoni Aljufri.

Saat ini dia korban yang sudah melapor ke Polres Empat Lawang sudah tiga orang, yaitu mantan Anggota DPRD Empat Lawang Eva Listari dengan perkara transaksi peralatan rumah tangga dengan pembayaran slip penyetoran bank yang diduga aspal (asli atau palsu).

Sedangkan korban keduanya yakni Salman (50) warga Bengkulu dengan perkara penipuan transaksi mobil Honda Mobilio bernopol BG 1761 IC warna abu-abu silver yang ditaksi sekitar sekitar Rp200 juta. Modus tersangka juga menggunakan menggunakan slip pembayaran yang diduga aspal pada salah satu bank.

Kemudian ketiga adalah bupati Empat Lawang H Budi Antoni Aljufri melalui kuasa hukumnya Agus Yuliono. Laporan HBA, terkait pencemaran nama baik atas pencatutan nama dirinya untuk melakukan aksi penipuan.

Dilain pihak, tersangka Ratih masih membantah semua tuduhan Salman (50) dan Eva Listari. Dia juga membantah melakukan penipuan bahkan melakukan hipnotis kepada korban. “Saya tidak ada ilmu hipnotis. Tidak mungkinlah dia (Eva,red) tertipu bertahun-tahun, tidak mungkin tidak sadar-sadar bertahun-tahun. Orang kena hipnotis itu, hitungan jam, paling lama sehari,” akunya.

Ratih juga mengaku tidak pernah memasang Display Picture (DP) Blackberry miliknya foto Bupati Empat Lawang HBA. “Saya juga tidak pernah pakai DP HBA untuk menipu,” kelitnya.

Bahkan ia balik menuding, bahwa Eva lah yang punya hutang dengan dirinya senilai Rp900 juta. Dengan rincian, hutang pribadi Rp500 juta dan Rp400 juta hutang “pelicin” penerimaan CPNS tahun 2013 yang diberikannya kepada Eva. “Dia (Eva,red) yang punya hutang dengan saya. Karena tidak bisa membayar semuanya, perabotan rumahnya itu diberikan kepada saya karena saat itu rumahnya akan dilelang,” aku tersangka Ratih ketika ditemui di Mapolres Empat Lawang.

Dijelaskannya, Eva sendiri yang menyuruh dirinya datang ke rumah untuk mengambil perabotan rumah itu. Jika ditotalkannya perabotan rumah itu senilai Rp50 juta. 
Sedangkan hutang “pelicin” penerimaan CPNS, dikatakan Ratih, saat itu Eva masih menjabat Anggota DPRD Empat Lawang dan menawarkan kepadanya masuk CPNS. Lalu Ratih mengajak kerabatnya empat orang untuk masuk CPNS melalui Eva dan uang Rp400 juta diserahkan kepada Eva dengan bukti kwitansi. 

Sedangkan mobil Honda Mobilio milik Salman, kata Ratih, memang diserahkannya kepadanya untuk angsuran hutang Eva. Salman sendiri yang mengantarkan ke rumahnya. 
“Salman itu adik suami Eva, menyerahkan mobil untuk angsuran hutan senilai Rp200 juta. Total angurannya semuanya termasuk perabotan rumah dan mobil itu Rp250 juta,” katanya. 

Tersangka Ratih selanjutnya akan berancana melapor balik terhadap Eva. Melaporkan penipuan penerimaan CPNS dan mencemarkan nama baik karena melakukan penipuan dengan cara hipnotis. “Saya akan melapor balik. Penerimaan CPNS tahun 2013 akan saya laporkan semua. Jika saya memang salah, saya siap dihukum sesuai aturan yang berlaku,” cetusnya.

Untuk diketahui Ratih Kinasih binti Solah (25) ditangkap Minggu (20/6) sekitar pukul 14.00 di kediamannya di Kelurahan Kelumpang Jaya, Kecamatan Tebing Tinggi. Tersangka ditangkap atas pengaduan korban Eva dan Salman. Pertama kasus transaksi peralatan rumah tangga dengan pembayaran slip penyetoran bank yang diduga aspal (asli atau palsu).
Lalu kasus kedua, kasus penipuan transaksi mobil Honda Mobilio dengan modus sama menggunakan slip penyetoran aspal di salah satu bank.

“Kasus ini masih dalam pengembangan penyelidikan pihak kami. Hingga saat ini baru ada dua kasus. Kalau ada korban lainnya diharapkan segera melapor ke Polres Empat Lawang,” ujar Kapolres Empat Lawang AKBP Rantau Isnur Eka melalui Kasat Reskrim AKP Nanang Supriatna.

Dijelaskannya, korban Salman mengalami kerugian satu unit mobil miliknya, yakni Honda Mobilio bernopol BG 1761 IC warna abu-abu silver yang ditaksi sekitar sekitar Rp200 juta. Saat itu tersangka hendak membeli mobilnya dan sudah disepakati harga jualnya Rp200 juta.
 
Untuk pembayarannya dia minta melalui transfer via rekening, lalu slip pengirimannya yang diberikan kepadanya ternyata slip kosong, tidak ada validasinya. Sedangkan korban Eva dalam kurun waktu sekitar dua tahun, ia telah tertipu dengan tersangka dan mengalami kerugian yang ditaksir Rp2 Miliar. Berupa uang tunai maupun barang. 

Teks: Saukani

Editor: Imron Supriyadi

 

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster