Jalan Banyak Rusak, Warga Pendopo Keluhkan Aktivitas Galian C

 184 total views,  2 views today

EMPAT LAWANG | Aktifitas perusahaan pertambangan galian golongan C (batu pasir, red) di Kabupaten Empat Lawang makin menjamur. Namun ironis, sebagian besar pengerukan material sungai musi tersebut, tidak memiliki izin resmi dan pengawasan pemkab Empat Lawang.

Pantauan Kabar Sumatera dilapangan, setiap hari puluhan truk pengakut material galian C, lalu lalang di jalinsumteng, jalan provinsi dan akses kabupaten Empat Lawang. Seperti armada truk galian C melintasi Jalan Provinsi Tebing Tinggi – Pendopo, sudah beberapa bulan ini dikeluhkan warga. Sebab, selain berpotensi merusak badan jalan karena muatan melebihi kapasitas tonase, konvoi truk dijalan sempit bisa membahayakan pengendara lain.

“Jalan banyak rusak, PAD tak dapat.  Siapa sih yang kasih izin, harusnya ada pertimbangan untung rugi aktifitas galian C,” cetus Iskandar (45) warga Pendopo, kemarin.

Informasi lain menyebutkan, sebelum membawa muatan yang berupa material galian C melintasi jalan provinsi Tebing Tinggi – Pendopo, setidaknya puluhan truk yang membawa material galian C dari penambangan galian C (qwari) di sekitaran jalan lingkar Kota Tebing Tinggi, tepatnya di depan lapangan bakal terminal type B, truk yang membawa material galian C membuang air yang terbawa oleh material dari Kuwari di jalan tersebut dengan cara memiringkan bak truk sehingga menyebabkan jalan lingkar di kawasan itu terlihat kotor.

“Saat ini saja jalan provinsi banyak hancur, tetapi belum juga diperbaiki. Saya kira pemasukan PAD tak sebanding dengan kerusakan lingkungan dan jalan yang dihancurkan truk galian C,”cetus warga lainnya.

Sementara itu Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Empat Lawang, H Choiri Badri mengatakan, pihaknya akan segera memanggil pihak perusahaan angkutan yang membawa material galian C yang melintas di Jalan Provinsi Tebing Tinggi – Pendopo terkait aktivitas angkutan material galian C tersebut yang sudah mulai meresahkan warga. “Nanti kita panggil, kita upayakan solusinya,” kata Choiri Badri.

Secara non formal kata Choiri, ia telah bertanya dan menyampaikan keluhan sejumlah masyarakat kepada pihak perusahanaan pengelola angkutan itu atas aktivitas angkutan yang telah meresahkan tersebut dan berdasarkan pengakuan pihak perusahaan, jika yang diangkut bukanlah material galian C melainkan aspal beton capuran panas (hotmix) yang dibawa ke proyek pembangunan jalan di Kecamatan Ulu Musi yang saat ini sedang berlangsung.

“Karena hotmix yang dipakai harus sesuai spesifikasi sedangkan yang cocok dipakai untuk proyek jalan itu AMP (Asphalt Mixing Plant)nya ada di Tebing Tinggi, makanya hotmix diangkut dari Tebing Tinggi,” jelasnya menambahkan, kalau pengakuan perusahaan itu cuma ada belasan truk pengangkut. Nanti akan dikroscek lagi kebenarannya.

 

Teks      : Saukani

Editor   : Muhammad MG





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster