Pendidikan Kita, Dimana Moralmu?

 230 total views,  2 views today

Tampak guru mengajar siswa. Foto : Google Image

Tampak guru mengajar siswa. Foto : Google Image

PALEMBANG, KS – Moralitas pendidikan menjadi hal utama yang mesti dikedepankan. Hal itu dikatakan pengamat pendidikan Universitas Siriwiajaya, Prof Dr Slamet Widodo dalam satu kesempatan. Hal ini dikatakan Slamet menilik perhatian pemerintah terhadap upaya maksimalisasi moralitas pendidikan, masih terasa sangat minim. Gambaran ini tercermin dari beragamnya masalah pendidikan yang makin rumit, termasuk banyaknya bocornya kunci jawaban di sejumlah sekolah di setiap pelaksaan UN.

Fenomena ini, menurut Slamet, moralitas tidak terbangun di dunia pendidikan. Akibatnya kualitas siswa menjadi rendah, pengajar kurang profesional. Dampak dari iklim pendidikan yang demikian ini, jika dibiarkan, menurut Slamet pendidikan negeri kita ke depannya akan makin terpuruk. “Keterpurukan ini dapat juga akibat dari kecilnya rata-rata alokasi anggaran pendidikan baik di tingkat nasional, propinsi, maupun kota dan kabupaten,” ujarnya, belum lama ini.

Slamet menyebutkan,  jika menilik masa kampanye pemilu 2014, pendidikan menjadi salah satu tema paling digemari para calon presiden dalam orasi politik. “Sayangnya, mereka tidak menyentuh problem mendasar pendidikan, bahkan pemahaman mereka atas isu pendidikan terkesan kurang mendalam. Mereka terjebak jargon-jargon populis dan retorika politik tanpa substansi,” ujarnya.

Padahal, seyogianya mereka mendiskusikan isu-isu mutakhir yang lebih fundamental. “Banyak isu kritis yang patut menjadi tema kajian. Jangan hanya memikirkan efisiensi anggaran saja atau pemerataan akses, tapi kepribadian dan akhlak adalah hal utama pendidikan yang sangat penting untuk ditingkatkan di dunia pendidikan,” ujarnya.

Oleh sebab itu, Slamet mengharapkan, pendidikan yang berkarakter harus lebih ditekankan bukan pendidikan yang berorientasi kepada angka-angka semata.  “Ada sebuah kata bijak mengatakan, ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh. Sama juga artinya bahwa pendidikan kognitif tanpa pendidikan karakter adalah buta. Hasilnya, karena buta tidak bisa berjalan, berjalan pun dengan asal nabrak. Kalaupun berjalan dengan menggunakan tongkat tetap akan berjalan dengan lambat. Sebaliknya, pengetahuan karakter tanpa pengetahuan kognitif, maka akan lumpuh sehingga mudah disetir, dimanfaatkan dan dikendalikan orang lain. Untuk itu, penting artinya untuk tidak mengabaikan pendidikan karakter anak didik,” ujarnya.

Lebih lanjut, menurut Slamet guru sangat memiliki peran dalam dunia pendidikan. Ruh pendidikan sesungguhnya terletak di pundak guru. Bahkan, baik buruknya atau berhasil tidaknya pendidikan hakikatnya ada di tangan guru. Sebab, sosok guru memiliki peranan yang strategis dalam ”mengukir” peserta didik menjadi pandai, cerdas, terampil, bermoral dan berpengetahuan luas sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

Sebagaimana diketahui bahwa problematika pendidikan di Indonesia sangat suram. Beberapa kejadian-kejadian yang memilukan. Diantaranya, oknum guru melakukan pelecehan seksual, sekolah yang runtuh, perkelahian siswa, korupsi merajalela di dunia pendidikan, pemungutan liar oleh oknum sekolah dan lain sebagainya. “Hal inilah yang sangat menyedihkan dan sesegera munglin perlu dibenahi,” tegasnya.**

 

TEKS : IMRON SUPRIYADI

EDITOR : S HIDAYAH

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster