Ibu Terpidana Mati Asal Palembang Takut Anaknya Ditembak Mati

 284 total views,  2 views today

ilustrasi | Ist

ilustrasi | Ist

PALEMBANG – Hania (50), ibunda dari terpidana mati Abdullah Rusik (32), berharap anak sulungnya tersebut tidak dihukum mati. Alasanya, selain Rusik mengidap kelainan jiwa dan anak juga dianggap pahlawan oleh warga sekitarnya, karena Iskandar yang dibunuhnya, sering membuat warga di sana tidak nyaman dengan statusnya kepremanannya.

“Anak saya itu mengidap penyakit jiwa dan saya tahu orang sakit jiwa tidak bisa di penjara atau dieksekusi mati. Sebab itu, meski sampai tingkat kasasi, anak saya hukumannya hukum mati. Saya optimis hukuman itu akan berubah,” tutur warga Desa Binti Ale Batanghari Leko, Kabupaten Musi Banyu Asin (Mubay ini, Rabu (25/2).

Setelah menyaksikan pemberitaan menjelang eksekusi mati di televisi, Hania sangat berharap, anaknya bukan salah satu terpidana yang akan ditembak mati. Untuk itu, setiap kali ada tayangan tentang berita tersebut, Hania menjauh dari televisi menghindari melihat dan mendengarkan pemberitaan tersebut.

Dikatakan Hania, sesaat usai menghabisi nyawa Iskandar, anaknya justru dianggap sebagai pahlawan oleh warga di sekitar kediaman Hania. Rupanya, menurut keterangan Hania, Iskandar sering membuat warga di sana tidak nyaman dengan mengambil paksa kayu-kayu milik warga untuk ia jual kembali.

Warga tak berani berbuat, karena Iskandar tergolong preman dan kenalan dari orang terkaya di Palembang. Ini yang membuat warga di sana hanya bisa diam saja, melihat kayu-kayu mereka diambil Iskandar.

Alasan pencurian kayu inilah, ungkap Hania, yang mendasari Rusik menghabisi nyawa Iskandar. Terlebih, penyakit kejiwaan Rusik yang saat itu baru saja dialaminya dan dua teman Rusik juga bersedia membantu menghabisi nyawa Iskandar.

Akhirnya, peristiwa tragis itu terjadi dimana Iskandar tewas dengan kepala terpisah dari tubuhnya. Selain itu, belasan luka tusuk terdapat di sekujur tubuh Iskandar.

Hania melanjutkan, usai peristiwa tersebut, Rusik pulang dengan tangan berlumuran darah. Ia juga membawa karung yang isinya tak lain adalah kepala Iskandar. Saat itu, Hania melihat Rusik hanya diam saja dan tidak berbicara apa pun.

Mengingat emosi anaknya yang sering meledak, Hania enggan bertanya apa-apa saat itu.

“Tak lama, polisi datang dan menangkap anak saya tanpa mendapat perlawanan dari anak saya. Sejak saat itu, banyak tetangga saya yang mengucapkan terima kasih karena Rusik sudah menghabisi nyawa seorang preman,” katanya.

Masih menurut Hania, sejak anaknya berada di Lapas Merah Mata Palembang, ia cukup kesulitan membesuk Rusik. Dalam periode tiga bulan, ia hanya bisa melihat fisik anaknya di lapas.

Ini terjadi karena Hania tidak punya banyak uang untuk sering-sering membesuk Rusik. Di luar membesuk, Hania hanya bisa mempertanyakan kabar anaknya melalui pengacara Rusik.

Disinggung tentang sebab penyakit kejiwaan yang diderita Rusik, Hania menjelaskan, dikarenakan Rusik sering menanggung beban seorang diri. Setiap kali ada masalah Rusik tidak pernah mencurahkanya kepada orang lain. Menurut Harnia, Rusik hanya mau bercerita dengan adik iparnya.

Sayangnya, adik iparnya itu meninggal dunia di usia muda, sehingga kondisi mental Rusik kian turun. Akhirnya, Rusik menderita sakit jiwa dan pernah menjalani rawat inap di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Ernaldi Bahar Palembang.

“Saya hanya berharap pelaku-pelaku hukum yang ada di negeri ini membuka matanya lebar-lebar akan nasib anak saya. Kalau memang orang gangguan jiwa tidak bisa dihukum, ya tolong jalankan aturan itu. Jangan mentang-mentang kami tidak punya uang, aturan tersebut dihilangkan begitu saja karena kepentingan individu,” kata Hania.

 

Teks     ; Oscar Ryzal

Editor   : FJ Adjong





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster