Tenaga Listrik Rumahan Dari Sampah

 388 total views,  2 views today

Ilustrasi Sampah | Dok KS

Ilustrasi Sampah | Dok KS

Palembang – Sampai saat ini, kesadaran masyarakat Palembang akan kebersihan lingkungan dinilai masih rendah. Awalnya, biasanya kondisi terjadinya tumpukan sampah ilegal dimulai dari satu dua bungkusan sampah terlebih dahulu yang dilakukan oleh masyarakat yang tidak bertanggung jawab. Lama kelamaan terus bertambah, hingga menjadi bertumpuk dan menggunung. Kenyataan ini bisa ditemukan di Jalan Lebak jaya, Kalidoni. Juga tidak jauh dari kota Palembang, di sepanjang jalan Talang Keramat, Banyuasin, pemandangan kotor ini dapat disaksikan oleh setiap pengguna jalan.

Salah satu pegawai Dinas Kebersihan Kota, Saparudin, SH di lokasi TPA Sukawinatan kepada Kabar Sumatera(25/2) menyayangkan sikap masyarakat ini.

“Sebenarnya sudah ada tempat-tempat sampah yang kita sediakan, tapi penyakit masyarakat masih banyak membuang sampah di sembarangan tempat,” ujar Saparudin.

Padahal, sementara seperti informasi Alex, salah satu staf pegawai TPA Sukawinatan, sudah ada beberapa banyak armada pengangkut sampah yang bisa dioperasikan.

“TPA Sukawinatan sudah ada seratus armada atau mobil penggangkut sampah yang beroprasi setiap harinya. Bahkan ada juga dari kecamatan yang berbentuk ‘Kaisar’ , dan ‘Kaisar’ itu sendiri ada yang di kelola oleh pihak swasta. Ada empat belas kecamatan yang pembungan sampahnya ke TPA Sukawinatan , termasuk kecamatan Sematang Borang dan Sako. Dalam satu hari masuknya sampah ke TPA itu bisa mencapai lebih dari 600 ton per-harinya, bahkan bisa lebih dari itu,” ujarnya.

Bagi Maisa, warga yang tinggal di sekitar TPA Sukawinatan, kehadiran TPA Sukawinatan bukanlah suatu masalah.

“Sudah menjadi sumber mata pencarian. Di tempat ini tidak ada yang merasa terganggu dengan baunya sampah. Aku megupulkan plastik dan besi-besi yang tidak terpakai. Aku makan dari sinilah. Dalam sehari aku mendapatkan uang. Kadang lebih dari lima puluh ribu,” katanya.

Dari kisahnya, sebelum tinggal di TPA Sukawinatan, Maisya tadinya tinggal di Baturaja. Lantas merantau ke Palembang dan mulailah ia tinggal di daerah Kertapati.

“karena disana pemasukan saya kurang, akhirnya sejak saya pindah ke Sukawinatan Alhamdulilah, saya bisa membantu perkerjaan suami saya,” terangnya.

Tentang TPA Sukawinatan yang sebelumnya menyisakan bau busuk, sejak dibuatnya Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTS) menjadi berkurang.

Manajer Projek PT Pasasanan Engineering indonesia, Musanap mengatakan, “Sekarang di TPA Sukawinatan sudah ada PLTS. Itu hibah dari pemerintah pusat Jakarta anggaran tahun 2004, untuk membuat pengolahan sampah menjadi listrik. Kemudian kerjasama dengan PLN. PLN itu sendiri membayar dengan pemkot. Sekarang sudah masa uji coba sampai dengan akhir tahun. Selajutnya nanti di serahkan ke pemkot,” tukasnya.

Menyusul saat ini, sekitar 120 kepala keluarga yang bermukim di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sukawinatan, Palembang, Sumatra Selatan, telah menikmati aliran listrik dari pengolahan sampah menjadi gas metan tersebut.
Teks  : Siti Hawa

Editor         : Mustaqiem Eska





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster