Pemalak Liar Kembali Marak di Prabumulih

 340 total views,  2 views today

Seorang pemalak sedang meminta uang kepada supir truck  batubara dijalan sudirman Prabumulih. | Dok KS

Seorang pemalak sedang meminta uang kepada supir truck batubara dijalan sudirman Prabumulih. | Dok KS

PRABUMULIH – Sekelompok orang mengutip setiap truk angkutan batubara yang melewati Prabumulih, yang besarannya tidak ditentukan. Tindakan sekelompok orang yang memalak truk angkutan tersebut menjadi resah dan serba salah.

Keberatannya para sopir terhadap aksi pemalakan yang setiap kali lewat jalan tersebut, dinilai cukup merugikan para sopir. Dan repotnya, jika para sopir tidak memberikan uang kepada pemalak, maka mobilnya akan dirusak dengan dilempar kacanya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, para sopir berharap peran dari aparat penegak hukum, karena selama ini pihak keamanan selalu membiarkan hal ini terjadi dan tidak mengambil tindakan atas kelakuan para pemalak tersebut.

Akibatnya para supir angkutan batubara menjadi pasrah dan prinsipnya lebih baik mengamankan angkutan sendiri dengan membayar sejumlah uang dari pada mobil angkutannya dirusak.

Berdasarkan pengamatan Kabar Sumatera di lapangan bahwa sebenarnya para supir angkutan batubara sangat senang dengan adanya angkutan batubara yang diangkut ke Palembang melalui darat.

Tapi dengan adanya pemalakan yang setiap memungut uang setiap truk yang lewat, membuat para sopir menjadi tidak nyaman.

dari para sopir, karena besarnya biaya jalan angkutan batubara tidak mencukupi untuk dibawa kepada keluarga karena banyaknya pemalakan selama diperjalanan, seperti salah seorang supir angkutan batubara yang melewati Jalan Sudirman di kota Prabumulih mengatakan bahwa

“Tidak bisa berbuat banyak karena kalau tidak memberikan uang, truk kami akan dirusak dan yang lebih parah kaca mobil dilempar pakai batu. Itu akan merugikan kami. Tidak hanya terjadi di Prabumulih, hampir semua jalan yang kami lewati mulai dari Lahat hingga Palembang, kami dipajaki,” kata Ahmad, salah seorang sopir truk angkutan batubara yang ditemui Kabar Sumatera kemarin.

Diceritakan, sedangkan uang jalan yang diberikan oleh perusahaan tempatnya bekerja tentunya tidak akan mencukupi untuk dibawa pulang ke rumah. Uang jalan itu hanya cukup untuk makan anak isteri serta untuk sekolah anak-anak.

Sementara Muslimin, sebenarnya ia tidak ingin terlampau banyak pungutan di jalanan. Kalau terlalu banyak tempat pungutan, tentu besar pula uang yang harus dikeluarkan untuk itu.

“Kami harapkan ketegasan para aparat penegak hukum untuk menindak mereka. Jangan seolah-olah mendiamkan perbuatan para pemalak yang sering meminta uang kepada kami para supir angkutan batubara,” katanya.

 

TEKS       : IRSAN MATONDANG

EDITOR   : FJ ADJONG





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster