Terdakwa Vonis Mati Asal Palembang Minta Ampunan Presiden

 212 total views,  4 views today

Ilustrasi | Ist

Ilustrasi | Ist

PALEMBANG – Setelah upaya banding yang diajukan ke Pengadilan Tinggi (PT) Palembang gagal, Abdullah Rusik (32) pelaku pembunuhan sadis pemenggalan kepala terhadap Iskandar (30), hanya tinggal pasrah. Ia cuma berharap ampunan dan kebaikan Joko Widodo, Presiden RI untuk memberinya grasi.

Dijelaskan Wisnu Oemar, penasehat hukum Rusik, tahap grasi (permintaan maaf dari presiden) akan dilakukan jika Peninjauan Kembali (PK) yang dalam waktu dekat akan diajukan ditolak pihak pengadilan.

Meski demikan, Wisnu berharap, PK yang nantinya akan ia lakukan bisa diterima pihak pengadilan sehingga harapan klienya untuk tidak dihukum mati bisa dikabulkan.

Dijelaskan Wisnu, ia sudah menerima salinan putusan dari MA untuk klienya. Menurutnya, putusan MA sangat tidak manusiawi karena Rusik menderita penyakit gangguan jiwa.

Kata Wisnu, siapa pun masyarakat yang mengidap penyakit gangguan kejiwaan, harus dibebaskan demi hukum karena yang bersangkutan harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa.

Terhadap putusan mati yang dikeluarkan MA, beber Wisnu, isteri dan keluarga Rusik yang tinggal di Desa Binti Ale Batanghari Leko Muba, saat ini benar-benar terguncang. Mereka terus terbayang-bayang bagaimana nantinya kalau Rusik benar-benar dieksekusi mati. Untuk itu, sebagai penasehat hukumnya, Wisnu akan sekuat tenaga memperjuangkan hak dan azasi klienya.

“Saya berencana, jika PK saya ditolak, saya akan mengajak Komnas HAM untuk membahas vonis mati yang diterima klien saya. Harapan saya, dengan mengajak Komnas HAM, presiden bisa mengerti kondisi kesehatan klien saya sehingga tidak diberikan vonis mati,” kata Wisnu, Selasa (24/2).

Dibeberkan Wisnu, Rusik ditangkap setelah menghabisi nyawa petugas keamanan salah satu perusahaan yang ada di Muba bernama Iskandar 2012 silam. Rusik melakukan ini bersama dua rekannya, yang di Pengadilan Negeri Sekayu tidak divonis hukuman mati.

Cara Rusik bersama dua temanya dalam menghabisi nyawa Iskandar cukup keji hingga kepala Iskandar dikabarkan terpisah dengan tubuhnya. Selain itu, belasan luka tusuk terdapat di sekujur tubuh Iskandar.

Setelah divonis hukuman mati di PN Sekayu, lanjut Wisnu, Rusik mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Palembang. Sayangnya, keputusan PT Palembang menguatkan vonis di PN Sekayu sehingga hukuman Rusik masih tetap hukuman mati.

Begitu juga dengan tahap kasasi dimana MA menguatkan keputusan PT Palembang. Sampai saat ini, Rusik masih mendekam di Lapas Merah Mata Palembang.

“Ini benar-benar tidak adil. Di saat dua rekan Rusik dipenjara belasan tahun, Rusik malah dihukum mati. Apalagi, saat kejadian, Rusik sudah mengidap penyakit gangguan kejiwaan,” kata Wisnu.

 

TEKS       : OSZAR RYZAL

EDITOR   : FJ ADJONG





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster