Pedagang Bakso di Lubuk Linggau Tuntut Pemulihan Nama Baik

 563 total views,  2 views today

Lubuklinggau – HASIL tes laboratorium yang dilakukan Dinas Kesehatan Lubuklinggau beberapa waktu lalu terhadap sejumlah warung bakso di Lubuklinggau, menurunkan pendapatan pedagang bakso. Paling tidak, bagi warung bakso Lek Sukir, Lek Endut, Terbayang-Bayang II, dan Charles, dijauhi konsumen. Ya, karena mereka tidak menggunakan bahan berbahaya, menimbulkan reaksi keras para pedagang bakso lainya bersama aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).

Persoalan penelitian yang menyebutkan pedagang tersebut menggunakan bahan berbahaya, oleh para pedagang dan GMNI diseret ke gedung wakil rakyat. Mengingat ini menyangkut masalah pendapatan dan “tudingan” yang merugikan pedagang bakso, suasananya memanas.

Bahkan, sebelum melakukan dialog dengan Komisi II DPRD Lubuklinggau dengan tim terpadu Dinas Kesehatan Lubuklinggau, massa mendatangi Kantor Dinas Kesehatan melakukan aksi menyampaikan aspirasi para pedagang bakso.

Dialog di ruang Badan Anggaran (Banggar) DPRD Lubuklinggau yang dipimpin Komisi II, sempat memanas setelah politisi Partai Gerindra, Murdianto, dinilai menjustice pedagang menggunakan bahan berbahaya.

Karena yang menyampaikan bapak/ibu menyetujui musyawarah, ke depanya tidak mengulangi lagi. Apabila terjadi lagi, maka DPRD tidak bisa bicara lagi.

Pernyataan tersebut langsung dijawab pedas pedagang. Alasannya, kata mereka, jangan diulangi lagi, itu bisa diartikan bahwa sebelumnya pedagang mencampurkan bahan berbahaya.

“Kata-kata jangan diulangi lagi seolah-olah kami memakainya selama ini. Padahal, kami tidak menggunakan itu,” cetus salah seorang pedagang dan disambut keriuhan pedagang lain.

Puluhan pedagang bakso yang hadir dalam dialog tersebut secara kompak menuntut pemulihan citra dan nama baik pedagang bakso yang sudah tercemar karena adanya ulah oknum tidak bertanggungjawab menggunakan bahan berbahaya.

Mereka juga bersumpah, kalau mereka tidak mencampuri bakso dengan bahan berbahaya seperti boraks dan formalin ataupun SSTP yang berlebihan.

Puluhan pedagang ini juga berani bersumpah kalau mereka tidak mencampurkan bahan-bahan berbahaya tersebut ke bakso yang mereka jual, dan mereka mempertanyakan hasil tes labaoratorium tim terpadu.

Suwarno, pemilik warung bakso SBY, di Kelurahan Air Temam, Kecamatan Lubuklinggau Selatan I, merasa jika dia bersama pedagang lainnya menjadi korban dan imbas dari pedagang yang tidak bertanggung jawab yang menggunakan bahan berbahaya baik boraks maupun formalin serta bahan berbahaya lainya.

Dia mewakili pedagang lainya meminta pengembalian nama baik pedagang bakso yang sekarang sudah tercemar, sehingga usaha mereka ditinggal pembeli.

“Kami adalah imbas pak. Demi Tuhan langit dan bumi saksinya kami tidak mencampuri hal-hal itu. Anak saya, istri dan tetangga saya makan bakso, jadi untuk apa meracuni, kalau mau bunuh diri terjun saja ke air terjun Temam. Jadi tolong kembalikan citra nama baik pedagang bakso,” kata Suwarno.

Sementara itu, Edi, pemilik penggilingan daging Solo Abadi grup, juga memohon usahanya diteliti dan dicek, dan kalau ada hal-hal yang tidak diperbolehkan, dia meminta agar usahanya tersebut ditutup.

Kemudian, anggota komisi II, Sutrisno Amin, juga sempat meragukan alat tes yang digunakan Dinas Kesehatan Lubuklinggau, apakah sesuai standar atau tidak.

Sanggahan-sanggahan dalam dialog ini, dijawab Kepala Dinas Kesehatan Lubuklinggau. Terkait pedagang bakso yang mengaku tidak tahu mengenai boraks dan formalin, Dinas Kesehatan juga meragukan akan hal tersebut.

“Sebelum kalian mengajukan izin tentu sudah diberikan penyuluhan mengenai keamanan pangan. Jadi saya heran kalau bapak atau ibu tidak tahu mengenai boraks, jangan-jangan belum ada izin,” kata Dr Nawawi Kadinkes Lubuklinggau.

Selanjutnya, kata dia, kadang kadala, di masyarakat boraks lebih dikenal dengan nama fijer, bleng yang berbentuk serbuk putih, tidak berbau dan tidak terasa dan mudah larut dalam air sama seperti tepung, nah di dalam makanan bahan-bahan tersebut harus nol persen.

“Efek sampingnya jika bahan ini masuk kedalam perut akan menjadi pencentus kanker, kemudian Formalin, ada bentuk larutan dan serbuk, yang digunakan untuk pengawet mayat dan perusahaan kertas,” tambahnya.

Mengenai SSTP dijelaskanya merupakan bahan pengenyal dan pengawet yang diperbolehkan, namun ada batasanya yakni dipakai 1 gram per satu kilo bahan, jika melebihi maka menjadi pelanggaran.

“Ke depan kita akan cek bakso yang megandung babi, tikus, monyet dan lain sebagainya. Hari ini para pedagang sudah membuat penyataan, supaya mereka tidak ditinggalkan lagi oleh pelangganya,” tegasnya.

 

TEKS         : Sri PRADEZ

EDITOR     : FJ ADJONG





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster