Industri Rotan Kian Mekar

 625 total views,  2 views today

IKM Pengrajin Rotan | Dok KS

Ilustrasi Pengrajin Rotan | Dok KS

PALEMBANG – Gairah permintaan pasar terhadap industri berbahan rotan seperti, mebel dan peralatan rumah tangga di Palembang dalam sebulan terakhir mengalami peningkatan hingga 25 persen. Meningkatnya permintaan pasar disebabkan karena mebel berbahan rotan diprediksi lebih awet dan modelnya yang terkesan tak pernah usang.

Memasuki pekan terakhir Februari 2015, diakui Ujang salah seorang perajin mebel di Kawasan 3 Ilir Palembang, bila saat ini rata-rata ia mampu menjual lima set mebel rotan per minggu, padahal sebelumnya hanya satu atau dua set saja.

“Meningkatnya permintaan pasar terhadap kebutuhan mebel rotan, menembus angka 25 persen. Nah, kendala kami saat ini, justru datang dari bahan baku yang mulai langkah dan sulit didapatkan,” kata Ujang.

Kepada Kabar Sumatera, Minggu (22/2) bila selama ini gerai mebelnya hanya memproduksi meja kursi, tempat tidur, dan tirai. Barang-barang itu dipasarkan ke wilayah Palembang dan provinsi lain di luar Sumatera Selatan.

Ujang berkata, harga satu set meja dan kursi tamu berukuran shofe dihargai dengan kisaran angka antara Rp 3,5 juta hingga Rp 5 juta . Sementara harga satu set meja kursi makan berukuran L klasik di patok dengan harga Rp 3,2 juta, dan harga tempat tidur jumbo senilai Rp 3,5 juta.

“Yang paling mahal di gerai mebel ini adalah ornamen setting klasik bermotif cendana untuk sofa tamu. Rata-rata harganya mencapai Rp 6 juta hingga Rp 9 juta persetting. Jujur, kenaikan permintaan pasar saat ini juga meningkatkan omset pendapatan yang berkisar antara Rp 500.000 hingga Rp 700.000 per setel,” ungkapnya.

Kendati kenaikan tersebut disebabkan karena naiknya harga bahan baku, sambung Ujang. Hal itu tidak mengurangi permintaan pasar terhadap kebutuhan mebel berbahan rotan.

“Selama ini, kami mendapatkan bahan baku rotan itu dari Padang dan Bengkulu, harganya pun tergantung besar kecilnya ukuran. Nah, kalau rotan berukuran besar yang semula Rp 17.000 kini menjadi Rp 20.000 per batang. Harga rotan berukuran sedang naik dari Rp 15.500 menjadi Rp 18.000 per batang, harga rotan kecil naik dari Rp 8.000 menjadi Rp 10.000 per batang. Sementara harga tali rotannya sendiri juga naik dari Rp 27.000 menjadi Rp 33.000 per kilogram,” jelas Ujang.

Menyoal hal itu, Syafruddin Zailani, Agen sentra rotan di Kawasan Pasar Kuto Palembang yang dibincangi Koran ini kemarin mengatakan, bila saat ini komoditi rotan asal Bengkulu terancam menurun sejak naiknya harga rotan beberapa waktu terakhir.
“Biasanya dalam satu minggu hasil komoditi rotan terpasok sebanyak 1800 batang atau mampu memenuhi setidaknya 70 perajin dalam sepekan. Jujur, saat ini hasil komoditi rotan asal Bengkulu tidak secerah 2 tahun lalu. Nah, untuk mensiasati kelangkaan rotan ini, kami terpaksa menerima pasokan rotan dari Kalimantan, itu pun tidak rutin, “ ungkapnya.

Ia mengatakan, kenaikan harga rotan dan kelangkaan hasil komuditi rotan saat ini sama sekali tidak mengurangi permintaan pasar terhadap produksi mebel rotan. Khususnya di Palembang.

“Saya berharap kepada pemerintah agar kiranya mencarikan solusi untuk mengatasi ketersediaan bahan baku rotan agar tidak mengalami kelangkaan. Sayangkan, gairah pasarnya sedang bergeliat, kok harus terkendala karena pasokan bahan baku, “ tutupnya.

 

TEKS        : JEMMY SAPUTERA

EDITOR    : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster