Masjid Ki Merogan Perpaduan Budaya Islam

 1,880 total views,  2 views today

Masjid Ki Merogan yang terletak di tepian Sungai Ogan kecamatan Kertapati adalah bangunan masjid yang merupakan perpaduan kebudayaan Islam, Cina, Arab dan India. | Foto ; Bagus Kurniawan

Masjid Ki Merogan yang terletak di tepian Sungai Ogan kecamatan Kertapati adalah bangunan masjid yang merupakan perpaduan kebudayaan Islam, Cina, Arab dan India. | Foto ; Bagus Kurniawan

Dalam sebuah naskah yang tertulis pada tanggal Syawal 1430 H, dalam prasasti masjid Ki Merogan terdapat tulisan “Nuzar Nujal Lillahi Ta’alai” yang menjadi penanda bahwa, mesjid Kiai Merogan pada masa Kesultanan Palembang Darussalam memiliki peran penting dalam berbagai kegiatan keagamaan dan kehidupan sosial masyarakat Palembang. Selain itu, Mesjid ini juga berfungsi sebagai perpaduan budaya Islam pada zamannya.

Palembang – Cerita Mulyadi, pemerhati budaya Tionghoa di Palembang yang dibincangi Kabar Sumatera, Kamis (19/2) mengatakan jika Masjid Ki Merogan yang terletak di tepian Sungai Ogan kecamatan Kertapati adalah bangunan masjid yang merupakan perpaduan kebudayaan Islam, Cina, Arab dan India. Oleh sebab itu, tidaklah heran jika bangunan arsitektur dari masjid Ki Merogan agak sedikit mirip dengan masjid Agung Palembang.

Masjid Kiai Merogan ini, sambung dia merupakan masjid kedua yang dibangun di Palembang setelah masjid Agung, berdasarkan catatan sejarah Palembang. Masjid Kiai Merogan didirikan oleh seorang ulama bernama Ki Mgs. H. Abdul Hamid bin Mgs. H. Mahmud atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ki Merogan pada tahun 1310 H atau 1890 M.

“Dahulu banyak warga keturunan Tionghoa yang beragama Islam dan berguru kepada beliau. Masjid Ki Merogan selain berfungsi sebagai tempat menimbah ilmu agama juga berfungsi sebagai tempat kehidupan sosial masyarakat. Pernah dahulu, warga Tionghoa yang tidak memiliki tempat menginap setelah melakukan perdagangan dengan membawa hasil sutera dari Cina berisitirahat dan singgah ke Masjid Ki Merogan. Dan disana, mereka diterima baik oleh masyarakat sekitar layaknya saudara, sehingga mereka merasa nyaman seperti berada di tengah keluarga sendiri, “ ungkapnya.

Berdirinya Masjid ini sejak 1890 M hingga sekarang, dapat dikatakan sebagai situs sejarah dimana Masjid ini merupakan saksi hidup perjalanan Kesultanan Palembang Darussalam berikut kebudayaan yang mempengaruhinya. Ki Merogan selain sebagai pedagang yang sukses, beliau juga alim ulama yang senantiasa mengajarkan zikir kepada pengikutnya dengan cara yang cukup unik.

Berdasarkan bahasa tutur dari masyarakat, konon katanya apabila Ki Merogan akan pergi dan pulang dari aktivitas sehari- harinya, beliau dalam mengayuh perahu bersama pengikutnya bersama-sama menyenandungkan zikir secara berulang-ulang. Karena itulah penduduk sekitar tahu kalau Ki Merogan sedang lewat. Dan sejak itu pula beliau dikenal dengan nama Ki Merogan. Yang artinya, ulama berzikir melintasi Sungai Ogan.

Semasa hidupnya, sambung Mulyadi Ki Merogan tidak hanya membangun satu masjid. Kesungguhan Ki Merogan untuk mensyiarkan agama Allah SWT, juga ia buktikan dengan membangun Masjid Lawang Kidul yang berada di tepi Sungai Musi, di daerah Seberang Ilir, Kelurahan 5 ilir. Selain itu, Ki Merogan juga mendirikan masjid di Desa Pedu, Pemulutan, Ogan Ilir (OI) dan masjid di Desa Ulak Kerbau Lama, Pegagan Ilir, Ogan Komering Iilr (OKI).

Banyak dari catatan sejarah mengenai Ki Merogan yang hilang akibat kebakaran pada tahun 1964, sehingga banyak dari peninggalan karya tulis Ki Merogan yang turut serta. Namun satu hal yang dapat kita pelajari dari kepribadian Ki Merogan adalah, cinta kasihnya kepada umat dan negrinya.

“Pernah suatu hari , beliau belajar ke Saudi Arabia untuk menimba ilmu agama. Namun, selama berada di negeri orang, beliau senantiasa terbayang dan teringat pada dua masjid yang berdiri di negerinya untuk mensyiarkan agama, yaitu masjid Kiai Merogan dan Masjid Lawang Kidul yang berada diantara tepian Sungai Ogan dan Sungai Musi,” ungkap Mulyadi.

Ia akhirnya meninggal pada 31 Oktober 1901 dan dimakamkan di sekitar Masjid Kiai Merogan. Sebab itu, banyak masyarakat yang berziarah ke makam beliau, karena Ki Merogan dianggap ulama besar yang mampu menyatukan berbagai budaya Islam, salah satunya Tionghoa.

 

 

TEKS          : JEMMY SAPUTERA

EDITOR      : RINALDI SYAHRIL

 

 

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster