Harapan Warga Tionghoa di Tahun Kambing

 368 total views,  2 views today

Seorang Warga Sedang Ber Sembahyang di Klenteng. | Dok KS

Seorang Warga Sedang Ber Sembahyang di Klenteng. | Dok KS

PALEMBANG – Di tahun Baru Imlek bertepatan tahun Kambing Kayu, seluruh umat Tionghoa memiliki pengharapan yang sama yaitu tenteram, damai, jauh dari musibah, dan mendapat rejeki berlimpah. Sebagian besar harapan ini sama dengan tahun-tahun sebelumnya.

Kamis (19/2), saat Imlek berlangsung di Klenteng Dewi Kwan Im di kawasan 10 Ulu nampak ramai dikunjungi warga Tionghoa. Tak hanya pada siang dan malam hari Imlek pun sudah banyak sekali warga Tionghoa silih berganti bersembahyang serta menggelar ritual-ritual Imlek lainnya.

“Kalau menurut Zaman nenek moyang dulu ramainya Imlek dan orang sembahyang bisa sampai Cap Gome, tapi kalau sekarang ini paling sampai tiga atau empat hari kedepan. Tapi, tidak seramai pas hari H. Di malam Imlek itu sendiri, umat Tionghoa banyak sekali yang datang sembahyang. Hari ini pun masih banyak yang datang,” ujar Budi Kariyawan Klenteng Kwan Im, Kamis (19/2).

Untuk ritualnya sendiri, banyak perlengkapan-perlengkapan sembahyang yang digunakan seperti Garu dan juga membakar kertas yang biasanya disebut Kim Cua untuk kertas yang tengahnya berwarna keemasan dan juga Gin Cua untuk kertas yang tengahnya berwarna keperakan. Ritual semacam ini memang sudah dilakukan sejak zaman dahulu.

Dari pantauan Kabar Sumatera sendiri, terlihat dengan adanya warga Tionghoa yang selalu memasukkan beberapa lembar uang kedalam kotak yang telah tersedia di dalam Klenteng, yang memang tujuannya untuk sebuah kebersaaman.

“Sebenarnya dengan bakar kertas atau membakar Dupa (Hio) itu hanya untuk pelengkap kita sembahyang, agar kita bisa lebih khusuk beribadah, untuk uang yang warga Tionghoa berikan di dalam Klenteng itu tujuannya memang untuk umat, bisa dibilang mereka bagi-bagi rezki, seperti Zakata Fitrah, tidak hanya untuk memperbaiki tempat ibadah, tapi juga untuk semacam pelebaran jalan, untuk tempat parkir, dan di samping itu juga sudah kita beli tanahnya dan kita jadikan tempat parkir, yang intinya memang untuk umat,” dijelaskannya.

Ada juga semacan ritual melepaskan burung yang makna juga tidak jauh untuk mengharkan kebaikan dan juga lebih untuk meminta umur yang panjang.

“Biasanya dari mereka itu ada yang minta agar selau panjang umur ataupun juga ada sebuah nazar atau pun keinginan,” ujarnya.

Tidak hanya orang-orang Tionghoa yang berada di dalam area Klenteng, sebagian masyarakat pribumi pun ikut mencari sedikit rezeki dengan jualan bermacam-macam bunga yang biasa juga untuk ritual sembahyang, terlihat beberapa ibu-ibu yang sedang menjajakan bunga dengan ramah di pinggiran gerbang Klenteng. Ada juga yang hanya ingin berfoto dengan latar belakang taburan lampion yang semakin membuat indah suasana Klenteng.

“Baru tahun ini coba-coba jualan pada saat Imlek, harga tidak mahal, yang penting bisa untuk tambahan makan saja,” kata Minah, seorang penjual bunga.

 

TEKS       : YUNI DANIATI

EDITOR   : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster