Pemerintah belum memiliki standar keselamatan Transportasi Laut

66 total views, 7 views today

Ilustrasi Speedboat | Dok KS

Ilustrasi Speedboat | Dok KS

PALEMBANG – Pasca terjadinya kecelakaan speedboad di Pulau Rimau, Banyuasin, yang merenggut korban jiwa beberapa hari lalu. Menjadi perhatian serius oleh Gubernur Sumatera Selatan, H Alex Noerdin.

Alex mengakui, saat ini Sumsel belum memiliki standar keselamatan bagi transportasi laut khususnya speedboad berpenumpang yang kerap lalulintas di perairan Sungai Musi

Alex menegaskan, belum adanya regulasi yang mengatur mengenai standar keamanan dan keselamatan bagi transportasi air tersebut, menjadi faktor penyebab timbulnya kecelakaan demi kecelakan yang terjadi.

“Saya sudah instruksikan kepada Dinas Perhubungan, untuk melakukan perubahan terhadap desain speedboat yang mengangkut penumpang tersebut. Intinya, penumpang harus nyaman dan aman. Jangan ada lagi nyawa yang melayang,” tegasnya di Griya Agung, kemarin.

Tak hanya desain, dirinya mendesak Dishub agar membuat standar keselamatan penumpang, yang termasuk didalamnya, keharusan moda transportasi air apapun harus memiliki alat keselamatan yang cukup untuk menanggulangi kecelakaan lalu-lintas air yang tidak diinginkan.

Secara pribadi, Alex mengakui jika dirinya tidak ingin menaiki speedboat berbahan dasar kayu berkecepatan tinggi, karena beresiko tinggi.

“Pinggirannya tertutup. Jalan keluar hanya ada di depan dan belakang. Kalau kecelakaan seperti yang kemarin, bisa jadi peti mati. Ketika kecelakaan terjadi, di dalam air penglihatan terganggu oleh air keruh, dan orang saling tendang karena berebut keluar di pintu keluar yang hanya sedikit,” kata Alex.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Sumsel dalam waktu dekat segera menggodok Peraturan Gubernur (Pergub) terkait standar keselamatan transportasi air. Termasuk, daftar manifest penumpang yang naik speedboat tersebut.

“Kendala kita dalam pencarian, kita tidak mengetahui siapa-siapa saja penumpang. Apalagi pengemudinya tidak mengetahui nama-nama penumpangnya. Maka, wajib diadakannya manifest penumpang dalam di transportasi air apapun. Tulis ini besar-besar,” tegasnya.

Perlu diketahui, manifest penumpang adalah sebuah daftar atau dokumen yang berisikan semua data-data penumpang. Saat ini, manifest penumpang baru lazim ditemukan di maskapai penerbangan, transportasi darat Angkutan Kota Antar Provinsi (AKAP), ataupun agen-agen travel besar. Selain itu, manifest pun berguna untuk melakukan verifikasi klaim asuransi jika terjadi kecelakaan.

Sementara, meski telah terjadi sejumlah kecelakaan maut, minat masyarakat untuk menaiki speedboat masih tetap tinggi. Kondisi ini terlihat di Dermaga Benteng Kuto Besak, tepat di bawah Jembatan Ampera Palembang. Seluruh badan speedboat yang bersandar di dermaga memang terbuat dari kayu dengan ukuran beraneka ragam.

Andi (27), warga Upang, Banyuasin yang sering menggunakan jasa transportasi speedboad tersebut mengaku, kalau dirinya sudah terbiasa menggunakan speedboad untuk membawa barang dagangannya dari Pasar 16 Ilir ke tempat tinggalnya.

Ia menuturkan, apabila pihak pemerintah ingin memperbaiki sistem kenyamanan dan kemanan transportasi ini sangat baik sekali. Dirinya mengaku sangat mendukung hal tersebut, karena apabila sudah baik ini akan menjadi modal bagi penumpang yang ingin memakai angkutan sungai ini.

“Sudah beberapa tahun terakhir ini saya menggunakan speedboad jika ingin ke Palembang. Dalam satu minggu bisa tiga kali pulang-pergi dari Upang ke Palembang. Sebab, menurut kami jalur sungai inilah sebagai akses yang sangat mudah ditempuh. Apalagi, setelah adanya peristiwa kecelakaan kemarin saya juga ikut khawatir. Tetapi, mau tidak mau tetap menggunakan speedboad ini,” pungkasnya.

 

TEKS       : IMAM MAHFUZ
EDITOR   : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com