Terkait Isu Bakso Daging Babi, Penjual Bakso Klaim Kian Merugi

 607 total views,  2 views today

Ilustrasi | Dok KS

Ilustrasi | Dok KS

PALEMBANG – Isu merebaknya daging babi /celeng di sejumlah daerah akhir-akhir ini, diakui oleh sebagian besar pedagang bakso di Palembang telah menurunkan omset pendapatan mereka. Jika biasanya dalam per hari, setidaknya 250 mangkok bakso dapat terjual namun sejak sepekan terakhir hanya sekitar 100 mangkok saja.

Pantauan Kabar Sumatera di warung bakso Sidodadi wilayah Bukitbesar, Pasar 26 Ilir, dan Pasar Lemabang penurunan pendapatan mereka rata-rata mencapai 50 persen. Itu artinya, mereka mendapat kerugian mencapai jutaan rupiah.

Suyitno, pemilik bakso Sidodadi yang terletak di Jalan RE. Martadinata Lemabang Palembang misalnya, mengalami kerugian hingga mencapai Rp1 juta. Hal ini dikatakan olehnya kepada Kabar Sumatera kemarin, Selasa (17/2).

“Kami biasa jual bakso dalam satu porsinya itu bervariasi antara Rp 12.000 hingga Rp 15.000.Biasanya dalam sehari, saya bisa menghabiskan setidaknya 250 mangkok. Tapi sejak isu daging babi itu merebak. Omzet pendapatan saya pun jadi menurun. Jika dihari biasanya, saya mendapat uang sekitar Rp 3 jutaan. Namun kini paling hanya berkisar antrara Rp 1,1 juta hingga Rp 1,2 juta saja ,” ungkapnya.

Wahyu Trie salah satu pengurus Asosiasi Pedagang Mie dan Bakso (APMISO) Sumsel yang dibincangi koran ini mengatakan, jika isu beredarnya daging celeng ternyata memberi dampak kurang baik bagi para pedagang bakso.

“Banyak pelanggan yang mengeluhkan tentang dampak isu beredarnya daging babi ini. Sebagai imbasnya, banyak pedagang bakso mengeluh,” ujarnya.

Isu beredarnya daging babi/celeng tidak hanya dirasakan oleh pedagang bakso saja. Pantauan Kabar Sumatera di sejumlah pasar tradisional di Palembang, banyak pedagang sapi yang merugi lantaran sepi pembeli. Hal ini ditengarai dari berkurangnya pesanan daging sapi oleh pelanggan.

Amir pedagang daging sapi di pasar Sekip Ujung Palembang, Selasa (17/2) mengakui, jika pesanan daging sapi selama sepekan terakhir ini mengalami penurunan. Pasalnya, dari sejumlah pelanggan yang notabenennya adalah pedagang bakso keliling turut menurunkan permintaan terhadap daging sapi.

“Pelanggan saya itu kebanyakan pedagang bakso Mas. Ya harus bagaimana lagi, kalau mereka dagang saja sepi pembeli lantaran takut dagingnya dicampur celeng. Tentu mereka akan mengurangi pesanan terhadap daging sapi. Itu lihat saja Mas, masih banyak gitu, “ kata Amir,” sembari menunjukkan tumpukkan daging sapi yang masih menumpuk.

Hal senada juga disampaikan Hasan pedagang daging sapi lainnya di Pasar Lemabang Palembang. Menurutnya, omset pendapatan dari penjualan daging sapi sejak sepekan terakhir mengalami penurunan hingga 40 persen. Hal itu bisa dilihat dari permintaan pasar terhadap daging sapi.

“Biasanya dalam sepekan saya mampu menjual daging sapi sebanyak 90 kilogram sampai 100 kilogram. Namun sejak merabaknya isu daging celeng, penjualan daging sapi hanya tembus pada kisaran 50 kilogram saja,” ungkapnya.

 

TEKS       : JEMMY SAPUTERA

EDITOR   : RINALDI SYAHRIL

 

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster