Tenggelam, Tujuh Penumpang Speedboat Tujuan Pulau Rimau Tewas

 283 total views,  2 views today

Ilustrasi Tenggelam

Ilustrasi Tenggelam

PALEMBANG – Kecelakaan angkutan air kembali terjadi, kali ini tujuh orang tewas tenggelam dan 23 lainnya mengalami luka-luka, usai kapal motor cepat (Speedboad) yang dinahkodai oleh Holidy (39), terbalik di perairan Pulau Rimau, Kabupaten Banyuasin, Selasa (17/2) pukul 09.00 WIB.

Kapal motor tersebut melaju dengan kecepatan sekitar 50 kilometer per jam, saat melaju di tempat kejadian perkara (TKP), Holidy terkejut dengan keperadaan tumpukan sampah di depan speedboat yang ia kemudikan.

Menghindari tabrakan dengan sampah, Holidy membelokkan speedboatnya tanpa sempat mengurangi kecepetan speedboat. Akibatnya, 28 penumpang yang sedang berada di dalam speedboat bermerk Fahri Aziz itu terlontar keluar.

Tak ayal, Holidy bersama penumpang yang terdiri dari anak kecil, orang tua, hingga lansia itu berusaha menyelematkan diri menuju daratan yang letaknya 50 meter dari lokasi kejadian. Mereka berenang tanpa menggunakan pelampung atau alat penyelemat lainya.

“Saat itu yang terpikir hanyalah bisa tiba ke daratan secepatnya. Alhamdulillah, saya bisa tiba dengan selamat setelah berenang kurang lebih 50 meter,” kata Dedi (30), salah satu penumpang yang selamat, saat dimintai keterangan di Mako Ditpolairud Polda Sumsel.

Jika Dedi dan 20 penumpang yang lain berhasil tiba di daratan, tidak demikian dengan tujuh penumpang yang lain. Mereka tenggelam karena tidak bisa berenang dan terlontar lebih jauh ketimbang penumpang yang lain. Jenazah ketujuh penumpang itu beberapa saat kemudian ditemukan oleh nelayan yang tengah beroperasi di sekitar kejadian.

Tak lama usai berhasil menginjakan kaki di daratan, dikatakan Dedi, ia bersama penumpang yang selamat lainya hanya bisa diam membisu. Ada yang menangis histeris, ada juga yang mengucap syukur tanpa henti. Mereka selanjutnya dihampiri aparat kepolisian setempat untuk diberikan pertolongan awal sebelum dimintai keterangan.

Ungkap Dedi, ia sempat mendengar suara benturan keras dari bagian bawah speedboat. Tak lama usai mendengar suara itu, speedboat terbalik dan dirinya terlontar keluar.

“Saya sempat terkejut saat terlontar keluar. Begitu berada di air, saya langsung berenang menuju daratan,” kata Dedi, yang menderita luka gores di lengan.

Bukan hanya Dedi, ada empat penumpang lain yang datang ke Mako Ditpolairud Polda Sumsel. Menurut salah satu dari mereka, speedboat sempat berputar beberapa kali usai terbali. Penyebabnya adalah arus yang saat kejadian lumayan cukup kencang.

Dedi dan keempat penumpang ini terlihat masih syok dengan kejadian yang baru saja menimpa mereka. Mata mereka masih terlihat memerah dan bengkak. Terlihat, seorang wanita berbalut perban di pelipis kirinya.

Mereka pun belum bisa bebicara banyak saat coba diwawancarai. Sementara Holidy mengatakan, speedboat terbalik saat dirinya berusaha menghindari tumpukan sampah yang ada di depan speedboatnya.

Jelas Holidy, tumpukan sampah berupa serabut kelapa itu akan membahayakan speedboat jika dipaksakan untuk melintasinya. Sebab itulah, ia memutuskan untuk menghindari tumpukan sampah yang berakibat dengan terbaliknya speedboat.

“Saat itu, sungai akan segera pasang sehingga dapat aliran dari tempat lain. Itu sebabnya, sampah cukup banyak,” kata warga 3 Ulu Palembang ini.

Holidy berkata, ia melajukan speedboat tidak terlalu kencang. Selain itu, ia juga tidak merasakan adanya benturan dari bawah speedboat dan speedboat terbalik murni karena dirinya menghindari tumpukan sampah.

“Sampah memang sering saya jumpai di kawasan itu. Hanya saja, kali ini, saya ditimpa sial,” kata Hoplidy.

Kasubdit Gakkum Ditpolairud Polda Sumsel, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Denny Heryadi, mengatakan pihaknya sudah mendatangi olah TKP dengan dibantu oleh Sat Polairud Banyuasin dan Basarnas. Korban dari kejadian ini seluruhnya sudah berhasil ditemukan dan dievakuasi ke Kamar mayat RS Bhayangkara Palembang.

“Saya menduga speedboat menghantam benda keras semacam kayu terapung dan sejenisnya. Ditambah dengan kecepatan tinggi, speedboat terbalik dan tujuh penumpang tewas tenggelam,” kata Denny.

Selanjutnya, Denny mengatakan, proses hukum untuk kejadian ini akan ditangani Sat Polairud Banyuasin mengingat penumpang mayoritas bermukim di sekitar lokasi kejadian. Ini dilakukan untuk mempermudah penyelidikan atas adanya kejadian ini.

Beber Denny, kejadian naas ini berlangsung di perairan Pulau Rimau, tepatnya di depan lokasi PT CLS Banyuasin. Dari Mako Ditpolairud Polda Sumsel, butuh waktu sekitar dua jam untuk mendatangi lokasi. Speedboat berangkat dari Karang Agung hendak menuju Palembang.

Terkait Holidy, Denny menduga akan ada bentuk tanggung jawab darinya atas kejadian ini. Denny menilai, Holidy sudah lalai dalam menjalankan tugasnya sebagai serang yang berujung dengan tewasnya tujuh penumpang speedboat.

“Salah satu kelalaian yang diperlihatkan adalah tidak adanya alat-alat keselamatan di speedboat itu. Ia juga kita duga melajukan speedbopat dengan kencang di kawasan perairan yang dalam. Selain itu, ia juga tidak melakukan pendataan kepada penumpang yang diangkut. Ia bisa dijerat pasal 359 KUHP,” kata Denny.

Ditanya apakah penyebab speedboat terbalik karena kelebihan kapasitas, Denny menampiknya. Menurutnya, Holidy sudah mematuhi peraturan dalam segi muatan penumpang dan beban yang diangkut. “Jumlah 30 orang, termasuk kernet dan serang, sudah sesuai dengan kapasitas speedboat. Jadi, ini bukan gara-gara kelebihan kapasitas,” kata Denny.

 

TEKS       : OSCAR RYZAL

EDITOR   : RINALDI SYAHRIL

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster