Indonesia Darurat Pornografi, Narkoba dan Korupsi

 477 total views,  2 views today

PALEMBANG – Ketua Umum Yayasan Raja Sultan Nusantara (Yarasutra), Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin dalam acara Ta’aruf Kongres Umat Islam Indonesia VI yang digelar di Hotel Inna Garuda, Yogyakarta beberapa waktu lalu mengambil setidaknya tiga sikap terkait Indonesia darurat , Islam Syiah dan Islam ala Indonesia yang menjadi tugas rumah untuk segera diselaikan.

Seperti dikutip dari Kiblat.net yang termuat dalam akun facebook pribadinya, Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin dalam testimoni singkatnya membantah pernyataan Menteri Agama RI Lukman Hakim Syaifuddin yang menyebut bahwa, Islam dan Jawa merupakan antinomy dan kompatibel.

“Dengan demikian, Islam Jawa dibaca sebagai sebuah varian dan wajah umat Islam yang berhak hadir sebagaimana juga Islam Persia, Islam India, Islam Melayu dan lainya,” ujar Lukman Hakim.

Tapi, pernyataan Menteri Agama RI tersebut secara tegas dibantah oleh Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin yang menyatakan bahwa,  dahulu sebelum ada Negara Kesatuan Republik Indonesia, para pemimpin kerajaan di Nusantara adalah sultan yang memeluk agama Islam.

“Jadi, kalau Bapak Menteri ngomong ada Islam versi ini, versi itu saya tidak sepakat. Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, dan Islam adalah satu,” tegasnya.

Sultan Iskandar juga menanggapi pernyataan Wakil Ketua MUI Ma’ruf Amin, yang sebelumnya mengatakan Indonesia saat ini tengah terjadi darurat pornografi, mengalami darurat narkoba, darurat korupsi, darurat kepercayaan dan lain sebagainya.

Kepada Kabar Sumatera, Senin (16/2) Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin menuturkan dengan tegas, jika Indonesia saat ini tengah terjadi darurat pornografi, darurat narkoba, darurat korupsi. Itu semua terjadi karena produk hukum di Indonesia merupakan produk kafir buatan kolonial Belanda yang sampai detik ini masih kita konsumsi.

“Kenapa Indonesia saat ini darurat, karena produk hukum yang saat ini ada, adalah produk kafir, produk daripada kolonial Belanda yang ditranslate ke dalam Bahasa Indonesia”. Ungkapnya.

Disinggung terkait sikap Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur,tentang fatwa sesat Syiah, Sultan Palembang mengapresiasi langkah yang diambil MUI Jawa Timur, dan meminta MUI Pusat untuk segera bersikap tegas terkait masalah Syiah ini agar tidak membawa keburukan bagi Negara Kesatuan Republik Inodonesia (NKRI).

Menurutnya, MUI harus ada keberanian mengambil suatu sikap, tidak ada yang menghina para sahabat Rasulullah. Dan MUI harus memberi sikap, seperti MUI Jawa Timur memberikan sikap. Oleh karenanya, kami sebagai raja, ksatria, dan pemimpin umat, kami tidak akan takut kepada siapapun, kami hanya takut kepada Allah. Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, tidak ada ISIS tidak ada Islam itu teroris.

Menyikapi hal itu, Conny Sutedja pemerhati budaya Palembang yang dibincangi koran ini kemarin, menyebut tiga sikap tegas Sultan Palembang tersebut merupakan ciri pemimpin Islam yang diwariskan oleh para Sultan terdahulu.

Menurutnya, kedudukan dualisme kesultanan Palembang seharusnya tidak perlu terjadi. Namun dirinya mengajak masyarakat untuk bersikap dewasa untuk menilai dan mendukung langkah-langkah baik yang diambil oleh kedua Sultan tersebut. Baik Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin maupun Sultan Prabu Diradja.

“Saat ini, dualisme kesultanan Palembang pun seyogyanya tidak perlu dibesar-besarkan. Kita bisa melihat kesungguhan dari sikap mereka menghantarkan Islam yang telah berakar kuat ini untuk kemudian dijadikan acuan membangun Nusantara seperti yang dilakukan para Sultan terdahulu. Siapa yang bekerja, siapa yang membangun peradaban budaya Palembang, menjaga warisan budaya yang luhur serta menjaga silahturahmi antar Sultan Nusantara dia lah Sultan Palembang. Masyarakat kita sudah cukup dewasa, jadi tidak perlu khawatir,” tutupnya.

 

Teks        : JEMMY SAPUTERA

Editor     : MUSTAQIEM ESKA





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster