Gepeng Berkeliaran Resahkan Warga

 292 total views,  2 views today

PAGARALAM – Maraknya gelandangan dan pengemis (gepeng) yang berkeliaran di beberapa pusat keramaian, tampaknya mulai mengganggu kenyamanan warga sekitar. Sejumlah pusat perekonomian yang ada di Bumi Besemah ini, mulai dari Pasar Dempo Permai, seputaran Pagaralam Square, kawasan Masjid Raya hingga Pasar Induk Terminal Nendagung kerap terlihat sejumlah gepeng yang meminta-minta kepada pengunjung pasar.

Yadi (35), salah seorang pegawai toko bangunan AA Jaya Simpang Tebat Bari Ilir Pagaralam mengaku risih ketika melihat ada gepeng yang meminta-minta dengan cara mengeksploitasi penyandang disabilitas seperti tuna netra dan tuna daksa.

“Kalau diperhatikan, mereka itu bukan orang Pagaralam. Ya, baru kali ini terlihat,” katanya, kemarin (16/2) seraya berujar dalam sehari bahkan mencapai 5 orang gepeng yang datang untuk meminta-minta.

Senada dikemukakan Hasan, pedagang sembako di kawasan pasar Seghepat Seghendi, dirinya menduga ada semacam koordinator yang mengatur para gepeng ini.

Seperti adanya pengakuan sejumlah pedagang pasar pagi, mereka kerap terlihat turun serentak dari mobil seperti angkutan pedesaan di seputaran pasar Seghepat Seghendi.

Kemudian si pengemis ada yang mangkal di samping Pagaralam Square dan ada pula yang berkeliling untuk meminta-minta.

“Sepertinya para pengemis itu sudah dikoordinir dengan baik hingga sampai ke Pagaralam,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja setempat, Drs M. Isa Al Basarah MSi mengakui ada fenomena seperti itu.

Bahkan bentuk dan kelakuan para pengemis dan peminta-minta itu beragam. Ada yang memang murni berpakaian pengemis. Ada pula yang berkeliling mengedarkan kotak amal dan blanko sumbangan dari Yayasan atau Masjid tertentu di luar kota.

“Ya, kita sebelumnya pernah menginterogasi salah seorang yang mengatasnamakan Yayasan tertentu. Ketika dicek keberadaan yayasan tersebut ternyata tidak ada. Kalaupun ada, ternyata tidak ada perintah atau utusan dari yayasan tersebut yang memberi izin atau melaksanakan kegiatan untuk meminta-minta,” terangnya.

Kendati demikian lanjutnya, yang menjadi kendala saat ini yakni belum memiliki semacam rumah singgah untuk dijadikan tempat penampungan sementara para gepeng tersebut.

Karena mereka hanya didata seadanya dan dilacak asal usulnya. Ia mengatakan, tahun 2014 sedikitnya ada 15 kasus penyakit sosial yang terjadi di masyarakat berhasil ditangani. Penyakit sosial dimaksud, meliputi orang gila, terlantar, tunarungu dan tunawicara.

“Kasus dimaksud memang telah menjadi masalah nasional, bahkan permasalahan ini masuk dalam penanganan program Dinsosnaker, dalam hal ini Pembinaan Penyandang Masalah Kesejahteraan (PMKS). Para penyandang penyakit sosial ini nantinya akan ditempatkan di panti rehabilitasi sosial melalui pernyataan persetujuan dari keluarga bersangkutan, untuk dititipkan ke tempat rehabilitasi yang berada di Kota Palembang,” jelasnya.

Sebagai langkah mengurangi angka pengangguran kata Basyarah, Dinsosnaker Kota Pagaralam telah membuat berbagai program berupa pelatihan-pelatihan, baik perbengkelan maupun berbagai pelatihan yang diyakini dapat dilakukan masyarakat tanpa harus mengelurakan modal yang besar.

“Sejumlah pelatihan tengah digencarkan tersebut guna terwujudnya masyarakat yang handal dan mampu menciptakan lapangan kerja sendiri,” harapnya.

 

TEKS       : ANTONI STEFEN

EDITOR    : FJ ADJONG





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster