Pagaralam Jadi Pusat Kajian Budaya Besemah

 880 total views,  2 views today

Kota Pagaralam | Ist

Kota Pagaralam | Ist

PAGARALAM – Upaya menjaga warisan leluhur yang mulai tersisih oleh pengaruh asing dan sudah saatnya Kota Pagaralam dijadikan pusat kajian budaya Besemah yang sudah banyak dilirik para peneliti negara barat untuk melakukan penelitian.

“Sebagian besar pusat kajian budaya daerah di Indonesia berada di negara Asing seperti Belanda, Amerika dan Inggris,” kata dosen Universitas Padjadjaran Bandung sekaligus Pakar Pendidikan dan Peneliti Kebudayaan Besemah, Dr Drs Sutiono Mahdi MHum, kemarin.

Ia mengatakan, jika pemerintah memang peduli dengan budaya Besemah dan tidak ingin punah, sudah saatnya langkah mengatasi semua itu dengan menjadikan Kota Pagaralam sebagai pusat kajian budayah Besemah, sebelum orang asing yang mengusainya.

“Saat ini kalau ingin mempelajari salah satu kebudayaan daerah di Indonesia mesti ke Belanda atau Inggris, mengapa tidak di negara kita sendiri,” gusarnya seraya berujar sejauh ini jika ingin mempelajari budaya Jawa dan Sunda secara mendalam kita mesti ke Belanda atau Inggris.

Kendati demikian lanjutnya, sudah saatnya dimulai dari sekarang untuk pusat budaya Besemah yakni di Kota Pagaralam sendiri. Sehingga semua peninggalan Bumi Besemah bisa ditemui di musium dimakusud mulai dari alat kesenian, pakaian adat, alat peralatan bercocok tanam, dan termasuk seluruh peninggalan yang masih banyak tersebar di masyarakat.

“Paling mendasar perlu dilakukan Pemerintah Kota Pagaralam yakni dengan membangun musium adat, yang dapat menampung berbagai peninggalan adat Besemah yang lebih dikenal sebagai barang baghi (barang antik, red), misalnya pedang, kris, gelang, kain songket, sendal, ukiran, dan beberapa alat rumah tangga lainya,” kata Sutiono.

Adapun semua barang peninggalan dimaksud kata dia, harus dikumpulkan oleh pemerintah untuk dimasukan ke dalam musium, bisa dengan cara dibeli dari masyarakat yang ada.

“Bila hal itu dapat terwujud, bukan tidak mungkin Kota Pagaralam bakal menjadi rujukan bagi kebudayaan daerah di Sumsel, bahkan Indonesia,” tegasnya seraya mengatakan bukan hanya kajian ilimiah termasuk pula fasilitas dimaksud dapat menarik wisatawan domistrik hingga asing.

Menurutnya, sejauh ini dirinya mulai khawatir jika budaya Besemah mulai dikuasai orang asing, mengingat sudah cukup banyak para peneliti melakukan kajian termasuk menjadikan budaya Besemah sebagai bahan karya ilmiah seperti peneliti dari Amereka, Inggris dan termasuk Belanda dan lainnya.

“Ada tujuh unsur yang menjadikan Pagaralam sebagai rujukan pusat budaya Besemah, selain ada musium adat, bisa pula mengembalikan pola kehidupan di masyarakat dengan kegiatan adat seperti tarian, adat istiadat sehari-hari, mata pencaharian, mengalakan budaya besemah, bahasa, organisasi kemasyarakatan, perkumpulan dan lainnya,” jelas Sutiono seraya mengaskan jika pihaknya ingin agar kebudayaan Besemah kembali dilestarikan dengan membangun atau menjadikan Pagaralam sebagai pusat kajian budaya besemah dunia.

Ditambahkan Ketua Lembaga Adat Melayu Besemah, Satarudin Tjik Olah, untuk melestarikan budaya daerah Besemah, tentunya pemerintah harus mengalakan kegiatan masyarakat dan pemakaian bahasa Besemah dalam kegiatan sehari-hari, misalnya acara persedekahan atau hajatan.

Ia mengatakan, saat ini memang budaya Besemah semakin terancam punah lantaran banyak dipengharuhi budaya modern yang lebih mendominasi dalam kehidupan masyarakat Pagaralam.

“Sebagai langkah yang mesti dilakukan agar dapat kembali melestarikannya, dengan memasukan budaya Besemah ke dalam kurikulum sekolah mulai dari tingkat SD hingga SMA,” paparnya.

 

TEKS          : ANTONI STEFEN

EDITOR      : FJ ADJONG

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster