Harga Karet Makin Terjepit

 386 total views,  2 views today

PALEMBANG – Data Badan Pusat Statistik Sumsel mencatat penurunan nilai karet ekspor cukup signifikan terjadi pada 2014 dengan membukukan hanya 1.613.390.000 dolar AS atau turun drastis dibandingkan 2013 yang mencetak 2.705.493.000 dolar AS. Pada 2012, produksi karet Sumsel masih tinggi dengan mencatat 2.943.866.000 dolar AS, dan mencapai masa keemasan pada 2011 dengan membukukan 3.868.385.000 dolar AS.

Turunnya harga di pasar ekspor membuat produksi getah dari petani karet mengalami penurunan hingga 30 persen sejak awal tahun 2015. Harga karet Sumatera Selatan (Sumsel) diprediksi akan semakin sulit pada tahun 2015 ini. Hal tersebut ditengarai karena Sumsel tidak mempunyai industri hilir dan pintu masuk perdagangan secara langsung seperti halnya pelabuan Tanjug Priok Jakarta. Sehingga beberapa investor menarik diri untuk berinvestasi.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumsel Permana, mengatakan bahwa pihaknya sudah berupaya untuk menggandeng beberapa investor asing seperti Bellarusia, Perancis dan Eropa untuk menanamkan modal berinvestasi di Bumi Sriwijaya. Namun hal tersebut masih terkendala oleh banyak faktor. Salah satunya adalah, Sumsel belum mempunyai pintu pelabuhan perdagangan untuk mengangkut hasil produksi ke pasar Eropa mengingat pelabuhan Tanjung Api-Api belum terealisasi.

“Seandainya pun kita menggunakan jalur darat melalui Tanjung Priok Jakarta , pasti harga logistiknya akan mahal sekali,”ujarnya

Menurut Sutarman, Praktisi Ekonomi di Palembang yang dibincangi Kabar Sumatera, Minggu (16/2) mengatakan bahwa, harga getah karet perpekan di beberapa daerah hanya berkisar Rp 5800 (bersih tanpa kulit) atau turun Rp 700 dari pekan lalu. Ia menambahkan, jika memang industri hilirisasi yang di perlukan itu mendesak, ya harus disegerakan karena itu menyangkut kesejahteraan petani . Jalur transportasinya pun juga mesti disiapkan.

“Kalau bicara kesiapan, tentu kita akan bersaing dengan negara-negara yang sudah memiliki catatan baik, seperti Thailand, Myanmar dan Vietnam. Mereka mengekspor getah karet tersebut sudah berbentuk lembaran, sementara petani kita masih dalam bentuk bongkahan. Bagaimana kita harus bersaing, “ tegasnya.

Menyikapi hal itu, Alex K Edy Ketua Gabungan Karet Indonesia (Gakpindo) Sumsel mengatakan, jika penurunan produksi ini disebabkan petani lebih memilih meninggalkan lahan untuk sementara waktu karena dirasa tidak memenuhi kebutuhan hidup mereka. Oleh sebab itu, produksi karet mengalami penurunan produksi hingga mencapai 30 persen.

“Petani membiarkan begitu saja lahan mereka, karena jika disadap pun harga getah karet tak sebanding. Mereka hanya memperoleh uang itu pun berkisar antara Rp 4000 hingga Rp 5000 per kilogram untuk jenis karet mentah bongkahan, ” tutup Alex.

 

TEKS       : JEMMY SAPUTERA

EDITOR   : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster