Masjid Cheng Ho Miliki Ciri Khas Etnis

 434 total views,  2 views today

Masjid Al-Islam Muhammad Cheng Ho ata yang biasa disebut Masjid Chengho yang berlokasi di Jakabaring Palembang. | Foto:Ferry Hotman

Masjid Al-Islam Muhammad Cheng Ho ata yang biasa disebut Masjid
Chengho yang berlokasi di Jakabaring Palembang. | Foto : Ferry Hotman

Masjid Al-Islam Muhammad Cheng Ho ata yang biasa disebut Masjid Chengho merupakan tempat ibadah bagi ummat Islam yang berlokasi di Jakabaring Palembang Sumatera Selatan (Sumsel). Di mana, bangunan utamanya memiliki 20 x 20 meter di atas tanah seluas 4.990 milimeter yang merupakan yang merupakan hibah dari Gubernur Provinsi Sumsel, Bapak Ir Syahrial Oesman, dan yang menarik adalah bentuk bangunan masjid yang memiliki ciri khas etnik serta pemberian nama dari masjid itu sendiri, yaitu Mehammad Cheng Ho.

Ahmad Afandi Ketua Pengurus Masjid Muhammad Cheng Ho menjelaskan, dibangunnya Masjid Cheng Ho awalnya terinspirasi dari bangunan Masjid Muhammad Cheng Ho yang ada di Surabaya, Jawa Timur (Jatim) yang dibangun oleh warga Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Kordinator Wilayah (Korwil) Jatim. Dimana dibutuhkan para anggota PITI Sumsel sebagai tempat dan memperdalam dan untuk menyiar ajaran agama Islam, dan sebagai tempat transisi para mu’allaf untuk mendapatkan informasi tentang ajaran agama Islam secara utuh.

“Yang jelas ini rumah Allah, tentunya tempat beribadah, baik itu mengaji, belajar, maupun shalat 5 waktu, dan yang paling pentik untuk syiar ajaran agama Islam,” jelasnya.

Selain tempat ibadah, didirikannya masjid Cheng Ho untuk menyampaikan kepada masyarakat luas, bahwa Islam adalah salah satu agama leluhur di tanah Tiongkok China. Dimana agama Islam bukanlah agama baru bagi suku Tionghoa seperti yang banyak diketahui masyarakat Tionghoa Indonesia selama ini.

Ahmad Afandi menjelaskan makna bangunan yang terdapat di Masjid Cheng Ho, seperti dua menara yang berdiri di sebelah kanan dan kiri maknanya adalah Hablum Minallah dan Hablum Minannas, dan lantai dasar masing-masing menara merupakan tempat wudhu berukuran 4×4 meter dan memiliki lima tingkat atap dengan tinggi 17 meter yang bermakna shalat fardu 5 waktu dalam sehari 17 rakaat.

“Ada makna masing-masing dari tiap sisi bangunan, tentu yang berkaitan dengan Agama Islam,”ujarnya.

Selain itu, terdapat pula ornamen tanduk kambing ciri khas Palembang. Unsur Palembang sengaja dimasukkan dalam arsitek Masjid Cheng Ho, karena dibangun di kota Palembang, disamping itu, kebudayaan Palembang memiliki banyak kesamaan dengan kebudayaan China, yang menandakan bahwa kedua kebudayaan ini telah lama menjalin hubungan yang baik dan saling menguntungkan.

“Kita sebagai hamba Allah sama di sisinya, tidak ada perbedaan, sehingga digabungkanlah dua unsur budaya ini,”Jelas Ahmad Afabdi yang juga sebagai Ketuap PITTI Sumsel.

Pembangunan masjid Chenghu dimulai pada rahun 2004, dimana peletakan batu pertama diresmikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dan disaksikan oleh Gubernur Provinsi Sumsel Syahrial Oesman pada saat itu, dan mulai digunakan sejak bulan Agustus 2008.

“Kalau diresmikan secara nasional belum, tapi sekarang sudah di gunakan untuk kegiatan-agama dan kemasyarakatan,”katanya.

Hingga saat ini, masjid Al-Islam Muhammad Cheng Ho telah memiliki program kegiatan, baik itu Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) pengajian untuk untuk para orang tua, dan kegiatan lainnya, sehingga terus mengembangkan bangunan untuk melengkapi fasilitas masjid, seperti sekretariat, rumah tahfiz, dan penginapan santri rumah tahfiz.

Penggunaan Nama Laksamana Cheng Ho

Ahmad Afandi menjelaskan Tujuan pemakaian nama Laksamana Haji Muhammad Cheng Ho, ini bukan untuk mengkultuskan, tetapi ingin meneladani dan mengingatkan, bahwa sikap hidup Laksamana Haji Muhammad Cheng Ho adalah mengembangkan semangat dakwah dan silaturrahim pada seluruh bangsa di dunia seperti yang diperlihatkan dalam perjalanan
pelayarannya.

“Dia mampu membangun sinergi antara tugas negara sebagai pejabat negara dan misi dakwahnya sebagai seorang muslim,”

Sebagai pembelajaran, Laksamana Haji Muhammad Chengho adalah seorang tokoh Angkatan Laut Tiongkok pada abad ke XV yang beragama Islam, ilahirkan dari Desa He Dai, Kabupaten Kunyang, Provinsi Yunan, pada tahun Hong Wu ke-4 (1371 M) dari marga Ma, suku Hui yang mayoritas beragama Islam.

Cheng Ho memimpin muhibah perdagangan ke Nusantara dengan armada yang besar, misi mushibahnya adalah perdagangan bukan misi penyebaran agama Islam.

Di wilayah yang disinggahinya, melalui kegiatan perdagangan, agama Islam secara tidak langsung diperkenalkan, karena dirasakan memberi kedamaian dan kebaikan bagi penduduk setempat yang ia singgahi, akhirnya ia pun memeluk agama Islam, yang tadinya dianggap baru dan asing.

Menurut Afabdi, Kebijakan Haji Muhammad Cheng Ho inilah yang pada akhirnya menjadi kebijakan dan strategi PITI untuk mencapai maksud dana tujuan misi TIPI ke depan.

“Anggota PITI boleh berlatar belakang profesi apa saja, tapi diharapkan akhlak dan budi pekerti kemusliman serta profesionalitas anggotanya tetap menjadikan ajaran Agama Islam sebagai tolak ukurnya,”jelas Afandi.

Di Indonesia, Laksamana Haji Muhammad Chengho dikenal dengan beberapa nama, misalnya Dampo Awang, Sam Po Kong, Sam Po Toalang dan sebagainya, yang pada akhirnya nama-nama tersebut hanya dikenal sebagai kultur Tionghoa Daratan.

Proses budaya yang berlangsung ratusan tahun, telah meninggalkan keberadaan Laksamana Haji Muhammad Cheng Ho sebagai seorang mujahid muslim.

“Jadi kehadiran masjid dengan nama Laksamana Cheng Ho, sebagai salah satu pelurusan sejarah di Indonesia,”ungkapnya.

 

EDITOR      : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster