Bandar Narkoba Asal Batam Dicocok Saat Transaksi

 427 total views,  2 views today

Subdit III Direktorat Narkoba Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Selatan (Sumsel). Menunjukan Barang Bukti Narkoba. | Foto : Dok KS

Subdit III Direktorat Narkoba Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Selatan (Sumsel). Menunjukan Barang Bukti Narkoba. | Foto : Dok KS

  • Lolos dari Pemeriksaan Bandara

PALEMBANG – Slamet Riyadi (29), bandar narkoba asal Batam, dicokok petugas saat bertransaksi dengan Anjas (40), pemilik salah satu kafe di kawasan Jalan Kolonel H Burlian, Kecamatan Sukarame, Palembang. Narkoba tersebut sebelumnya lolos dari pemeriksaan petugas bandara.

Narkoba yang dibawa Slamet masuk ke Palembang melalui bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang itu, tidak sedikit. Setidaknya, ia membawa 50 butir pil ekstasi dan 95 gram sabu yang jumlahnya hingga Rp150 juta. Sepak terjang Slamet semakin leluasa mengedarkan barang haram ke sejumlah cafe di Palembang. Termasuk mensuplai narkoba ke Anjas (40).

Namun, sepak terjang Slamet tercium juga oleh anggota dari Subdit III Direktorat Narkoba Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Selatan (Sumsel). Gerak-gerik mereka langsung diintai.

Petugas yang secara diam-diam mendatangi tempat kejadian perkara (TKP), Rabu (11/2) pukul 21.00 WIB, segera bertindak membekuk kedua tersangka yang ketika itu tengah bertransaksi.

“Saya hanya ditugaskan mengantar sabu itu dan akan diupah Rp3,5 juta. Saya lakukan ini karena isteri saya sekarang sedang hamil dan akan melahirkan. Jadi, butuh biaya,” beber Slamet.

Cerita Slamet, idenya untuk menyembunyikan narkoba di dalam celana dalan (CD) murni dari dirinya sendiri. Ide itu muncul mendadak, saat ia tiba di bandara. Tanpa ia sangka, modusnya menyelipkan narkoba di celana dalam mampu mengelabui pengawas di bandara.

Ia mengakui, dirinya tidak mengenal Anjas. Ia kenal Anjas saat disuruh pemilik narkoba yang tinggal di Batam. Anjas juga mengaku tidak kenal dengan pemilik narkoba tersebut. Dirinya hanya dihubungi melalui telepon untuk mengantar narkoba ke Palembang.

“Saat ini, saya belum punya pekerjaan setelah dipecat dari leasing di Batam. Padahal, istri saya sebentar lagi mau melahirkan dan butuh uang,” kata pria berkaca mata ini.

Sementara Anjas mengaku dirinya kenal dengan pemilik narkoba di Batam melalui seorang keponakannya. Hanya melalui telepon, ia lalu memesan sabu dan ekstasi, selanjutnya diantarkan Anjas.

“Sudah lima kali saya mesan sabu dari Batam. Saya jual dengan pengunjung kafe tempat saya kerja,” kata Anjas.

Dari aksinya menjual narkoba, Anjas mendapat untung yang tidak sedikit. Untuk sabu, sedikitnya ia mengantongi Rp20 juta. Sedangkan ekstasi, untungnya Rp60 ribu per butir.

Setiap kali menerima kiriman narkoba dari Batam, ungkap Anjas, si pengantar akan meletakkan narkoba di tepi Jalan Soekarno-Hatta. Selanjutnya, Anjas menyimpan ekstasi itu di pohon setelah dimasukkan di dalam kantong plastik. Sementara sabu, ia pegang di tangan untuk selanjutnya ditawarkan ke pengunjung kafe.

“Saya belum memiliki kaki dalam profesi ini. Terpaksa jual narkoba karena uang dari kafe belum cukup menghidupi keluarga,” kata Anjas.

Direktur Ditres Narkoba Polda Sumsel, Komisari Besar Polisi (Kombes Pol) Deddy Setyo, didampingi Kasubdit III Ditreskrimum Polda Sumsel, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Richard Pakpahan menjelaskan, penangkapan keduanya atas pengembangan tersangka yang kini diamankan di Polres Banyuasin.

Bermodalkan informasi itu, pihaknya melakukan undercover di kafe Anjas dan didapatlah barang bukti 50 butir ekstasi dan 95 gram sabu.

“Ekstasi digantung di pohon, sedangkan sabu didapat dari tangan Anjas. Keduanya bisa dijerat pasal berlapis,” jelas perwira berpangkat melati dua ini.

 

TEKS       : OSCAR RYZAL

EDITOR   : FJ ADJONG

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster