Perajin Gerabah Masih ‘Eksis’

 2,371 total views,  8 views today

Sumardi saat menghiasi celengannya dengan cat warna di bangsal pembuatannya. | Foto ; Bagus Kurniawan

Sumardi saat menghiasi celengannya dengan cat warna di bangsal pembuatannya. | Foto ; Bagus Kurniawan

PALEMBANG – Kemajuan zaman dan modernisasi yang berkembang pesat ternyata tidak berimbas pada usaha rumahan pengrajin gerabah. Seperti Usaha milik Sumardi di Jalan Taqwa Mata Merah Lorong Keramik RT 11 RW 12 Kelurahan Sungai Selincah Kecamatan Kalidoni Palembang, dari tahun ke tahun tetap bertahan ditengah kemajuan zaman.

Dalam peroses pembuatannya pun tetap menggunakan cara manual (tradisional), usaha ini sendiri merupakan warisan dari orang tua Sumardi yang telah meninggal, namun ia tetap meneruskan mata pencahariaannya itu. terlihat sudah sangat mahir dalam membuat satu persatu dari beberapa jenis gerabah, karena pengalamannya yang telah bertahun-tahun menggeluti dunia pengrajin gerabah.

Ya saya ini hanya meneruskan usaha milik orang tua saja, saya sudah dari kecil ikut buat gerabah sampai sekarang,”ujarnya.

Kata Sumardi, ia mengeluhkan harga tanah yang begitu mahal, dan tidak bisa dibeli dengan jumlah yang sedikit, untuk membuat gerabah memerlukan tanah yang berkualitas, karena tentu akan mempengaruhi hasil yang telah jadi.

“Susah, kalau kita nak beli tanah diluar tidak bisa sedikit-sedikit, mau beli banyak modalnya juga besar,”ungkapnya.

Selama ini Sumardi yang biasa di panggil Mardi ini hanya mengandalkan tanah dari orang yang sedang membangun sebuah bangunan untuk dibeli sebagai bahan pembuatan gerabah.

“Kalau tanah saya sudah gak ada lagi yang bisa di keruk, makanya sekarang saya nunggu orang buat WC, jadi tanah galiannya saya bisa beli,”ujar Mardi.

Bahkan usaha milik Mardi ini perna tidak memproduksi gerabah hingga satu bulan lamanya, karena sulitnya mencari tanah untuk pembuatan gerabah, tapi ini tidak membuat Mardi patah semangat, ia tetap bersabar hingga sekarang Mardi tetap bisa meneruskan usaha yang ia miliki.

“Pernah waktu itu kami disini tidak kerja, karena tidak ada tanah yang bagus,”katanya.

Hinga sekarang, usaha milik Mardi ini masih tetap eksis dan masih banyak diminati oleh masyarakat, dalam dua hari sekali, Sumardi mampu memproduksi 150 jenis gerabah seperti celengan yang berbentuk ayam, wajan, kendi, dan beberapa perkakas lainnya dengan harga yang berfariatif, mulai dari Rp 15 Ribu hingga Rp30 Ribu Rupiah

“Dari dulu sampai sekarang tidak ada yang berubah, masih banyak orang yang pesan disini,”tegasnya.

Dalam peroses pembuatannya, untuk gerabah yang jenisnya celengan, sudah memiliki cetakan sendiri, seperti model ayam, kucing, maupun jenis hewan lainnya yang banyak disukai orang, dan selain dari celengan, semuanya masih menggunakan keahlian dari pengrajin sendiri, yaitu menggunakan kelihaian tangan.

Lamanya peroses pembuatan untuk satu jenis gerabah itu sampai 2 hari, karena setelah dibentuk modelnya, setelah itu akan di jemur dan di panggang kembali agar gerabah yang dihasilkan kuat dan tidak mudah retak, setelah itu baru peroses pewarnaan.

Hasil buatan usaha gerabah milik Mardi bukan hanya dipasarkan di Palembang saja, bahkan sampai ke luar Kota, inilah yang meyakinkan mardi tetap ingin mengembangkan usaha warisan orang tuanya.

“Kalau jualnya sih di Palembang, tapi kadang juga ada dari Muaraenim dan Lahat mesan dengan jumlah banyak disini,”ungkapnya.

Ia hanya berharap agar usaha yang sudah digelutinya ini dari kecil tetap ada, meski zaman sudah semakin canggih, namun menurut Mardi, gerabah tetap mempunyai daya tarik sendiri bagi masyarakat untuk membeli.

“Walaupun sekarang sudah banyak dijual seperti celengan pelastik, tapi celengan buat kami ini masih banyak yang suka,”ujar Mardi.

 

TEKS        :  ANDI HARYADI

EDITOR    :  RINALDI SYAHRIL

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster