2015, Beras Sumsel Ditargetkan 90 Ribu Ton

 337 total views,  2 views today

PALEMBANG – Jika sebelumnya Pemerintah Pusat memberikan target kepada Sumatera Selatan (Sumsel), untuk pengadaan beras sebanyak 70.000 ton di tahun 2015. Namun, kini direvisi menjadi 90.000 ton pengadaan beras di 2015. Hal itu diungkapkan Kepala Perum Bulog Divre Sumsel, Basirun saat diwawancarai, kemarin.

Target pengadaan beras bulog dari 70.000 ton naik menjadi 90.000 ton di tahun ini, atau naik 29 persen. Ia mengatakan, kenaikan target pengadaan beras tersebut guna mendukung target nasional penyerapan beras dalam negeri yang mencapai 2,75 juta ton beras.

“Mudah-mudahan upaya pemerintah dalam rangka menaikkan produksi padi, baik melalui perbaikan irigasi maupun percepatan distribusi pupuk dan bibit itu tepat waktu, sehingga terjadi kenaikan produksi yang signifikan,” tuturnya.

Basirun mengungkapkan target pengadaan beras 90.000 ton tahun ini tidak akan seluruhnya berupa beras. Menurutnya, komposisi pengadaan tersebut terdiri dari 67.500 ton atau 75 persen berupa beras, dan 22.500 ton atau 25 persen berupa gabah.

Diakui, pengadaan gabah pada tahun sebelumnya tidak pernah dilakukan. Oleh karena itu, Bulog menyiapkan lima unit satgas dan dua Unit Pengelolaan Gabah Beras (UPGB). Menurutnya, kedua unit tersebut akan terjun ke lapangan dalam rangka jemput bola.

“Pengadaan gabah pada tahun lalu itu memang tidak ada, karena harganya itu sangat tidak mungkin. Mudah-mudahan, harganya bisa cenderung mendekati Harga Pembelian Pemerintah (HPP), kalau harga sudah mendekati HPP, unit-unit kami biasanya cepat menyerap,” jelasnya.

Terkait adanya keterlambatan tanam, Basirun mengaku hal itu tidak berpengaruh terhadap pengadaan beras Bulog. Pasalnya, stok yang dimiliki Bulog saat ini cukup besar, yakni 30.858 ton beras, atau cukup hingga lima bulan ke depan.

Menurutnya, gudang Bulog biasanya mulai diisi di kisaran Maret mendatang, setelah pasar dan penggilingan di Sumsel telah terisi dari panen di Februari ini.

“Pada saat Februari, biasanya harga gabah kering giling masih jauh di atas HPP, yakni sekitar Rp4.000 per kg,” cetusnya.

Meski demikian, lanjut Basirun, keterlambatan tanam ternyata mengerek harga beras secara signifikan. Dalam 2-3 minggu terakhir, rata-rata harga beras tercatat mencapai Rp8.500 sampai Rp9.900 per kg.

“Meski begitu, 2-3 minggu ini harganya masih standar. Belum ada kenaikan lagi, relatif stabil tapi stabilnya itu di posisi yang tinggi. Padahal idealnya harga beras medium itu sebesar Rp7.500 per kg, dan beras yang lebih bagus di kisaran Rp9.000 per kg,” ujarnya.

Basirun menuturkan harga beras yang tinggi tersebut sudah maksimal. Ia memperkirakan harga beras yang tinggi masih akan terjadi hingga pertengahan Februari. Namun, harga beras akan mengalami penurunan sejalan dengan panen awal di daerah Banyuasin.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sumsel, Amruzi Minha mengatakan, Pemprov Sumsel menggandeng Kementerian Pertanian dan TNI, melalui Bintara Pembina Desa (Babinsa) demi mengawal jalannya produksi padi.

“Yang paling utama, kami akan memantau dalam ketersediaan pupuk, pestisida dan bibit. Kualitas beras akan semakin baik jika dikawal. Pokoknya, pengawalan akan dilakukan sejak produksi hingga panen,” katanya.

Dalam mendorong produksi, lanjut Amruzi, Pemprov Sumsel akan mengupayakan masa panen hingga dua kali dalam setahun. Tidak ketinggalan, Pemprov Sumsel juga mendorong pembangunan dan revitalisasi irigasi yang ada di Sumsel.

Untuk menciptakan ketahanan pangan bukan hanya lingkup pertanian saja. Ini tanggung jawab semua stakeholder dan masyarakat. Ketahanan pangan di sumsel sangat krusial.

“Sumsel tidak hanya menyuplai kebutuhan pangan dilokal saja tetapi juga untuk kepentingan nasional,” pungkasnya.

 

TEKS       : IMAM MAHFUZ

EDITOR   : RINALDI SYAHRIL

 

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster