Terbengkalai, GOR di Lubuklinggau Jadi Rumah Hantu dan Tempat Mesum

 2,781 total views,  4 views today

Gedung Olahraga  di Kelurahan Megang Kecamatan Lubuklinggau Utara II masih dikuasai Musirawas,tak terawat seperti rumah hantu dan jadi tempat orang memadu kasih atau tempat mesum. | Foto : Sri Prades

Gedung Olahraga di Kelurahan Megang Kecamatan Lubuklinggau Utara II masih dikuasai Musirawas,tak terawat seperti rumah hantu dan jadi tempat orang memadu kasih atau tempat mesum. | Foto : Sri Prades

LUBUKLINGGAU – Ironis melihat bangunan-bangunan milik pemerintah yang sudah lama terbengkalai, Gedung Olahraga (GOR) di Kelurahan Megang Kecamatan Lubuklinggau Utara II seperti rumah hantu, gelap gulita, tanpa adanya perawatan. Parahnya lagi, kerap menjadi tempat muda mudi tak bermoral untuk memadu kasih, bahkan nekat melakukan perbuatan tak senonoh.

Begitu juga dengan aset-aset lain yang belum diserahkan ke Kota Lubuklinggau. Terbelengkalai dan terlantar tanpa perawatan sama sekali.

Surya (17), salah seorang pengurus remaja masjid tidak jauh dari GOR Megang menuturkan, selain terlihat seram karena gelap dan tidak dirawat, gedung besar tersebut sering dijadikan tempat orang pacaran.

“Ini kan gedung pemerintah, seharusnya mereka rawat, jangan menjadi tempat seperti sekarang ini,malu dilihat orang daerah lain,masa gedung pemerintah seperti rumah hantu dan tempat orang pacaran,” keluhnya.

Di tempat terpisah, Kabar Sumatera berhasil menemui salah seorang mahasiswa yang mengaku, beberapa waktu lalu temanya pernah tepergok Polisi Pamong Praja saat berpacaran di GOR Megang.

“Sering wong cewekan di sano, terutamo bagian belakang, nah kebanyakan anak-anak sekolah, dulu tu pernah kawan aku kepergok Pol PP waktu pacaran di sano,” ungkap mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Lubuklinggau inisial AN (21) kepada Kabar Sumatera.

Selanjutnya, sumber terpercaya yang tetap minta namanya tidak disebutkan ini menceritakan, tempat-tempat pacaran yang sering ditongkrongi muda mudi yaitu di bagian pojok-pojok GOR Megang.

Sementara itu, aliansi Pemuda Lubuklinggau yang terdiri dari beberapa organisasi kepemudaan dan mahasiswa Lubuklinggau, meminta agar kedua pemerintahan Musirawas dan Lubuklinggau peduli akan masalah sosial tersebut, sebab dampak buruknya adalah merusak moral generasi muda.

“Kami mendukung program pemerintah Lubuklinggau dan Musirawas, tapi tidak untuk Musirawas mempertahankan asset yang sudah bukan haknya,kemudian mendorong walikota agar melakukan gerakan mengambil asset-aset itu,” tegas Ketua DPC GMNI Lubuklinggau, Febri kepada Kabar Sumatera.

Ia meminta agar Pemerintah Kabupaten Musirawas sadar undang-undang, karena jika mentaati peraturan, tidak akan terjadi penguasaan aset yang sudah tak haknya lagi.

“Kita yang muda,yang pendidikan tidak tinggi seperti mereka saja tahu isi undang-undang nomor 7 tahun 2001, kok mereka tidak tahu, jangan-jangan pura-pura tidak tahu,” ujarnya.

Senada juga diungkapkan Ketua DPD KNPI Lubuklinggau yang juga kuasa hukum Pemkot Lubuklinggau, Fery Fy.

Pengacara kondang ini, meminta agar Bupati Musi Rawas memehami undang-undang nomor 7 tahun 2001 tentang daerah otonomi baru Lubuklinggau, dimana salah satunya menyebutkan aset begerak dan tidak bergerak harus diserahkan ketika Lubuklinggau telah mempunyai walikota defenitif.

“Jangankan bangunan-bangunan, aparatur pun harus diserahkan, nah sekarang kan keegoan ini sudah mempengaruhi perkembangan kota dan masyarakat. Seperti Pemkot kekurangan beberapa kantor, dan masyarakat terutama pedagang pasar Inpres mulai mengeluh karena bangunan pasar sudah nyaris ambruk,” kata Fy.

Diakui, Walikota Lubuklinggau, H SN Prana Putra Sohe, saat ini memang Pemerintah Kota Lubuklinggau kekurangan gedung untuk perkantoran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), salah satunya Badan Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal yang saat ini masih menempati gedung yang tidak terlalu luas.

“Sementara pakai dulu yang ada, nanti eks kantor DPRD untuk perizinan, kalau aset diserahkan enak,kita punya gedung untuk SKPD-SKPD,” ujar Nanan, panggilan akrab wali kota.

 

TEKS         : SRI PRADES

EDITOR     : FJ ADJONG

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster