Ceceran Misteri Sabokingking

 9,780 total views,  6 views today

Pintu gerbang menuju Makam Sabokingking Palembang.| Foto : Ferry Hotman

Pintu gerbang menuju Makam Sabokingking Palembang.| Foto : Ferry Hotman

PALEMBANG – Sejarah berdirinya kawasan Sabokingking memang penuh misteri. Tak hanya minimnya penelitian yang bersifat sosial, sedikit sekali mereka yang menaruh perhatian sejarah dan penelitian sejarah. Inikah warisan ceceran misteri Sabokingking.

Dalam cerita semacam Ratu Senuhun Sabo Ing Kingking atau dikenang Sabokingking di Lemabang 3 Ilir Palembang disebutkan ada makam kuno sebagai pemakaman kuno raja-raja Palembang yang diyakini adalah makam Islam peninggalan dari masa sebelum Palembang resmi berbentuk Kesultanan (kerajaan Islam yang Kaffah yang seutuhnya).

Catatan sejarah juga mengungkap bahwa di bawah naungan protektorat, perlindungan Kerajaan Jawa Mataram, rajanya yang di Palembang hanya disebut sebagai Pangeran atau Ratu Jamalluddin Mangkuraj. Namun, setelah wafat hanya disebut Pangeran Sido Ing, diantaranya raja-raja ini ada yang bernama atau bergelar Ratu Senuhun Sabo Ing Kingking, (Sabo berarti tempat dan Kingking berarti bersedih. Apakah ia adalah seorang wanita yang kemungkinan  adalah istri dari raja yang berkuasa?.

“Tersebab kemajuan zaman terkadang manusia lupa akan sejarah mereka bermukim. Jadi, amatlah wajar bila tempat bersejarah sepi pengujung, khususnya di Kota Palembang. Justru Palembang dikenal dengan kota yang berjuta sejarah dan merupakan salah satu kota tertua di Indonesia, bahkan se-Asia Tenggara,” demikian kata Vebri Al Lintani, Pemerhati Sejarah, Jumat (6/2).

Husni, juru kunci Sabokingking kepada Harian Umum Kabar Sumatera menyebutkan, Sabokingking merupakan sebuah makam kerajaan. Nama Sabokingking ini berasal dari bahasa Sansekerta, sama dengan kerajaan Majapahit yang nama rajanya adalah Hayam Wuruk. Untuk Sabokingking dipimpin raja bernama Pangeran Sido Ing Kenayan. Pangeran ini berasal dari Jawa, istrinya bernama Ratu Sinuhun. Pangeran ini memiliki seorang guru spiritual atau penasihat yang bernama Habib Muhamad Nuh.

“Berdasarkan data ahli arkeologi diperkirakan sekitar 1616-1628. Pangeran Sido Ing Kenayan ini penyebar atau pengembang agama Islam di Palembang,” ungkapnya.

Ucap Husni, istri pangeran atau Ratu Sinuhun juga merupakan pembuat peraturan-peraturan Simbur Cahaya. Yang artinya adalah peraturan hukum-hukum adat yang ada di Sumatera Selatan.

“Karena di zaman dahulu belum ada hukum pidana, hukum perdata, dan hukum-hukum seperti yang ada saat sekarang ini,”tutur Husni.

Simbur Cahaya Itu Hukum Adat

Lanjut Husni, yang ada di Simbur Cahaya adalah hukum adat. Hukum adat ini berisi tentang cara-cara kaum wanita dan laki-laki melakukan pernikahan, melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang agama, tradisi-tradisi lainnya. Apabila ingin lebih jelas lagi, lihat prasasti yang telah disahkan dan diakui oleh pemerintah, ahli-ahli arkeologi, dan Negara.

“Begitu Pangeran ini wafat, digantikan anaknya bernama  Pangeran Sido Ing Rajek yang kuburannya ada di Sako Tigo, Inderalaya. Dan, setelah masa jabatan keturunan-keturunan ini berakhir, sekitar 150-200 tahun muncullah Sultan Mahmud Badaruddin. Jadi SMB itu di bawah dari kerajaan Sabokingking ini, di atas makam Sabokingking ini adalah Bukit Besar yang lebih condong ke agama Hindu,” ulasnya.

Pada kerajaan ini, sebelum Raja Aryo Damar menjadi penganut Islam. Di sana, dulunya sebagai pusat agama Hindu yaitu yang bernama Shakyakirti dan Dharmapala. Jadi, sampai sekarang Shakyakirti dan Dharmapala namanya diabadikan. Setelah Aryo Damar masuk Islam, maka berubahlah namanya jadi Abdilla.

“Karena orang Palembang menyebutnya Aryodilla, itulah sebabnya ada jalan yang namanya Aryodilla. Akhirnya, kerajaan Sriwijaya muncul. Setelah itu, Sriwijaya runtuh masuklah Sabokingking ini dan menyebarkan agama Islam. Akhirnya berkuranglah penganut-penganut agama Hindu dan yang terbanyak agama Islam, termasuklah rajanya yang bernama Aryo Damar tadi memeluk agama islam.

Dan yang dapat dibuktikan oleh ahli arkeologi, sebelum Aryo Damar menjadi Islam, terdapat kuburan-kuburan yang menghadap ke arah timur,utara,selatan. Setelah Aryo Damar masuk Islam, kuburan-kuburan pun akhirnya menghadap kiblat (barat) bagi orang-orang yang beragama Islam,” ujar Husni.

Lanjut Husni, Komplek Makam Sabokingking juga terdapat di dalam kawasan PT Pusri. Tokoh yang dimakamkan di komplek ini antara lain Pangeran Sido Ing Kenayan (1630-1642 M), Sido Ing Kenayan adalah Raja Palembang yang menggantikan pamannya, Pangeran Sido Ing Puro (1624-1630 M) dan kedudukannya kemudian digantikan oleh sepupunya, Pangeran Sido Ing Pasarean (1642-143 M).

“Makam itu berdampingan dengan makam istri Pangeran Sido Ing Kenayan, yaitu Ratu Sinuhun. Di samping itu, terdapat pula makam guru agama raja, Habib Muhammad Imam Alfasah yang berasal dari Arab. Hingga kini, Ratu Sinuhun diyakini sebagai penulis kitab Simbur Cahaya. Kitab ini sering pula disebut Undang-undang Simbur Cahaya, yang isinya norma hukum adat,” ucap Husni.

Ia menyebutkan, ada pula keyakinan bahwa Simbur Cahaya adalah pengesahan hukum adat (lisan) yang di masa itu berlaku pada masyarakat pedalaman. Simbur Cahaya pada dasarnya memang mengatur rakyat di luar Palembang atau dikenal dengan istilah uluan. Aturan adat ini berlaku hingga ratusan tahun sampai Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 berlaku efektif di Sumatera Selatan.

Diduga pula saat peninggalan Kerajaan Sriwijaya ditemukan pemakaman Sabokingking, Palembang. Batu ini mirip bagian puncak bangunan candi atau stupa. Batu berbentuk segi empat, berukuran 74 cm x 74 cm x 26 cm itu dalam posisi empat tingkat. Tiap sudutnya terdapat lubang sedalam 5 cm. Batu ini ditemukan sejumlah pekerja yang tengah merenovasi pemakaman Sabokingking, makam leluhur Kerajaan Palembang (kerajaan sebelum Kesultanan Palembang Darussalam) di Sungai Buah, Ilir Timur II, Palembang.

Kesaksian Kemas Madinah

Pembaca doa di kawasan Sabokingking bernama Kemas Madinah Yahya (70) di rumahnya sejarak 100 meter dari makam menyebutkan, bahwa saat pekerja membuat lubang di belakang Pangeran Sido Ing Pasaeran atau belakang bagian kepala Tuan Sayid Guru Muhammad Nur, tiba-tiba linggis mereka menyentuh benda keras. Saat dikorek secara perlahan ternyata sebuah batu. Lalu?

Kemas Madinah Yahya Pembaca Doa makam Sabokingking Palembang. | Foto ; Ferry Hotman

Kemas Madinah Yahya Pembaca Doa makam Sabokingking Palembang. | Foto ; Ferry Hotman

“Usai berusaha selama dua hari, batu tersebut akhirnya dapat diangkat. Lokasi ditemukan batu itu sendiri tetap dipasang kerangka besi untuk tiang penyanggah makam. Menurut arkeolog dari Balai Arkeolog Palembang yang sempat melihat batu tersebut memperkirakan batu itu mirip bagian puncak bangunan candi atau stupa. Bila benar, itu artinya bagian penting dari peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Apalagi diyakini bahwa pemakaman Sabokingking memang diduga dibuat di atas bangunan candi-candi peninggalan Kerajaan Sriwijaya,” jelasnya.

Makam Sabokingking merupakan makam tertua para raja atau pangeran di Palembang. Di makam ini disemayamkan Pangeran Sido Ing Kenayan (1622-1630), Sido Ing Pasaeran atau Jamaluddin Mangkurat I (1630-1652), Ratu Sinuhun-penulis kitab Simbur Cahaya-serta imam kubur Al Habib Al Arif Billah Umar bin Muhammad Al Idrus bin Shahab.

“Serta Panglima Kiai Kibagus Abdurrachman,” tutup Madinah.

 

TEKS       : CANDRA WAHYUDI

EDITOR    : RINALDI SYAHRIL

 

 

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster