Waspada, Pakaian “BJ” Mengandung Bakteri Berbahaya

 850 total views,  2 views today

Baju impor bekas masih sangat di gandrungi khususnya Palembang,Padahal di dalam baju bekas tersebut banyak sekali mengandung bakteri. |  Foto : Ferry/KS.

Baju impor bekas masih sangat di gandrungi khususnya Palembang,Padahal di dalam baju bekas tersebut banyak sekali mengandung bakteri. | Foto : Ferry Hotman

PALEMBANG – Masyarakat Metropolis yang biasa membeli pakaian bekas atau biasa disebut BJ, harus lebih waspada. Pasalnya, pakaian BJ yang biasa di jual di pasar-pasar mengandung bakteri berbahaya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Palembang, Anton Suwindro mengatakan, meskipun di Palembang belum ada laporan dari masyarakat. Namun, pakaian bekas yang dijual di pasar-pasar di Palembang, bisa saja mengandung bakteri berbahaya, tapi masyarakat tidak mengetahuinya.
“Bakteri yang terdapat dalam pakaian bekas itu seperti, bakteri staphylococcus (S aureus), bakteri escherichia coli (E coli), dan jamur. Nah untuk di Palembang saya belum tahu, apakah ditemukan bakteri tersebut atau tidak,”ungkapnya, Kamis (5/2).

Sambung Anton, apabila pakaian bekas mengadung bakteri dan kemudian dipakai manusia, maka akan menimbulkan berbagai macam penyakit, terutama penyakit alergi kulit.

“Tapi, bakteri itu bisa saja mati. Karena sudah lama. Artinya, pakaian bekas tersebut dicuci dulu sebelum dijual ke pasaran,”ujarnya.

Menurut Anton, untuk melarang masyarakat membeli pakaian bekas tersebut cukup sulit. Karena, biasanya barang bekas itu dijual dengan harga murah, namun bermerek.

“Walaupun demikian, kami mengimbau agara masyarakat lebih waspada, jangan sampai terkena penyakit akibat menggunakan pakaian bekas,” imbuhnya.

Anton menambahkan, warga Palembang memang ada terkena penyakit kulit. Namun, penyebabnya tidak bisa disimpulkan karena menggunakan pakaian bekas.

“Kami tidak tahu. Tidak mungkin kami tanya kepada pasien, apakah baju bekas yang menyebabkannya menderita penyakit kulit ? Ya, intinya harus bersih. Karena bakteri itu hidup ditempat yang kotor,”ulasnya.

Terpisah, Kabid Pembinaan Perdagangan Luar Negeri, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Palembang Mardiana Tarigan mengatakan, pihaknya siap melakukan sidak kelapangan untuk memastikan, apakah pakaian bekas di Metroplis berbakteri atau tidak.

“Kami masih menunggu dari Disperindag Provinsi Sumsel, untuk menindaklanjuti hal ini,”katanya.

Sambungnya, pihaknya sudah merekomendasikan kepada Disperindag Sumsel, untuk pengawasan impor pakaian bekas melalui, Angka Pengenal Impor (API).

“Jadi, dengan adanya API tersebut, segala bentuk perdagangan produk impor bisa diketahui. Untuk penerbitan API itu, wewenang Disperindag Provinsi Sumsel, kami hanya rekomendasikan saja”ujarnya.

Berdasarkan pantauan Kabar Sumatera, di lokasi penjualan pakaian bekas, di bawah Jembatan Ampera, masyarakat masih antusias mencari dan memilih pakaian bekas. Mereka sepertinya tidak peduli adanya isu pakaian bekas mengandung bakteri.

“Selama saya gunakan pakaian bekas, aman-aman saja. Tidak ada penyakit, karena biasanya ketika membeli pakaian bekas, langsung dicuci. Artinya tidak langsung dipakai,”ungkap, pecinta pakaian bekas, Nurdin (34).

Nurdin menambahkan, ia senang membeli pakaian bekas, karena bermerek. Sementara harganya sangat terjangkau.

“Kalau harga baju biasanya kisaran Rp 10-Rp40 ribu. Sementara untuk celana, harganya kisaran Rp40-Rp150 ribu,” ujarnya.

 

TEKS        : ALAM TRIE MARSATA

EDITOR    : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster