H Darmadi Djufri Kembali jadi Advokat setelah 15 tahun cuti

 486 total views,  2 views today

PALEMBANG – Seorang advokat, seharusnya tidak tergantung atau terfokus pada perkara litigasi atau persidangan saja. Sebab jika dilihat dari persidangan di pengadilan, jumlahnya masih kurang dari jumlah advokat yang ada sekarang ini. “Dalam setahun jumlah persidangan di pengadilan hanya sekitar 200 kali. Sedangkan jumlah advokat yang ada hanya 544 orang. Jadi tidak sampai separuh jumlah persidangan. Masih banyak masalah hukum perlu pendampingan,” ujar Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Peradi Sumatera Selatan (Sumsel), H Bambang Haryanto SH MH saat menghadiri syukuran dan peresmian kantor hukum H Darmadi Djufri SH dan rekan, di Jalan Angkatan 66, Palembang, belum lama ini.

Bambang menambahkan, pada zaman orde baru, bila ada masalah hukum, maka yang dicari pertama kali bukan pengacara, tetapi ada dan tidaknya keluarga anggota TNI. Setelah itu kepolisian atau yang lainnya. “Sementara profesi advokat urutan yang kesekian, karena advokat dianggap sebelah mata. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Karena saat ini presiden pun butuh advokat, begitu juga dengan gubernur atau wali kota atau bupati butuh advokat untuk berkonsultasi  jika ada masalah hukum,” ujarnya.

Menyinggung tentang jumalh advokat di Sumsel, Bambang mengatakan, berdasarkan data anggota di Peradi Sumsel, menurut Bambang, saat ini jumlah advokat ada 544 orang. Namun, jumlah itu disebut Bambang dirasa masih kurang untuk memenuhi kebutuhan advokat. Mengingat, sampai saat ini kebutuhan advokat atau pengacara dalam menangani masalah hukum, masih sangat tinggi, sehingga membuat profesi advokat semakin dibutuhkan.

“Jika melihat jumlah penduduk dan tingginya kebutuhan pendampingan masalah hukum, di Sumsel ini masih butuh sekitar 2000 orang advokat lagi. Jika jumlah itu sudah tercapai, baru bisa dikatakan ideal,” ucap Bambang.

Meski diketahui banyak mengalami kekurangan tersebut, Bambang bukan berati orang-orang yang bakal menjadi advokat direkrut secara sembarangan. Melainkan harus melalui tahapan dan mekanisme yang jelas.”Setiap advokat itu, harus mempunyai kecakapan dan kemanpuan di bidang hukum. Karena saat ini profesi advokat sudah menjadi pilihan sama seperti profesi lain, bukan lagi dianggap sebelah mata,” terangnya.

Ditempat yang sama, H Darmadi Djufri mengatakan, dirinya kembali menjadi advokat setelah cuti, karena menjadi politisi. Sikpanya itu, disebut Darmadi, adanya keinginan Darmadi untuk mencoba memberikan andil dan peran, bahwa advokat merupakan profesi yang mulia dan penentu suatu daerah atau wilayah.

“Saat ini masyarakat menginginkan keadilan. Jadi masyarakat butuh seorang advokat dan itu merupakan peluang. Makanya saya kembali lagi menjadi advokat setelah 15 tahun meninggalkan profesi ini. Saya juga ingin menekankan bahwa seorang advokat itu mesti mempunyai kemampuan atau kecakapan,” tukasnya.

 

TEKS        : ARDHY FITRIANSYAH

EDITOR    : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster