Bola Amputasi Kaki Herman

 233 total views,  2 views today

(12), bocah kelas 6 SDN 2 Sukapulih, Kecamatan Pedamaran, Kabupaten OKI. | Dok KS

(12), bocah kelas 6 SDN 2 Sukapulih, Kecamatan Pedamaran, Kabupaten OKI. | Dok KS

Nasib malang dialami Herman (12), bocah kelas 6 SDN 2 Sukapulih, Kecamatan Pedamaran, Kabupaten OKI. Dia harus mengalami hal terburuk dalam hidupnya, terkubur sudah cita-citanya yang saat ini masih dalam perjuangan panjang.

KAYUAGUNG –Belum sembuh kesedihan Rini (30) , sejak ditinggal sang suami meninggal beberapa tahun lalu, kini dia dirundung duka kembali. Di saat anak semata wayangnya yang dia besarkan seorang diri, kini Herman sang anak yang duduk di bangku sekolah dasar, mendapat musibah terbesar dalam hidupnya.

Kaki kanan Herman terpaksa harus diamputasi lantaran luka yang membusuk tak kunjung sembuh, akibat dari bermain sepakbola di sekolahnya beberapa bulan lalu. Dengan memendam kesedihan mendalam dihatinya, Rini, menceritakan kejadian yang menimpah buah hatinya. Peristiwa yang membuatnya harus pasrah dengan semua ini bermula ketika sang anak bersama temannya sekolahnya bermain sepakbola.

“Awalnya anak saya main bola di sekolahnya, saat main bola dia beradu kaki dengan temanya, karena saya pikir itu bengkak biasa jadi tidak terlalu dipikirkan, namun ternyata lama kelamaan kaki yang membengkak terus parah dan membusuk,” ujarnya.

Rini mengatakan, tak menyangka kalau bengkak di kaki anaknya akan membuat keadaanya kian parah. Untuk berobat ke rumah sakit memeriksakan keadaan anaknya dia tak mampu. Lantaran tak ada biaya.

“Belum pernah saya bawah ke dokter, karena tahu sendiri kami makan saja susah. Sekarang dengan kondisi seperti saat ini barulah kami rujuk anak kami ke rumah sakit setelah mengurus beberbagai persyaratan,” ungkap Rini.

Rini yang tidak bisa berbuat banyak hanya mampu berdoa kepada Allah SWT akan nasib anaknya. ” Saya memikirkan bagaimana nasib anak saya setelah diamputasi. Sementara sejak dia sakit dia sudah tak masuk sekolah lagi,” terangnya.

Mengenai hal ini, pihak sekolah tempat Herman, sang bocah bersekolah telah memberikan sumbangan sukarela. Hanya saja uang itu habis untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

“Ya, dari pihak sekolah sudah ada bantuan sumbangan kepada anak saya,” katanya.

Dia berharap setelah diamputasi kaki anaknya, pemerintah melalui instansi setempat dapat memberikan bantuan kursi roda. Dan Dinas Pendidikan bisa memperhatikan pendidikan anaknya untuk bisa melanjutkan sekolah walau dengan kondisi cacat.

“Kalau bisa ada perhatian pemerintah, karena itu yang kami harapkan,” harapnya.

Erpani, tetangga Rini mengatakan, sangat sedih dan prihatin dengan kondisi anaknya saat ini.

“Saya sangat prihatin, setelah ditinggal sang suami, dia mendapatkan cobaan seperti ini. Anak semata wayangnya cacat. Sebagai tetangga bisa berdoa agar diberikan yang terbaik,” tambahnya.

 

TEKS            : DONI AFRIANSYAH

EDITOR         : FJ ADJONG





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster