Dewan “Ancam” Penabur Bau Limbah Karet

 494 total views,  2 views today

PALEMBANG – Komisi IV DPRD Sumsel menggelar rapat bersama Badan Lingkungan Hidup (BLH) dan pihak perusahaan karet. Tujuannya untuk membahas pencemaran limbah gas yang menimbulkan bau tak sedap di tengah lingkungan masyarakat Kota Palembang saat ini. Komisi IV DPRD Sumsel kedepan akan bertindak tegas dan akan buat surat edaran soal standarisasi perusahaan karet tersebut.

Tujuannya agar semua perusahaan memenuhi standarisasi alat pemakaian, seperti truk pengangkat karet harus dengan berlapis besi agar mengurangi bau tak sedap. Selain itu dewan juga akan segera melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) ke lapangan guna mengetahui kejadian sesungguhnya di lapangan.

“kita tidak mau hanya mendengarkan penjelasan pihak perusahaan atau pihak lainnya, tapi kami akan ke lapangan supaya kita bisa melihat yang sebenarnya terjadi,” ujar Wakil Ketua Komisi IV DPRD Sumsel Yulius Maulana, Senin, (26/1).

Menurut Yulius Maulana, pihaknya sengaja memanggil BLH dan pihak perusahaan karet, guna mengatasi limbah yang kerap mengganggu kenyamanan masyarakat, khususnya Kota Palembang, baik limbah gas udara maupun limbah darat yang mengalir ke air. “Solusi pada dasarnya banyak, nanti dirapatkan kembali. Beberapa solusi seperti mengundang perguruan tinggi seperti Unsri dan dibiayai agar mereka melakukan penelitian terhadap antisipasi limbah tersebut,” ujarnya.

Yulus juga mengungkapkan Kota Palembang termasuk daerah yang mengalami bau tak sedap akibat limbah karet tersebut. Sementara, penghasil karet terbesar dan mengkibatkan limbah gas udara ini Thailand, Malaysia, dan Indonesia.

Diakui, beberapa upaya atau solusi telah dewan dan perusahaan. Seperti melakukan studi banding ke sejumalh daerah. Atau pernah dilakukan dengan memakai deodoran, meskipun hal itu tidak terlalu signifigan.

“Kami meminta standarisasi alat yang mereka gunakan, seperti truk yang membawa karet harus memakai dump dari bahan besi. Atau bila perlu ada relokasi agar masyarakat tidak mengeluh bau tak sedap. Demikian juga jarak perusahaan dengan lingkungan masyarakat juga harus diatur,” terang Yulius.

Dalam rapat tersebut pihak perusahaan karet juga telah memberikan solusi guna menghilangkan bau tak sedap dan limbah lainnya. Seperti menggunakan deodoran untuk limbah gas udara, dan menggunakan lumpur untuk gas darat. “Solusi limbah cair pake lumpur, karena lumpur tersebut mengandung bakteri mengatasi limbah tadi,” kutip Yulius menirukan pihak perusahaan.

Sementara itu, salah satu anggota Komisi IV DPRD Sumsel dari Fraksi PAN, Rudi Apriadi mengakui, kalau limbah udara di Palembang dari hulu ke hilir telah menyebabkan bau tak sedap. Hingga akhirnya tidak nyaman bagi masyarakat. Hal tersebut menurut Rudi saat ini sedang akan dicarikan solusinya. “Kita sudah beri solusi dengan menggunakan bak besi pada kendaraan pengangkut karet tersebut, tidak cukup dengan wadah ember saja,” ujarnya.

Menurut Rudi, sebelumnya sudah ada solusi dengan menggunakan deodoran. Namun hasilnya tidak signifikan. “Kedepan, kami meminta jangka panjang, direkomendasikan perusahaan untuk merelokasi, agar pabrik karet ada jarak radius dari lokasi mereka ke Kota, ya paling tidak bau itu dapat dikurangi,” ujarnya.

 

TEKS      : ARDHY FITRIANSYAH
EDITOR   : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster