Sedang Tren, Banyak Pedagang yang Beralih Jualan Batu Akik

 258 total views,  2 views today

Seorang Pembeli Sedang Memilih Batu Akik di Pasar Cinde | Dok KS

Seorang Pembeli Sedang Memilih Batu Akik di Pasar Cinde | Dok KS

MUARAENIM – Maraknya atau tren batu akik, membuat beberapa pedagang rela beralih berjualan batu akik. Selain pendapatan yang dari batu cukup besar, juga bisa dijadikan ajang silaturahmi antar pecinta batu akik.

Seperti yang dilakoni Iwan Duta (47), warga Tanjung Enim. Dirinya rela berjualan batu akik, setelah sebelumnya berjualan berbagai jenis burung dan ayam hias di Pasar Tanjung Enim.

“Sudah sekitar sebulan ini saya mempunyai usaha jualan batu akik. Sebelumnya saya berjualan ayam kate dan burung di pasar, tetapi karena ayam saya banyak yang mati akhirnya saya gulung tikar,” ucap Iwan, kemarin (18/1).

Awalnya dirinya tidak menyangka ayam-ayam kate miliknya bakalan mati mendadak. Akibatnya menanggung merugi materi hingga Rp 50 jutaan. Dari usaha ayam kate itulah, dirinya bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan dapat membiayai pendidikan anaknya.

Namun setelah merugi tersebut, saat ini dirinya memilih banting setir menjadi pedagang batu akik untuk menyambung hidup bersama keluarga.

“Awalnya kurang lebih ada 65 ayam kate jago saya mati tidak wajar dengan tiba-tiba. Padahal, sebelumya tidak ada tanda-tanda sakit atau mengalami kekerasan. Saya perhatikan nafsu makan ayam-ayam tersebut masih seperti biasanya, dan tidak ada perubahan memburuk. Saat ayam mati itu mulut berbusa dan seperti ayam yang sedang tidur,” tuturnya.

Dikatakannya, ternyata ayam mati mendadak tersebut tidak hanya dialami dirinya saja. Tetapi ada sebagian peternak ayam lain yang ada di Kecamatan Lawang Kidul.

“Dengan adanya dampak ayam sakit dan mati tiba-tiba, banyak peternak ayam seperti saya di kecamatan Lawang Kidul gulung tikar ataupun bisa disebut kurang beruntung,”imbuhnya.

Beruntung dengan semangat serta dorongan dari keluarga membuat dirinya tetap bangkit ditengah keterpurukan karena merugi usaha ternak ayam. Kemudian ia berpikir positif dan membaca peluang yang ada, karena juga ada dorongan tanggung jawab keluarga di pundaknya.

Saat ini, Ia membaca peluang usaha batu akik sedang moncer di Muara Enim khususnya di Kota Tanjung Enim.

“Kemudian saya berpikir untuk beralih menjadi berjualan batu akik, sekarang ini orang-orang sedang mencari bermacam-macam jenis batu untuk dijadikan penghias jari, kalung maupun antingan,” sambungnya.

Kemudian kegigihannya mencari batu tersebut mulai menuai hasilnya. Dengan hanya bermodal promosi dari mulut ke mulut yang dilakukan oleh para tetangga di sekitar rumahnya. Hingga sekarang ini sudah banyak sekali batu-batu koleksinya di pakai oleh banyak kalangan.

“Selama dua minggu saya sudah banyak menemukan bongkahan batu giok aceh, badar besi, sarang tawon, dan yang paling banyak adalah teratai bermotif warna ganda,” ucapnya.

Setidaknya, dengan usahanya tersebut dirinya bisa mendapatkan untung hingga Rp2 juta untuk setiap bongkahan batu giok aceh dengan ukuran sedang.

“Sedangkan, untuk batu jenis teratai sendiri bisa mencapai 1 juta rupiah dengan 2 motif warna saja. Tetapi jika warnanya ada 3 sampai 4 warna, harganya bisa lebih tinggi hingga mencapai Rp3 juta dan masih berbentuk bokahan batu,” ucapnya.

Senada dituturkan pedagang lain, Komar (23), dirinya sengaja mencoba berjualan batu akik karena sekarang lagi tren. Sebelumnya, kata dia, dirinya berjualan pakaian di Los Pasar Tanjung Enim.

“Alhamdulillah, dari berjualan batu akik pendapatan yang dihasilkan cukup besar. Dan mampu menghidupi istri dan anaknya sehari-hari,” terangnya.

 

Teks    : SISWANTO

EDITO   : FJ ADJONG





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster