Harga Elpiji 12 Kilo Rp 128 Ribu

 389 total views,  2 views today

Ilustrasi Tabung Gas Elpiji 12 Kg | Dok KS

Ilustrasi Tabung Gas Elpiji 12 Kg | Dok KS

PALEMBANG – PT Pertamina Fuel Retail Marketing Region II Sumbagsel memutuskan menurunkan harga jual elpiji non subsidi tabung 12 kilogram dari Rp 133.500 per tabung menjadi Rp 128.500 per tabung atau lebih rendah yang berlaku di Pulau Jawa Rp 129.000 per tabung. Ini menyusul dari penetapan kebijakan oleh pemerintah pusat yang menurunkan elpiji 12 kg berlaku Senin (19/1) pukul 00.00WIB.

“Sesuai dengan petunjuk Pertamina pusat bahwa penurunan berlaku Senin ini. Kami telah mengedarkan surat ke seluruh agen terkait penurunan elpiji non subsidi ini. Ya, pastinya masyarakat senang dengan adanya penurunan elpiji, termsuk pula penurunan harga BBM jenis premium dan solar,” kata Senior Supervisor External Relation Pertamina Fuel Retail Marketing Region II Sumbagsel, Alicia Irzanova, Senin (19/1).

Kata dia, adanya selisih Rp 500 per tabung antara Sumsel dengan Pulau Jawa lantaran suply poin (Titik tempuh, Red) nya lebih dekat. Proses pengisian LPG di rumah pengisian mobil pengangkut (filling set) elpiji ada di Lampung dan Sumsel. Untuk Sumsel masuk di Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE) Pulau Layang dan Kalindo.

Untuk rata-rata konsumsi harian elpiji 12 kg di Sumsel bisa mencapai 73 ton per hari.  Saat ini, kata dia, masyarakat Sumsel yang menggunakan gas elpiji 12 kg hanya mencapai 10%. Sedangkan pengguna gas elpiji 3 kg berada dipersentase 90%. Artinya pasar masih banyak menyediakan gas 3 kg ketimbang 12 kg menginggat tingginya demand gas melon tersebut.

“Total agen gas ukuran 12 kg sekitar 10 agen di area Sumsel. Sedangkan agen gas 3 kg di Sumsel capai 104, termasuk 33 agen 3 kg di Palembang. Ketersediaan gas baik 3 kg dan 12kg termonitoring dalam sistem hingga ditingkat pangkalan sehingga akan ketahuan jika terjadi kekosongan,” jelasnya.

Dia mengaku ketika gas telah sampai ditingkat pangkalan, tiap agen akan melaporkan ke Pertamina. Begitu pun sebaliknya. Jika belum sampai, pihaknya akan menelpon agen mengapa gas belum tiba ke pangkalan.

“Kami pastikan indikasi yang mengarah ke penimbunan dan lainnya, terutama ke tingkat pangkalan tidak akan terjadi menginggat sudah kami antisipasi sedini mungkin. Tapi jika telah menyentuh ke tingkat pengecer, tidak termonitor lagi karena bukan menjadi tanggungjawab kami,” terangnya.

Sementara itu, Boy, pemilik rumah makan di bilangan HA Bastari Jakabaring mengaku kendati pihaknya telah beralih menggunakan 3 kg pasca kenaikan harga elpiji Januari lalu, namun pihaknya enggan kembali lagi ke gas 12 kg.

“Kalau tabung 12 kg hanya bertahan satu bulan pemakaian. Saya lebih baik beralih ke elpiji 3 kg. Bayangkan saja, jika dikalkulasikan justru elpiji 3 kg lebih murah ketimbang menggunakan 12 kg. Saya ogah untuk kembali lagi ke tabung 12 kg. Dengan penggunaan elpiji 12 kg, kami hanya mendapatkan marjin kecil,” katanya.
TEKS        : AMINUDDIN

EDITOR    : RINALDI SYAHRIL


TAG



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster