Demi Sepakbola, Dian Agus Harus Naik Turun Bukit

 1,267 total views,  2 views today

Kiper Sriwijaya FC, Dian Agus Prasetyo. | Foto : Iqbal Basayef

Kiper Sriwijaya FC, Dian Agus Prasetyo. | Foto : Iqbal Basayef

PALEMBANG – Siapa yang tak kenal dengan Dian Agus Prasetyo, kiper timnas Indonesia yang saat ini memperkuat klub besar asal Palembang, Sriwijaya FC. Beribicara soal karirnya di kanca persepakbolaan tanah air hingga menembus skuat tim nasional,  tentu tidak semudah yang dibayangkan.

Pria kelahiran 3 Agustus 1985 ini pun harus melalui proses yang sulit dan  panjang sejak Kelas II Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Dian Agus pun menceritakan bagaimana susahnya mencapai kesuksesan seperti sekarang ini dan menjadi salah satu andalan timnas di bawah mistar gawang.

Dian harus menempuh perjalanan naik turun bukit sepanjang 4 kilometer dengan mengayuh sepeda di kampung halamannya Ponorogo, Jawa Timur, demi berlatih di sebuah Sekolah Sepak Bola (SSB) lokal. Itu semua dilakukan karena hobi terhadap olahraga yang seperti diketahui disukai segala lapisan masyarakat.

“Saya lakukan itu selama bertahun-tahun, dan tidak ada tujuan lain kecuali demi impian saya  menjadi pesepakbola profesional. Alhamdulillah dengan usaha yang keras dan tidak pernah menyerah, akhirnya saya bisa seperti sekarang ini,” kata Dian Agus Prasetyo.

Sejak meniti karir, Dian Agus telah memilih posisi pemain sebagai penjaga gawang. Pilihan itu tentu saja karena Dian merasa postur tubuhnya yang tinggi akan sangat mendukung bila diposisikan sebagai pertahanan terakhir dalam menjaga gawang.

Usai berlatih di SSB Ponorogo, Dian Agus mencoba mengepakkan sayapnya  masuk ke klub junior Persatuan Sepak Bola Ponorogo (Persepon). Di sini karirnya terbilang bagus sehingga manajemen klub mempromosikannya ke skuat senior Persepon yang berkompetisi di Divisi II Regional.

Seiring berjalannya waktu, kepiawaian Dian Agus di bawah mistar gawang semakin teruji dan pada tahun 2005. Ia mendapatkan kesempatan emas untuk berlaga di Divisi Utama bersama klub elit Jawa Timur, Petrokimia Gresik.

Satu musim berseragam  Petrokimia, karirnya semakin menanjak di tahun berikutnya  lantaran Persijap Jepara yang kala itu bermain di wilayah Barat Liga Indonesia 2006 tertarik mengajaknya bergabung. Tahun itu juga sekaligus menjadi awal karirnya bergabung dalam skuat  timnas U-23.

“Waktu itu jalan saya dimudahkan. Dan semuanya berkat kerja keras dan disiplin yang saya tanamkan dalam diri saya,” ujarnya.

Dian Agus hanya bertahan selama satu musim di Perijap Jepara, karena pada tahun 2007 ia memilih hengkang ke Pelita Jaya yang saat ini bermetamorfosa menjadi Pelita Bandung Raya. Di sini Dian Agus bertahan cukup lama hingga 2010 dan karirnya pun semakin menanjak. Sebab untuk kali keduanya ia berkesempatan mengenakkan seragam timnas, namun untuk kali ini ia tergabung di tim senior yang akan mengikuti kualifikasi Piala Asia AFC 2007.

Karir Sempat Meredup

Kesuksesan Dian Agus selama tiga musim di Pelita Jaya ternyata tidak menular di tahun berikutnya, 2011, ketika ia memutuskan bermain untuk Arema Indonesia, klub yang diidolakannya semasa kanak-kanak.

Di debut perdananya bersama tim Singo Edan (julukan Arema), justru Dian Agus ditimpa musibah besar dalam pertandingan resmi Indonesia Super League (ISL) 2011/2012 saat menjamu Persela Lamongan, 6 Desember 2011.

Ketika laga baru berjalan 9 menit, Dian Agus tersungkur dan tidak bisa bangun lagi setelah bertabrakan dengan pemain depan Persela. Hasil pemeriksaan tim medis menyatakan jika tulang kering kaki kanannya patah dan diduga ada riwayat cedera di kaki tersebut.

Dian Agus akhirnya dirujuk ke RSSA Malang untuk menjalani perawatan intensif. Laga itu sekaligus menjadi laga terakhirnya di bawah mistar gawang bersama Arema Arema Indonesia di kompetisi kasta tertinggi Indonesia, karena sang pemain divonis harus istirahat satu musim untuk pemulihan.

“Selama cedera saya terus berlatih dengan klub lokal di Ponorogo sambil menunggu kompetisi selanjutnya dimulai. Untuk proses penyembuhan,  mulai dari terapi, gym wajib saya lakukan dan saya juga menjalani pengobatan dari dokter,” urainya.

Setelah pulih, kiprah Dian Agus di pentas sepakbola Indonesia pun jarang terdengar lagi, sampai ia kemudian tampil bagus dan konsisten bersama Barito Putera di kompetisi ISL 2013. Performanya di Barito itulah yang membuatnya kembali dipanggil ke tim nasional, seperti ketika ia kerap mondar-mandir ke sana kemari sejak 2006, walaupun sebagai kiper cadangan.

Meski selama di Barito posisi kiper kerap bergantian dengan Aditya Harlan, tapi klub besar Mitra Kukar tetap melirik Dian Agus hingga sang pemain berganti kostum di musim 2014. Bersama klub asal Tenggarong, Kutai Kertanegara itu, Dian Agus selalu tampil reguler jika fisiknya dalam kondisi fit. Bahkan berkat aksinya dalam satu musim terakhir itu juga, pelatih kepala timnas senior Alfred Riedl kembali memanggilnya untuk masuk skuat Indonesia mengikuti Piala AFF di Vietnam, November lalu.

Memasuki musim 2015, Dian Agus memutuskan berpindah klub ke Sriwijaya FC meskipun klub lamanya Mitra Kukar masih ingin menggunkan jasanya pada ISL tahun ini. Namun Dian Agus berujar pilihan berlabuh ke SFC karena faktor keluarga dan jaminan finansial lebih terjamin.

“Sebagai pemain profesional, pastinya masalah gaji paling penting buat saya dalam memilih klub, karena dari sinilah saya menghidupi keluarga. SFC juga klub yang paling serius meminati saya, klub yang punya target juara dan menurut pemain yang bermain di sini (SFC), gajinya  lancar,” urai pria yang sudah punya dua orang anak itu.

 

TEKS     : IQBAL

Editor    : Junaedi Abdillah





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster