Angdes dan Ojek Tolak Turunkan Ongkos

 1,226 total views,  2 views today

Tampak sejumlah angdes yang beroperasi di wilayah Empat Lawang. | Foto : Saukani

Tampak sejumlah angdes yang beroperasi di wilayah Empat Lawang. | Foto : Saukani

EMPAT LAWANG – Sejumlah sopir angkutan pedesaan (Angdes) dan tukang ojek di Kabupaten Empat Lawang terkesan mau menang sendiri. Turunnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak berpengaruh pada ongkos, bahkan muncul alibi baru para sopir menolak menurunkan ongkos karena harga sembako masih tinggi.

Informasi dihimpun Kabar Sumatera menyebutkan, tarif angdes masih di kisaran Rp 25 ribu untuk jalur Tebing Tinggi – Pendopo. Padahal sebelumnya, saat harga bensin masih Rp 6.500 per liter tarif ongkos hanya di kisaran Rp 15 ribu-Rp 20 ribu.

Sedangkan jalur Tebing Tinggi-Lahat dan Linggau, masih pada posisi naik Rp 30 ribu. Padahal, seharusnya dikembalikan ongkosnya ke Rp 20-Rp 25 ribu. Rata-rata masih pada posisi kenaikan Rp 5 ribu setiap trayek.

Sedangkan untuk ojek gandeng, sopir masih memberikan harga tinggi baik jalur jauh atau dekat. Kisaran Rp 5 ribu – 10 ribu. Di sisi lain, harga BBM sudah kembali ke posisi semula sebelum kenaikan Desember 2014, saat ini harga bensin Rp 6.600 per liter dan solar Rp 6.400 per liter.

“Kalau naik ribut. Nah coba sekarang BBM sudah turun malah sopir menolak turunkan ongkos,” keluh Rian (30), warga Pendopo, kemarin (19/1).

Diakuinya, alasan para sopir karena harga sembako masih tinggi. Itu kan sudah kelihatan bahwa sopir tak mau menurunkan ongkos. Padahal ketentuan ongkos seharusnya mengacu pada harga BBM.

Makanya sebut Rian, Dinas Perhubungan (Dishub) harus segera menetapkan tarif ongkos baru, agar para sopir tidak kebablasan seenaknya saja.

“Naik mudah turun susah, makanya kami tak setuju waktu BBM dinaikkan pemerintah. Imbasnya kan sekarang, BBM sudah turun ongkos dan sembako masih tinggi,” cetusnya.

Senda dikeluhkan Maryati (42) pedagang di pasar Tebing Tinggi, ia mengaku dalam sehari bisa empat sampai lima kali membutuhkan ojek gandeng mengangkut barang.

Nah sekarang ojek gandeng ongkosnya tak mau turun, padahal BBM sudah kembali ke harga sebelumnya.

“Tolong pemerintah tegas, jangan terkesan saling lempar tanggungjawab dong. Ini harga sudah pada naik rakyat susah,” sesalnya.

Para sopir imbuh Maryati, harusnya saling pengertian, jangan mau menang sendiri tidak memikirkan kondisi ekonomi saat ini. Terutama anak sekolah, kan ongkosnya harus disesuaikan juga. Boleh saja menaikkan ongkos, tapi kalau harga BBM naik dan kalau sudah turun harus disesuaikan juga.

“Turunkan lagi ongkos,”ujarnya.

Lain halnya disampaikan Dodi (35) sopir angdes Tebing Tinggi – Pendopo mengakui, bukannya menolak menurunkan ongkos, tapi para sopir keberatan karena saat ini harga sembako masih tinggi. Namun jika ada ketetapan tarif dari pemerintah para sopir akan mematuhi, asalkan disesuaikan juga dengan standar penghasilan para sopir.

“Kami masih modal lama pak, onderdil dan BBM. Jadi wajar masih ongkos lamo, lagi pulo sembako kan belum turun, harus disesuaikan jugo dengan penghasilan kami,” elaknya.

Sementara itu Ketua Komisi III DPRD Empat Lawang, Makmun mendesak Dishub Empat Lawang segera mengevaluasi tarif angkutan beroperasi di dalam kabupaten.

Seperti angdes, kasihan anak sekolah ongkosnya masih tinggi padahal BBM kan sudah dua kali turun.

“Dishub segera evaluasi tarif angdes dan ojek. Kalau dipanggil komisi III itu harusnya datang, jangan mengelak,” jelas politisi PDI Perjuangan ini, seraya mengaku sudah memanggil pihak Dishub tapi tak kunjung memenuhi panggilan.

Secara terpisah, Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Empat Lawang H Choiri Badri menegaskan, para sopir segera menyesuaikan ke tarif ongkos sebelumnya, saat harga BBM masih Rp 6500 per liter. Namun, untuk tarif pasti, nanti menunggu SK Gubernur Sumatera Selatan.

Untuk diketaui beber Choiri, ketentuan tarif ongkos itu ditentuan sesuai harga BBM dan jarak tempuh angkutan. Sebagai contoh pada SK Gubernur Nomor 737 tahun 2014, bahwa Tarif dasar Rp 139,95 per penumpang setiap kilometer, batas atas Rp 167,94 per penumpang per kilometer dan tarif batas bawah Rp 111,96 per penumpang setiap kilometer.

Nah untuk perubahan kita masih menunggu SK gubernur, dipastikan dalam waktu dekat akan rapat koordinasi di Dishub Provinsi Sumatera Selatan.

“Nanti kami informasikan secepatnya tarif ongkos, yang jelas nanti mengacu pada tarif dasar dan SK gubernur Sumatera Selatan, kalau ada sopir membangkang silakan laporkan ke Dishub,”tukasnya.

 

TEKS          : SAUKANI

EDITOR      : FJ ADJONG





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster