Awal Tahun, Harga Karet Masih Stagnan

 678 total views,  2 views today

Ilustrasi Karet | Dok KS

Ilustrasi Jual Beli Getah Karet | Dok KS

PALEMBANG – Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Selatan (Sumsel) mencatat memasuki awal Januari 2015 ini harga karet merujuk pada harga pasaran internasional masih bergerak stagnan dan belum menuju ke arah perbaikan. Rendahnya kualitas karet Sumsel pada khususnya dan Indonesia umumnya menjadi indikator lemahnya harga karet.

“Rendahnya harga karet sebenarnya sudah terjadi sejak 2014 lalu. Hingga memasuki awal tahun 2015 pun harga karet masih bergerak stagnan. Tapi kami optimistis di triwulan I/2015 ini harga karet akan bertumbuh, meskipun lambat,” kata Sekretaris Gapkindo Sumsel, Awi Aman, Minggu (18/1).

Saat ini, kata dia, harga karet dengan mutu bahan olah komoditas ekspor Standar Indonesia Rubber (SIR) yang diperdagangkan tercatat per 5 Januari 2015, harga karet tingkat petani dengan kualitas Bahan Olah Karet (Bokar) SIR 20 prosentase 75% sebesar Rp 14.272 per kilogram dengan asumsi satu dollar sebesar Rp 12.450.

Begitu pun untuk harga bokar SIR20 ditingkat pabrik, lanjut dia, karet taksiran terendah 85% sesuai dengan harga diatas kapal (FOB) tercatat Rp 15.975 per kg dengan FOB Palembang sebesar Rp 18.794 per kg.

“Harga karet awal Januari ini jika dibandingkan dengan rata-rata harga karet pada Desember 2014 tercatat Rp 16.193 per kg untuk bokar pabrik 90% dan Rp 13.494 per kg untuk bokar tingkat petani 75%. Jika riil dilapangan justru harga karet masih sangat rendah yakni berkisar Rp 6.000 – Rp 10.000 per kg. Itu akibat dari pola petani atau pedagang bokar rakyat yang masih memperjualbelikan bokar dengan mutu yang tidak memenuhi SNI,” jelasnya.

Ia memprediksikan triwulan I/2015 ini harga karet akan bertumbuh walaupun sedikit melambat. Pertumbuhan itu diakibatkan mulai membaiknya nilai ekspor karet dari negara tujuan.

Awi Aman menduga ada indikasi kepentingan pihak tertentu yang ingin mengambil keuntungan dari menjual karet kotor. Padahal negara tujuan ekspor karet menginginkan karet dengan bokar bersih.

“Sampai kapan pun harga karet Sumsel akan seperti ini selagi mindset atau pola pikir petani tidak diubah. Kualitas bahan baku karet Indonesia masih kalah bersaing dengan kualitas karet negara lain. Itu lantaran petani karet belum sadar tentang ketentuan mutu karet olah,” jelasnya.

Kendatipun sudah ada aturan yang dibuat pemerintah provinsi dengan mengajak pabrik karet untuk membeli karet bersih, namun aturan tersebut tidak berjalan dengan maksimal. Sebab tidak ada sanksi mengikat dalam aturan itu.

Disamping itu, lemahnya pengetahuan penyuluh karet mensosialisasikan karet berkualitas baik ke tingkat petani juga memicu masih rendahnya harga karet Sumsel.

“Saya juga tidak tahu apakah karena kurangnya sosialisasi ke tingkat petani dan serapan ilmu tidak diaplikasikan petani atau bagaimana. Selagi kualitas tidak dibenahi, walaupun Sumsel membangun hilirisasi, maka harga karet tidak akan bergerak positif,” ujarnya.

 

TEKS        : AMINUDDIN

EDITOR    : RINALDI SYAHRIL

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster