100 Hektare Hutan Nasional ‘Hilang’

 209 total views,  2 views today

Seorang Petugas Dinas Kehutanan mengabadikan jejeran kayu yang tersusun di salah satu aliran sungai kepayang, Musi Banyuasin. beberapa waktu lalu. Diduga kayu-kayu ini hasil dari para pembalak liar. | Foto : Bagus Kurniawan

Seorang Petugas Dinas Kehutanan mengabadikan jejeran kayu yang tersusun di salah satu aliran sungai kepayang, Musi Banyuasin. beberapa waktu lalu. Diduga kayu-kayu ini hasil dari para pembalak liar. | Foto : Bagus Kurniawan

PALEMBANG – Kerusakan hutan serta sumber-sumber yang terkandung di dalamnya masih berpotensi. Karena itu, tiap instansi terkait pun segera melakukan strategi dan mengevaluasi dalam mencegah kerusakan tersebut.

Direktur Jendral (Dirjen) Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Sumbagsel, Bambang Dahono Adji menerangkan, penangkapan hewan langka, perambahan hutan, serta illegal loging sudah sangat mengkhawatirkan. Untuk itu, pihaknya bersama stakeholder dan pemankgu kepentingan lain berusaha mencegahnya denga semaksimal mungkin.

“Dalam kurun waktu setahun secara nasional, terdapat 100 ha lahan yang dirambah oleh orang tak bertanggungjawab. Ini mesti ditindaklanjuti dan diberikan sanksi,” tegasnya saat diwawancarai belum lama ini.

Dirinya mengungkapkan, tindakan tegas tentu mereka lakukan. Seperti menangkap oknum secara langsung dan mengungkap kasus perdagangan hewan dilindungi, gajah dan harimau. Bahkan pihak Polri dan beacukai pun dilibatkan untuk menuntaskan persoalan ini.

“Untuk mengimbanginya, kami selalu melakukan peremajaan hutan serta menjaga hewan-hewan langka untuk dikembangbiakkan. Mulai dari reboisasi, restorasi, dan perbaikan penunjang lainnya,” sebutnya.

Direktur Taman Konservasi Satwa Liar, Maheshwar mengatakan, pada dasarnya keragaman ekosistem di alam terbagi dalam beberapa tipe, yaitu ekosistem padang rumput, ekosistem hutan, ekosistem lahan basah dan ekosistem laut.

Kanekaragaman tipe-tipe ekosistem tersebut pada umumnya, katanya, dapat dikenali dari ciri-ciri komunitasnya yang paling menonjol, dimana untuk ekosistem daratan digunakan ciri komunitas tumbuhan atau vegetasinya karena wujud vegetasi merupakan pencerminan luar interaksi antara tumbuhan, hewan dan lingkungannya.

“Potensi keanekaragaman hayati seringkali yang lebih banyak menjadi pusat perhatian adalah keanekaragaman jenis, karena paling mudah teramati. Sementara keragaman genetik yang merupakan penyusunan jenis-jenis tersebut secara umum lebih sulit dikenali,” jelasnya.

Ia berkata, kelestarian keanekaragaman hayati berada di ujung tanduk kepunahan. Laju kepunahan memang tidak bisa dihentikan, tetapi lajunya harus diperlambat dan harus sangat-sangat diperlambat. Di dalam kawasan lindung, dijelaskannya adalah peran pemerintah membuat kebijakan-kebijakan yang utamanya adalah pelestarian, diiringi dengan penegakan hukum setinggi-tingginya dan pelibatan peran serta masyarakat sekitar.

“Di luar kawasan hutan lindung, adalah peran pemerintah dan masyarakat yang sadar dan peduli akan pentingnya kelestarian hayati yang ada di sekitar, untuk itu kami ingin masyarakat dapat peduli terhadap keanekaragaman hayati negeri ini,” harapnya.

Sekretaris Dinas Kehutanan Sumsel Zulfikar mengemukakan, untuk daerah Sumsel, kasus yang terjadi masih minim. Baik itu perambahan hutan ataupun jual beli hewan. Yang ada, kasusnya masyarakat yang menjual hewan jenis tringgiling dan itu masih terus ditangani,” ujarnya.

“Kita dari Dishut juga terus berkoordinasi dengan Kepolisian Hutan (Polhut), untuk selalu mengawasi dan menindak jika ada yang melakukan hal yang dilarang,” tutupnya.

 

TEKS       : IMAM MAHFUZ

EDITOR    : RINALDI SYAHRIL

 

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster