RSMH Palembang Telantarkan Pasien BPJS

 1,010 total views,  2 views today

Ilustrasi BPJS | Dok KS

PALEMBANG – Layanan kesehatan di Rumah Sakit Muhammad Hoesin (RSMH) Palembang kembali dikeluhkan, lantaran ada pasien bernama Agus Supriyanto (53), penderita kanker getah bening (CA Sanoparing) meninggal saat dirujuk di RS Umum Provinsi Sumsel, Selasa (12/1) dinihari. Sehari usai berita ini merebak di media massa lokal, pihak RSMH pun membantah tuduhan tersebut atas tuduhan pihaknya lepas tanggungjawab dalam mengurusi pasien.

Direktur Utama RSMH Palembang, dr Muhammad Syahril angkat bicara atas kejadian ini. Dirinya sudah memintai keterangan terhadap dokter dan perawat yang bertugas pada waktu itu, kalau petugasnya tidak benar telah memulangkan secara paksa pasien atas nama Agus Supriyanto.

“Sebelumnya kami mengucapkan belasungkawa kepada pasien yang meninggal. Dia telah diagnose penyakit CA Nasoparing Stadiom 4 (kelenjar getah bening). Keadaannya saat itu sudah buruk dan melemah, namun kami terima dan langsung ditangani dengan standar dan sesuai SOP yang berlaku,” ujar Syahril.

Cerita Syahril, pasien tersebut masuk IGD dan kemudian ditangani dan dipindahkan ke ruang observasi. Saat itu pasien sempat dalam kondisi baik, namun tetap harus dirawat meskipun saat 10 Januari itu kondisi kamar inap sedang penuh.

“Di sini tidak ada kalimat ‘dipulangkan dengan paksa’. Kami tetap jalani SOP dengan meminta persetujuan keluarga untuk tindakan medis seperti pemasangan infus, pengobatan dan lain-lain. Jadi tidak benar jika dipulangkan dengan paksa,” tutur dia.

Pihak RSMH pun telah berupaya melakukan tindakan yang terbaik, sesuai dengan SOP yang ada. Namun memang kehendak ada di tangan Allah SWT.

“Apalah daya (pasien) tidak tertolong. Kami terimakasih atas perhatian masyarakat kepada pelayanan RSMH. Untuk pelayanan perawat, tadi pagi (kemarin) kami sudah panggil dokter dan perawat namun tidak ada yang melakukan hal itu (memaksa keluarga pasien). Karena memang keluarga telah menandatangani persetujuan tindakan,” ungkap pria yang menggantikan posisi Dr Yanuar Hamid SpPd MARS itu.

Jelas Syahril, secara nasional pihaknya sudah membuat statement akan melayani pasien yang menggunakan BPJS di RSMH, sesuai dengan standar yang ada dan berdasarkan peraturan pemerintah.

“Tapi memang saat itu kondisi kamar penuh. Kami sudah mengusulkan kepada Gubernur untuk membangun rumah sakit lagi di Sumsel ini. Saat ini RSMH adalah RS tipe A. Seharusnya pasien tidak boleh langsung datang kesana, melainkan harus melalui proses yang ada yakni ke puskesmas, RS tipe D, C, atau B,” jelas Syahril.

Jika perawat atau dokter ketahuan melakukan tindakan pemaksaan atau pengusiran dan menelantarkan pasien, Syahril menegaskan akan langsung memberikan sangsi kepada pegawai tersebut.

“Kita punya sistem teguran lisan dan tertulis jika ada pegawai seperti itu. Namun Insya Allah petugas kesehatan kita tidak begitu,” tutur Syahril.

Gubernur Sumsel, H Alex Noerdin yang telah mendengar penjelasan langsung dari pihak RSMH mengatakan, sebenarnya kejadian pemaksaan pulang dan menelantarkan pasien, tidak seperti isu yang beredar.

“Pasien memang datang dalam keadaan parah, satu sisi RS itu teras dan lorongnya memang selalu penuh. Pasien yang sudah ada tidak mungkin harus dikeluarkan kan? Jadi, hal ini tidak harus terulang kembali,” ucap Alex.

Diakuinya pasien tersebut sudah ditangani dengan baik. “Memang harusnya jika ada yang terlihat parah harus segera dilayani dan diprioritaskan. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi dan pasien akan sabar menunggu jika diberi perhatian dan pengertian,” ungkapnya.

Jelas Alex, berdasarkan informasi dari RSMH, pasien sudah ditangani sesuai prosedur standar. Meski kamar penuh, harusnya pihak RSMH memberi pengertian agar sementara waktu pasien bisa menempati lorong atau gang rumah sakit. Namun tetap harus dilayani dengan baik.

“Supaya ini tidak terjadi lagi, BPJS harus lebih mengarahkan perbaikan sistemnya. Pasien memang disosialisasikan untuk mengikuti prosedur rujukan. Seperti halnya Jamkesmas Semesta yang dimiliki Pemprov Sumsel itu sudah sangat mengutamakan rujukan. Ini yang harus diperbaiki,” katanya.

BPJS Dinilai Kalah

Anggota Komisi I DPRD Sumsel H Kartak Sas turut angkat bicara terkait adanya kasus meninggalnya pasien BPJS Kesehatan di RSMH Palembang. Meninggalnya pasien tersebut diduga dipaksa pulang saat dalam keadaan sekarat. Menurutnya, program BPJS Kesehatan ini jauh lebih buruk dibandingkan program berobat gratis yang sudah lama dicanangkan Pemprov Sumsel sebelumnya. Kata Kartak, BPJS Kesehatan itu hanya menambah buat sulit rakyat saja. Lebih bagus program berobat gratis dari Pemprov Sumsel lalu. “Program pembiayaan kesehatan murah yang dicanangkan pemerintah pusat masih banyak yang harus dilakukan penyempurnaan dan memang belum diselesaikan. Sehingga hingga sekarang masih mempersulit rakyat, bukan malah mempermudah,” ungkap dia. Selain itu, ia menilai BPJS Kesehatan tidak menghargai profesi dokter dengan penggantian biaya praktek yang sangat minim, pelayanan rumah sakit jadi malas-malasan. “Banyak kasus pasien BPJS Kesehatan yang ke rumah sakit, namun sering dibilang kamarnya kosong. Ini sangat tidak sesuai dengan programnya. Saya juga ingin kepala BPJS Kesehatan Sumsel menghadap kesana, mari diskusi bersama,” tandas politisi PKB Sumsel ini.

 

TEKS        : IMAM MAHFUZ/ARDHY FITRIANSYAH

EDITOR    : RINALDI SYAHRIL

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster