Hunting dari Aceh Sampai Timur Leste, Pria ini Habiskan Miliaran Demi Batu Akik

 372 total views,  2 views today

Ilustrasi Pembeli Batu Akik | Dok KS

Ilustrasi Pembeli Batu Akik | Dok KS

Yang namanya hobi memang tak bisa dinilai dengan uang. Buktinya, pecinta batu akik rela menghabiskan uangnya dari ratusan ribu hingga miliaran rupiah untuk mendapatkan batu bagus. Semuanya itu dilakukannya hanya untuk mendapatkan kepuasan. Seperti apa?

PENGGEMAR batu akik tidak takut berspekulasi dan berinvestasi. Karena harga batu akik tersebut tak pernah turun. Tak hanya disimpan di rumah sebagai koleksi, namun ada juga menyimpannya di safety box di bank. Tujuannya tak lain sebagai antisipasi pengamanan barang berharga miliknya.

Siang itu di pusat pengerajin batu akik di jalan Hiligoo, depan Imam Bonjol Pasar Raya Padang, terlihat orang-orang lalu lalang. Orang-orang ini punya tujuan masing-masing. Rata-rata mereka yang berjalan di sekitaran penrajin batu akik tersebut banyak disinggahi pengunjung yang berjalan kaki. Mulai dari remaja hingga sampai usia lanjut.

Tak lama setelah itu, datang seorang laki-laki menanyakan harga batu Mulia Rubi kepada Yon, salah satu perajin batu akik di tempat itu. Tidak lama datang seorang lagi yang hanya ingin membeli ikatan batu akik yang dia miliki. Setelah itu, datang pula seorang lainnya yang ingin membeli ikat liontin untuk memasang batu akik jenis teratai tunggal dengan ukuran besar.

Pembeli sedang memilih batu akik, di komplek Pasar Cinde, Palembang. | Dok KS

Pembeli sedang memilih batu akik, di komplek Pasar Cinde, Palembang. | Dok KS

Disela-sela kesibukan Yon datanglah salah seorang pria paruh baya sedang melirik-lirik batu akik. Pria bercelana pendek, berbaju kaus berwana kuning agak kemerah-merahan dan bersendal kulit itu, ternyata dikenal oleh semua pengrajin batu yang berada di sepanjang jalan Hiligoo itu. Pria itu bernama Anton Erianto. Dia bekerja di PLN sebagai ahli kinerja areal Solok. Anton banyak mengoleksi jenis batu permata dan batu mulia.

Anton tertarik mengkoleksi batu akik semenjak tahun 1982. Sudah ratusan jenis batu mulia yang dikoleksinya. Bahkan ada yang di safety box di bank dengan ukuran 20 cm x 40 cm dengan tinggi 10 cm dengan biaya Rp 350.000 per tahun.

Dia mengaku, penyimpanan di bank itu dilakukan karena pengamanannya lebih aman dan terjaga. Penyimpanan ini telah dijalaninya semenjak tahun 1986 lalu. Menurutnya batu akik jenis batu mulia dan batu permata nilainya sangat tinggi. Agar tidak hilang maka batu akik jenis mulia dan permata tersebut disimpan supaya lebih aman. Batu yang disimpan tersebut adalah batu Bacan Combong, Levender, Tapak Jalak, Pancar Garut Ayam Jago. Selain itu, dia juga mengkoleksi batu akik jenis Sumur Bandung, Lumuik Suliki, Lumuik Pasaman.

Batu jenis akik Rubi dibeli dengan harga Rp 30 juta pada tahun 80-an. Hobi mengkoleksi batu akik, baginya merupakan investasi. Karena batu akik tahun 80-an harganya lebih murah. Namun, saat ini harga batu tersebut mencapai Rp 5 juta sampai Rp 400 juta. Hingga saat ini dia telah mengkoleksi 25 butir batu mulia Rubi. Salah satu di antaranya adalah batu Mulia Rubi Birma Myanmar dengan berat 83 karat, 16 gram.

Anton melanjutkan ceritanya, jika diuangkan dia telah menghabiskan lebih dari Rp 2 miliar guna mengkoleksi berbagai jenis batu mulia dan permata. “Saat ini batu mulia dan sejenisnya saya simpan di bank,” akunya sambil duduk di kursi panjang.

Dengan hobi tersebut, Anton mendapat dukungan dari keluarga. Tiga orang putrinya juga ikut serta mengkoleksi batu akik mulia tersebut. Di rumahnya memiliki ratusan bahan dan termasuk yang telah di asah. “Anak-anak dan istri juga ikut terlibat mensortir batu akik di rumah,” sebutnya sambil tertawa ngekeh, sehingga kedua matanya yang sipit terlihat dari garis wajahnya.

Saat ini yang ngetop adalah Bacan Sulawesi dan Lumuik Sungai Dareh. Harganya bisa berkisar Rp100 ribu hingga Rp150 juta. “Saya memiliki 25 butir Lumuik Sungai Dareh yang dikenal dengan giok Sumatera itu,” akunya.

Dia juga banyak memiliki jenis batu Lumuik Sungai Dareh yang didominasi dengan warna hijau. Batu ini juga memiliki jenis diantaranya lumuik kumbang, lumuik pucuk pisang, lumuik totol dan lumuik putih. Namun untuk batu lumuik Sungai Dareh saat sekarang ini sudah banyak dipalsukan. Selanjutnya batu Lumuik Suliki yang memiliki banyak warna seperti berwarna lavender, hijau, kuning, merah dan warna maroon.

Siapa pun penikmat batu pasti akan ngiler begitu memasuki rumah pria yang akrab dipanggil Om Wen ini. Betapa tidak, selain memiliki koleksi cincin, liontin, dan batu yang sudah diasah hingga ratusan biji, halaman belakang rumahnya dihiasi batu akik. Tidak tanggung-tanggung, batu koleksinya berasal dari Aceh hingga Timor Timur atau sekarang disebut Timor Leste.

“Tak semua batu yang bisa menjadi batu berharga. Tak seluruh batuan yang bisa diambil sebagai batu cincin. Terkadang ada kristalnya saja yang dapat diambil . Tantangannya juga ada dalam mengolah batu ini. Dimana para pengrajin dituntun untuk bisa membuat batu yang awalnya tidak berharga menjadi berharga,” ucapnya.

TEKS:YUNI DANIATI
EDITOR:RINALDI SYAHRIL


TAG



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster