Menyikapi Waktu, 2014 Menuju 2015

 346 total views,  12 views today

Mustaqien-Eska

Oleh Mustaqem Eska

 

(Jurnalis, Alumnus UIN RF Palembang)

Selamat tinggal 2014, selamat datang 2015. Bicara soal yang lalu berarti bicara tentang makhluq Allah yang namanya waktu. Demikian sederhana dimensi dari waktu yaitu yang lalu, yang sekarang dan yang akan datang. Tadi, kemarin, dahulu adalah episode dari yang telah berlalu. Kita berada pada koordinat waktu yang sekarang dan mempersiapkan untuk yang akan datang.

Bagaimana kita menyikapi dimensi waktu ini? Terutama bagaimana menyikapi masa lalu kita? Demikian pentingnya waktu ini sehingga Allah Swt sempat bersumpah (wal ‘ashr) : demi waktu. Bahkan mewanti-wanti bagaimana memanfaatkan waktu tersebut. Kaitannya waktu, Kanjeng Nabi Muhammad Saw, juga memberikan kerangka panduan mengisi waktu kita. Kata Rasul, hari ini harus lebih baik dari yang kemarin, dan besok harus lebih baik dari hari ini. Kalau masa kini sama dengan yang lalu, berarti kita merugi apalagi kalau lebih jelek, kita tergolong dalam manusia yang sedang bangkrut.

Kita sadar bahwa banyak hal telah kita perbuat diwaktu yang lalu. Ada sebagian yang baik dan bermanfaat, namun juga ada sebagian lain yang jelek bahkan merugikan. Apa yang bisa kita perbuat? Kembali ke masa lalu untuk memperbaiki kesalahan atau membanggakan diri dengan keberhasilan? Tidak! Makhluq Tuhan yang bernama waktu ini berupa deret urut yang tidak mungkin diputar kembali. Yang terjadi adalah suatu ketetapan yang sudah tertulis! Kita yang telah menulis, dan senantiasa tidak akan terhapus. Lalu bagaimana jika tulisan itu penuh dengan kejelekan kita, kejelekan keluarga kita atau bahkan kejelekan organisasi kita? Kanjeng nabi juga memberikan suatu teladan, bahwa yang berlalu biarlah berlalu, namun jadikan dia sebagai cermin, jadikan dia sebagai pengingat dan jadikan point of reference (titik acuan) untuk waktu yang akan datang.

Kadang saya menjadi termenung tak habis fikir ada seorang tua memarahi anak kecilnya yang “nakal” dengan sedemikian marahnya, seolah dia lupa bahwa barangkali dia dulu mungkin lebih nakal dari anak tersebut. Atau seorang ustadz mengaji yang demikian jengkel mengajari santrinya yang sulit memahami materi dan suka mengganggu teman-temannya waktu belajar. Lupakah dia bahwa waktu mengaji dulu dia lebih parah dari santrinya sekarang, bahkan jarang masuk pula. Seharusnya kita lebih arif. Kita pernah melakukan kesalahan (karena kita bukan malaikat) dan kita pernah melakukan kebaikan (karena kita bukan iblis), maka seyogyanya kita mengambil ibrah dari pengalaman tersebut. Katanya “experience is the best teacher” pengalaman adalah guru yang terbaik. Kita jadikan kejadian masa lalu sebagai landasan untuk menghadapi yang sekarang.

Bayangkan jika kita menjadi seorang wali dan mampu melihat dimensi waktu demikian pendek dan dapat menyandingkan beberapa peristiwa dengan dekat. Ada seorang yang sukses dengan kedudukan dan rizki yang cukup, kemudian karena kesibukannya dia lupa akan orang tuanya. Pada saat diingatkan untuk merawat beliau yang sudah pikun, dia jawab ‘saya sangat sibuk, banyak tugas yang harus saya selesaikan, banyak tanggung jawab yang belum beres’ kemudian dengan “ikhlas” memasukan orang tua tersebut ke panti werda. Demikiankah yang disebut berbakti? Pernahkan anda bayangkan jika anda menjadi orang tua tersebut? Tetapi pertanyaannya kenapa hal yang demikian dapat terjadi? Jawabnya adalah si kaya raya itu terlalu menurutkan pola berfikir dia untuk masa saat ini dan lupa bahwa orang tua mereka mungkin masih berfikir dengan pola masa lalu. Timbangan kebaikan orang tua kita mungkin sangat berbeda dengan kita?

Jangan lupa pula bahwa kita akan punya masa depan yang menjadi masa dari anak-anak kita. Kalau kita kesalahan dalam “mengikhlaskan niat”, bisa jadi kita akan merasa menyesal seperti orang tua yang dimasukkan dalam panti wreda itu. Kita kadang merasa apa yang kita lakukan adalah yang paling benar sehingga anak-anak kita paksa mengikuti kita. Pernahkah kita berfikir jika kita yang menjadi anak? Apakah setiap yang orang tua anggap baik adalah baik buat kita? Jawabnya pasti TIDAK.

Jadi bagaimana seharusnya sikap berkaitan dengan dimensi waktu ini? Pedoman penilaian terhadap perilaku dan kejadian harus tidak terpengaruh oleh perjalanan waktu. Kita tahu betul bahwa pedoman itu adalah Al-Quran dan As Sunah Shahihah. Perilaku kita, orang tua kita dan anak-anak kita harus ditimbang dengan kaidah tersebut. Metode dan cara mungkin berbeda, namun tata nilai tetap sama. Metode dan cara kita di masa lalu, lupakan dan jadikan sebagai referensi saja, dan tugas kita adalah merencanakan dan melaksanakan metode dan cara seperti yang seharusnya sekarang. Demikian juga biarkan kreativitas dan imajinasi anak-anak dan santri kita untuk menghadapi masa mereka sendiri dengan metode dan cara mereka. Tidak perlu dipaksakan dengan metode dan cara kita dahulu. Tugas kita mengawal mereka dan memberikan rambu-rambu agar metode yang mereka pilih adalah yang paling dekat dengan keridlaan Allah.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster