Alfamart Desak Pemasok Tinjau Harga Barang

 519 total views,  2 views today

PALEMBANG – Pasca turunnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) per 1 Januari 2015 kemaren, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk selaku pengelola minimarket Alfamart mendesak para pemasok segera meninjau ulang harga barang.

Corporate Affairs Director Alfamart,  Solihin mengatakan dengan naiknya harga BBM beberapa hari yang lalu sangat berpengaruh terhadap harga jual barang di toko.

“Sejak Pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM pada 18 November 2014 oleh Presiden Jokowi, para pemasok telah menaikan harga berkisar 5 sampai 7 persen. Ketika harga BBM dilakukan penurunan, kami mendesak para produsen dan Pemasok juga ikut menurukan harga, agar pengelola minimarket bisa ikut menurunkan harga jual bagi konsumen,” katanya, Selasa (13/1).

Namun, penurunan harga tersebut nantinya tidak linier seperti penurunan harga BBM. Misalnya jika BBM saat ini turun 11,85% (dari Rp 8.500 ke Rp 7.600 per liter) maka harga di toko tidak bisa turun linier sebesar 11,85 persen juga.

“Intinya, kami juga akan lakukan penyesuaian, perusahaan menyambut baik kebijakan itu, dampaknya cukup positif bagi perusahaan. Kami dapat menekan beban operasional dengan signifikan. Harapan kami ke depan, tarif dasar listrik (TDL) juga akan terkoreksi,” imbuhnya.

Seperti kita ketahui Pemerintah telah menaikan harga BBM bersubsidi pada 18 November 2014 sebesar Rp 2.000 per liter (dari Rp 6.500 menjadi Rp 8.500 per liter atau sebesar 30,77%), per 1 Januari pemerintah memangkas kembali sesesar Rp 900 (dari Rp 8.500 menjadi Rp 7.600 per liter atau sebesar 11,84%)

Perlu diketehaui, pada tahun 2015 ini PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk kebanjiran demand dari para investor domestik.

General Manajer Corporate Communication Alfamart Nur Rachman  mengatakan untuk pembukaan satu gerai baru Alfamart dengan konsep waralaba membutuhkan investasi tak kurang dari Rp 400 juta. Sedangkan untuk investasi toko dengan sistem take over (ambilalih dari toko reguler) sedikitnya Rp 600 juta.

“Investasi tersebut mencakup renovasi, perlengkapan untuk di toko, instalasi listrik, perijinan hingga franchise fee sebesar Rp 45 juta dan di luar investasi lahan dan bangunan,” katanya.

Franchise fee tersebut diperbarui setiap lima tahun dengan royalti 0-4 persen tergantung penjualan. “BEP (Break Event Point) sekitar 3,5 tahun, sedangkan pembagian keuntungan pertama akan diterima franchisee setelah 6 bulan pembukaan toko, selanjutnya akan diterima setiap 3 bulan sekali.

Nur Rachman menambahkan, khusus gerai waralaba sebaiknya lahannya tidak menggunakan sistem sewa seperti halnya gerai reguler.

“Biayanya akan lebih besar sebab harus membayar sewa tempat tiap lima tahunan dan dibayar di muka,” jelasnya.

 

TEKS      : AMINUDDIN

EDITOR   : RINALDI SYAHRIL

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster