Program KB Pria Di Kabupaten OKI Minim Peminat

 359 total views,  2 views today

Ilustrasi | Dok KS

Ilustrasi | Dok KS

KAYUAGUNG – Vasektomi, merupakan salah satu program  Keluarga Berencana (KB) jangka panjang bagi kaum laki-laki. Namun ternyata untuk di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) sangat minim peminat. Selama tahun 2014 KB Metode Operasi Pria (MOP) atau sering disebut Vasektomi hanya sebanyak 298 orang, berbeda dengan KB Metode Operasi Wanita (MOW) sebanyak 1.980 orang.

Kepala Bidang Data KB, BKKBN OKI, Lismarini, mengatakan, berdasarkan data tahun 2014 peserta KB dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebanyak 75.778 orang dan masyarakat swasta sebanyak 48.498 orang untuk semua jenis program KB, sementara di tahun 2013 lalu peserta KB untuk swasta 49.197 orang dan pemerintah 72.383 orang.

“Khusus untuk KB Vasektomi memang masih tergolong minim peminat, hanya berjumlah 266 untuk pegawai pemerintah dan 32 orang dari swasta, kebanyakan laki-laki masih banyak yang takut mengikuti KB ini, padahal tidak ada efek sampingnya,” kata Lisma, kemarin.

Lanjut Lisma, begitu juga dengan KB MOW,  baik PNS maupun swasta hanya berjumlah 1.980 orang.

“Jumlah KB MOW masih terbilang tinggi dibanding MOP, berbeda dengan jenis program KB jangka panjang lainya seperti IUD (Intra Uterine Device), Kondom, Implant, Suntik dan Pil, peminatnya sangat banyak,” jelasnya.

KB jenis suntik selama 2014 sebanyak 61.406 sementara KB Pil sebanyak 29.446 kemudian disusul  KB Implant sebanyak 22.155 orang, KB dengan menggunakan kondom 9.921 dan IUD 3.188 orang.”KB Suntik, pil dan Implant masih sangat diminati, kita berharap dengan banyaknya masyarakat ikut KB dapat menekan angka pertumbuhan penduduk,” ungkapnya.

Ditambahkan Kepala BKKBN OKI Alhadi Nasir, selama ini peserta KB Vasektomi masih minim dan kurang diminati oleh laki-laki di OKI.

” Minim peminat Vasektomi ini bukan hanya di OKI, tetapi memang seluruh daerah jenis KB yang satu ini kurang diminati, karena para laki-laki masih takut untuk ikut program KB jenis ini,” katanya.

Vasektomi lanjut Alhadi, merupakan suatu metode kontrasepsi pada pria yang aman, sederhana dan efektif, memakan waktu operasi yang singkat dan tidak memerlukan anestesi umum. KB ini untuk menghentikan kapasitas reproduksi pria dengan jalan melakukan Oklusi Vasa Deferensia sehingga alur transportasi sperma terhambat dan proses fertilisasi (penyatuan dengan ovum) tidak terjadi.

“Kontrasespsi pada pria dengan  mengoklusi Tuba Fallopi (mengikat dan memotong atau memasang cincin ) sehingga sperma tidak dapat bertemu dengan ovum,” jelasnya.

Dalam rangka menyukseskan program KB pihaknya mendorong tenaga PLKB (Penyuluh Lapangan KB) yang tersebar 18 kecamatan agar aktif mencari akseptor baru. “Selain itu, penyuluh  juga mempunyai kader penggerak KB sampai tingkat RW dan RT,” pungkasnya.

Sementara minimnya peminat Vasektomi bagi para pria, diduga kurangnya pemahaman para kaum pria, sehingga mereka masih takut untuk menjadi peserta KB itu. Apalagi diketahui mereka kalau sudah menjalani operasi Vasektomi mereka dinyatakan tidak bisa untuk memiliki keteturunan.

Penyabab lain diduga kurangnya sosialisasi oleh pihak BKKBN kepada masyarakat secara aktif sampai kepelosok desa.

“Kalau sudah Vasektomi tidak bisa lagi punya anak. Makanya kalau yang mau di vasektomi harus memenuhi beberapa syarat pertama pasangan yang sudah memiliki anak minimal tiga orang. Artinya dia tidak perlu lagi menambah momongan. Kalau pasangan yang masih satu anak mendingan tidak usah,” kata Tarmizi pria berumum 58 tahun yang menjadi peserta Vasektomi.

Menurut Tarmizi, sejak menjalami vasektomi dia tidak merasakan efek samping sedikitpun yang dikeluhkannya.

“Jangan takut tidak ada efek samping kok. Tapi pesan saya jangan jangan disalahgunakan untuk hal-hal yang tidak benar saja,” tandasnya.

 

TEKS      : DONI AFRIANSYAH

EDITOR   : FJ ADJONG


TAG



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster