MEA 2015 Datang, Kita Mau Apa?

 258 total views,  6 views today

Ilustrasi | Ist

Ilustrasi | Ist

Oleh Suterisno, SE

(Pelaku Ekonomi di Palembang)

Masyarakat Indonesia tentunya sangat familiar dengan Perhimpunan Bangsa-Bangsa di Asia Tenggara atau populer dikalangan masyarakat dengan nama Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). Pandangan kita sebagai masyarakat awam, yang mengenal istilah ASEAN dari materi pelajaran yang diperoleh di bangku Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas, pastinya pengetahuan kita berhenti pada ASEAN merupakan organisasi yang dibentuk di kawasan Asia Tenggara yang didirikan pertama kali oleh empat negara yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina dan Thailand, dan Mentri luar negeri Indonesia yang menandatangani deklarasi pada saat itu adalah Adam Malik dengan tujuan awal untuk menjaga perdamaian dan keamanan di Asia Tenggara hingga merambah kerja sama dalam bidang ekonomi dan kebudayaan.

Dewasa ini yang perlu mendapat perhatian dari kita semua adalah perkembangan kerjasama antar seluruh negara-negara ASEAN yang digagas oleh para pemimpin ASEAN, yaitu mengenai kesepakatan membentuk rencana jangka panjang untuk membentuk Komunitas ASEAN 2015 yang terdiri dari tiga pilar, yaitu ASEAN Economic Community (AEC atau Masyarakat Ekonomi ASEAN-MEA), ASEAN Security Community (ASC), dan ASEAN Sociao-cultural Community (ASCC).

Ketiga pilar tersebut saling berkaitan satu sama lain dan saling memperkuat tujuan pencapaian perdamaian yang berkelanjutan, stabilitas serta pemerataan kesejahteraan di kawasan. Paling menyedot perhatian kita adalah cetak biru  kerjasama ASEAN Economic Community atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang sudah menjadi isu ekonomi saat ini.

Terhitung 1 Januari 2015, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 benar-benar diberlakukan mulai tanggal 1 Januari 2015 masyarakat Indonesia tidak boleh menganggapnya remeh, karena realisasi pencapaian MEA nantinya, baik barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil dan aliran modal akan lebih bebas keluar masuk diantara anggota ASEAN tanpa hambatan baik itu tarif maupun nontarif, selain itu setiap anggota ASEAN tanpa hambatan bisa ‘menjaring‘ konsumen untuk produk-produknya dari negara-negara lain anggota ASEAN.

Hal itu tentunya akan menjadi peluang emas bagi setiap negara yang sudah memiliki persiapan yang matang, akan tetapi di lain pihak bisa menjadi bumerang bagi negara-negara yang tidak atau kurang mempersiapkan diri. Bayangkan saja jika produk dari negara-negara ASEAN lain menyerbu pasar Indonesia, karena produk lokal yang kalah saing dengan produk luar yang mungkin akan jauh lebih murah, seperti produk Cina yang marak di Indonesia, meskipun dari beberapa surve menyebutkan perekonomian Indonesia cenderung stabil, tapi kita patut waspada.

Seperti dikutip dari Suarakarya-online.com dengan Kepala Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies Yose Rizal, persiapan yang dibutuhkan saat ini yaitu mempersiapakan peraturan yang mendukung dunia usaha, seperti membuat aturan untuk mempermudah seseorang untuk mendirikan usaha di Indonesia selain itu Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofian Wanandi, mengatakan pemerintah juga perlu memikirkan bidang apa yang menjadi andalan Indonesia, sektor mana saja yang kita mampu kelola untuk menghadapi MEA.

Jika kita membayangkan MEA 2015 bisa berjalan tidak menutup kemungkinan penjual Bakso, Sate saja bisa dari Filipina, dan tidak mungkin kita nanti hanya menjual Batu Bara atau Kelapa Sawit paling tidak kita harus bisa membuat Handphone, Plasma, Tablet dan lain sebagainya, maka dari itu perlunya pemerintah untuk membantu mempersiapakan masyarakat Indonesia dalam menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 dan timbulnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya MEA untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dan merata, serta mendukung ketahanan individu negara anggota maupaun kawasan ASEAN. **





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster