Peran Promkes dalam Era JKN

 1,409 total views,  4 views today

Oleh Kelompok III

Iyep Yudiana, Armina Puji Utari

Leonny Elimin, Siti Pangarsi Dyah K

 

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan telah dimulai sejak 1 Januari 2014, dengan jumlah peserta sudah mencapai 133,1 juta orang (BPJS, 26 Desember 2014). BPJS Kesehatan merupakan implementasi Undang-Undang Nomor 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional, yakni tata cara penyelenggaraan program jaminan sosial yang bertujuan menjamin seluruh rakyat dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya dengan layak.

Keadaan di lapangan menunjukkan bahwa sudah banyak manfaat yang diterima oleh peserta yang menderita sakit penyakit. Namun tidak sedikit pula keluhan dari peserta BPJS yang merasa ditelantarkan atau ditolak oleh fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS akibat membanjirnya pasien yang datang ke rumah sakit untuk berobat. Rata-rata fasilitas kesehatan mengalami peningkatan jumlah pasien baik di rawat jalan maupun rawat inap dengan jumlah yang signifikan berkisar 20% bahkan sampai 150% dibandingkan tahun sebelumnya,

Peningkatan pasien BPJS merupakan fenomena yang disebabkan oleh banyak peserta yang meminta surat rujukan untuk mendapat perawatan di rumah sakit walaupun sakit ringan, padahal kenyataannya data menunjukkan lebih dari 70% penyakit yang ditangani RS dapat ditangani oleh fasilitas kesehatan tingkat pertama (Puskesmas, Klinik dokter, dll). Tentunya tidaklah mengherankan kalau rumah sakit akan kekurangan ruangan dan tenaga untuk melayani pasien yang membludak, sehingga akhirnya menimbulkan berbagai keluhan untuk para peserta BPJS.

Disisi lain, dengan membludaknya pasien BPJS ini telah membebani BPJS Kesehatan sehingga klaim yang yang harus dibayarkannya BPJS ke fasilitas kesehatan, melebihi iuran yang diperolehnya BPJS dari peserta.

Kondisi ini merupakan sindrom dari eporia JKN dan pemanfaatan fasilitas jaminan kesehatan yang menyeluruh dengan biaya kepesertaan yang rendah. Kondisi ini dimungkinkan akibat dari ketidak mampuan masyarakat untuk menjaga kesehatannya dan mencegah terjadinya sakit yang mengakibatkan semakin banyak jumlah pasien peserta BPJS yang harus dilayani, sehingga akan semakin banyak pula beban klaim yang harus ditanggung oleh BPJS Kesehatan.

Dalam kondisi seperti ini, peran promosi kesehatan sangat mutlak di perlukan karena asumsinya, semakin banyak orang melakukan peningkatan dan pencegahan penyakit karena terpapar informasi Promosi Kesehatan (Promkes), maka semakin sedikit orang yang jatuh ke dalam kondisi sakit sehingga perlu mendapatkan perawatan di Rumah Sakit dengan menggunakan kartu BPJS dan sebaliknya.

Kalau kita mendengar kata Promosi Kesehatan (Promkes) khususnya untuk masyarakat umum, tentulah sangat asing di telinga, pemahaman kita bahwa promosi artinya pemasaran dan kesehatan adalah sehat. Promosi Kesehatan adalah suatu upaya untuk memasarkan, menyebarluaskan, memperkenalkan pesan-pesan kesehatan, atau upaya-upaya kesehatan sehingga masyarakat menerima pesan-pesan tersebut (Soekidjo Notoatmojo, 2005).

Tujuan dilakukannya Promkes adalah untuk memandirikan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan dengan perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi kesehatan. Promkes diselenggarakan untuk masyarakat, keluarga, perorangan, rumah tangga, sekolah, ditempat kerja, tempat umum, dan institusi pelayanan kesehatan dll dengan cara seperti ceramah, seminar, diskusi, bermain peran, public speaking, media massa dll, dilakukan di rumah sakit, klinik, posyandu, poskestren, puskesmas, UKS, tempat umum dan keramaian lainnya.

Promkes di indonesia telah mempunyai visi, misi dan strategi yang jelas, yang tertuang dalam SK Menkes RI No. 1193/2004 tentang “Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan” yang tujuannya adalah untuk memandirikan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan dengan perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi kesehatan.

Sebagaimana peran Promkes di Rumah Sakit bila di kaitkan dengan euphoria penggunaan kartu JKN oleh peserta jaminan, mama PKRS dapat diberdayakan untuk menyebarkan informasi tentang penggunaan layanan primer seperti Puskesmas, klinik 24 jam, dokter keluarga dll, sebelum dilakukan rujukan ke Rumah Sakit. PKRS juga dapat melakukan perannya untuk kegiatan promotif terhadap kelompok sehat yaitu keluarga pasien, pengunjung dan masyarakat sekitar RS, supaya mereka mampu meningkatkan kesehatannya, sehingga tidak jatuh kedalam kondisi sakit.

Peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit (Promotif dan Preventif) lebih murah biayanya dari pada mengobati pada saat kita sudah jatuh sakit, terlebih lagi sebagian besar penyakit dapat dicegah dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Maka, disinilah tugas Rumah Sakit dalam menjalankan fungsinya yaitu mendorong upaya Promosi Kesehatan di RS dengan tujuan tercapainya peningkatan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat untuk terhindar dari sakit, sehingga JKN hanya digunakan dalam kondisi darurat, yang secara otomatis dapat meringankan beban klaim BPJS Kesehatan.**





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster