Pendidikan Kebudayaan, Perlukah?

 269 total views,  2 views today

Era globalisasi dan modernisasi merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindari oleh negara-negara di dunia dalam berbagai aspek kehidupan. Menolak dan menghindari modernisasi dan globalisasi sama artinya dengan mengucilkan diri dari masyarakat internasional. Kondisi ini tentu akan menyulitkan negara tersebut dalam menjalin hubungan dengan negara lain. Masuknya dua hal tersebut telah memberikan dampak positif dan negatif terhadap negara Indonesia sendiri tentunya. Salah satu dampak negatif dari era globalisasi adalah munculnya gaya hidup hedonis dikalangan masyarakat Indonesia saat ini.

Hedonisme merupakan pandangan hidup yang menganggap tujuan hidup yang paling utama adalah kesenangan dan kenikmatan. Bagi para penganut faham ini, mereka menjalani hidup sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. Dari golongan penganut paham ini lah muncul nudisme (gaya hidup bertelanjang). Pandangan mereka terangkum dalam pandangan Epikuris yang menyatakan,”Bergembiralah engkau hari ini, puaskanlah nafsumu, karena besok engkau akan mati.”

Seiring berkembangnya kemajuan zaman, gaya hidup hedonis semakin merajalela meracuni kalangan masyarakat, baik itu dari segi kaum muda sampai pada kam tua. Hal itu dapat dicontohkan dengan menyebarnya tempat tempat hiburan malam (diskotik). Dari kaum muda hingga kaum tua datang menghabiskan waktu bersenang-senang, berfoya-foya, berjudi, minum-minuman keras, berzina dan sebagainya.

Selain itu, mereka juga menghamburkan uang utuk pergi ke pusat perbelanjaan untuk memuaskan segala keinginannya. Hedonisme juga merubah gaya berpakaian bagi para faham yang menganutnya, pada umunya mereka berpakaian setengah telanjang, bahkan tidak malu malu mengumbar auratnya didepan umum. Sudah banyak sekali masyarakat disekitar kita yang menjalani gaya hidup tersebut, bahkan mendapatkan dukungan dari ligkungan sekitar, khususnya di kota-kota besar.

Sebagai warga negara Indonesia tentu kita sangat menyayangkan dan tidak ingin hal itu terjadi lebih meluas lagi di negara ini. Akan tetapi salah satu faktor yang menjadikan budaya itu terjadi adalah karena masyarakat Indonesia sendiri kurang selektif dalam menyikapi perubahan modernisasi.

Sikap ini ditunjukkan dengan menerima setiap bentuk hal-hal baru tanpa adanya seleksi atau filter. Kondisi ini akan menempatkan segala bentuk kemajuan zaman sebagai hal yang baik dan benar, padahal tidak semua bentuk kemajuan zaman sesuai dengan budaya masyarakat kita. Jika seseorang atau suatu masyarakat hanya menerima suatu modernisasi tanpa adanya filter atau kurang selektif, maka unsur-unsur budaya asli mereka sedikit demi sedikit akan semakin terkikis oleh arus modernisasi yang mereka ikuti. Akibatnya, masyarakat tersebut akan kehilangan jati diri mereka dan ikut larut dalam arus modernisasi yang kurang terkontrol, seperti halnya gaya hidup hedonis yang marak terjadi pada saat ini.

Oleh sebab itu, kalangan muda, siswa dan mahassiwa muda Indonesia, harus lebih kritis dan selektif akan hal-hal baru yang ada dilingkungan sekitar. Hendaknya kita menanamkan sikap-sikap tersebut kepada orang terdekat, agar tidak terpengaruh oleh dampak negatif dari munculnya globalisasi dan modernisasi. Perlu dilakukan “pendidikan kebudayaan” yang menjelaskan efek baik dan buruk dari globalisasi dan modernisasi, termasuk kepada masyarakat awam sehingga tidak tergilas dan terjajah oleh budaya asing.

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster