Ada Pungli di Bawah Jembatan Ampera

 55 total views,  3 views today

Para pedagang dan pembeli tumpah ruah. Menjelang sore, Taman Kota di bawah Jembatan Ampera berubah menjadi 'Pusat Perbelanjaan'. | Foto ; Ferry KS

Para pedagang dan pembeli tumpah ruah. Menjelang sore, Taman Kota di bawah Jembatan Ampera berubah menjadi ‘Pusat Perbelanjaan’. | Foto ; Ferry KS

PALEMBANG – Taman Kota di bawah Jembatan Ampera seharusnya menjadi lokasi untuk bersantai-santai atau sekadar beristirahat, kini berubah menjadi pasar bagi pedagang kaki lima (PKL). Sebagian besar PKL mengakui, setiap harinya mereka dimintai uang Rp 20 ribu oleh petugas. Benarkah ada pungutan liar (pungli) di bawah jembatan Ampera?

“Beberapa tahun ini, saya harus bayar karcis Rp 20 ribu. Katanya uang itu untuk kebersihan sekitar taman,” kata Nyonya Wati yang kini membuka lapak pakaian bekas persis di bawah jembatan Ampera.

Tak hanya Wati yang menyetorkan uang Rp 20 ribu ke petugas, ada ratusan PKL lainnya bernasib sama. Agar lapak bisa aman, si pedagang harus rela membayar uang yang dipatok tersebut.

Ahad (11/1), tim Harian Umum Kabar Sumatera coba menelusuri Taman Kota di bawah jembatan Ampera. Untuk memasarkan produk yang hendak dipasarkan, para PKL membuat lapak-lapak yang ukuran bervariasi. Di sini, selain barang-barang rumah tangga, pedagang juga menjajakan baju bekas atau baju beje.

Sama seperti hari-hari sebelumnya, tiap PKL mulai buka lapak pukul 08.00 WIB dan tutup di pukul 19.00 WIB. Ketika ditanya kemana uang setoran ke petugas itu berlabuh? Para pedagang menjawab, mereka tak mengetaui persis soal uang yang disetorkan.

“Kami tahunya setor uang Rp 20 ribu kepada petugas yang berkeliling untuk menagih. Apakah uang itu disetor ke pemerintah atau tidak? Kami tak tahu,” tutur Amir (45), penjual pakaian bekas.

Jika lapak PKL ditertibkan apa langkah yang diambil? Baik Wati ataupun Amir berkata, agar pemerintah secepatnya menyiapkan tempat berjualan yang laik sehingga tak lagi berjualan di sekitar taman kota.

Seperti yang diungkapkan Mukmin, pedagang lainnya, ia hanya mengharapkan ada lahan untuk berjualan, karena selama setahun ini ia hanya bisa berjualan disekitar taman.

“Kalau ada tempat yang lebih bagus, untuk apa lagi kami susah-susah jualan di taman,” demikian kata Mukmin si penjual barang pecah belah di bawah Ampera.

 

TEKS            : ANDI HARYADI

EDITOR        : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com