Belum Ada Tersangka Terkait Penggelapan dana KUR RP 10,5 M

 410 total views,  2 views today

KAYUAGUNG – Walaupun telah lebih dari dua bulan kasus dugaan penggelapan dana kredit usaha rakyat (KUR) Bank Rakyat Indonesia (BRI) bagi 21 kelompok anggota Koperasi Unit Desa (KUD) Mekar Sari di Desa Mekar Wangi, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) senilai Rp10,5 miliar, ditangani oleh penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Kayuagung, namun hingga kini penyidik belum juga menetapkan satu orangpun sebagai tersangka.

Penyidik Kejari Kayuagung mengklaim pihaknya masih terus melakukan penyelidikan dengan memeriksa saksi-saksi baik dari anggota KUD maupun pihak terkait lainnya. Sementara H Sutiyono selaku Panitia Pengurusan KUR Desa Mekar Wangi yang diduga melakukan penggelapan dan pihak BRI Kayuagung selaku penyalur sama-sama telah diperiksa. Baca Juga : Terkait Kasus Korupsi Dana KUR, Oknum BRI Siap Dipanggil Kejaksaan

Kejari Kayuagung, Viva Harry Rustaman SH didampingi Kasi Pidsus, Edowwan SH membenarkan pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait kasus yang merugikan negara senilai Rp10,5 milyar tersebut. “Kita masih melakukan penyelidikan, H Sutiyono selaku pengurus KUR KUD Mekar Sari sudah kita periksa, begitu juga pihak BRI Kayuagung selaku penyalur dana KUR juga sudah dimintai keterangan,” ujarnya, Ahad (30/11).

Ditanya apakah ada kendala dalam proses penyelidikan, Kejari mengaku pada dasarnya tidak ada kendala yang berarti dalam penyelidikan kasus ini, hanya saja pihaknya tidak mau gegabah dalam menetapkan siapa saja yang akan menjadi tersangka. Baca : Terkait Kasus Penggelapan KUR BRI Senilai Rp10,5 M, Kejaksaan Kayuagung Lakukan BAP Lapangan

“Kita belum menetapkan siapa tersangka dalam kasus ini, karena semuanya masih dalam proses penyelidikan. Nanti kalau proses penyelidikan telah selesai maka akan kita beritahukan kepada media,” ucapnya.

H Sutiyono sendiri saat dihubungi membenarkan dirinya telah beberapa kali diperiksa pihak Kejaksaan. Namun, dirinya membantah jika dikatakan sebagai pelaku tunggal kasus tersebut.

“Benar kita sudah diperiksa dan berbagai bukti yang kita miliki juga telah diserahkan ke penyidik. Kita hanya melakukan klarifikasi kepada penyidik, sebab selama ini keterangan yang diambil hanya sepihak, yakni hanya dari pengurus dan anggota KUD,” bebernya.

Mengenai penyalahgunaan dana KUR sendiri, Sutiyono mengaku bukan hanya di KUD Mekar Sari, seluruh KUD di OKI juga melakukan hal yang sama.

“Baru di KUD Mekar Sari yang terkuak, KUD-KUD lain belum. Namun pada kenyataannya dana KUR yang dicairkan BRI peruntukkannya melenceng dari yang seharusnya. Seperti di Mekar Wangi yang diperuntukkan untuk pemasangan instalasi dan pembelian meteran listrik,” tandasnya.

Seperti diketahui, selain Ketua Panitia KUR, H Sutiyono, salah satu oknum pegawai BRI Cabang Kayuagung yang menangani dana KUR tahun 2009  berinisial BAM, diduga terlibat dalam kasus tersebut. Bahkan saat ini BAM sudah dikeluarkan dari Bank BRI Kayuagung.

“Kasus ini sedang ditangani Kejaksaan Negeri Kayuagung, jika memang dimintai klarifikasi oleh kejaksaan kita siap dan siapapun yang dipanggil harus siap memenuhi pangilan tersebut,” kata Kepala Cabang BRI Kayuagung,  Yunefridel.

Pihaknya juga tidak mau berkomentar banyak terkait kasus tersebut dan menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kejaksaan. “Saya tidak mau memberikan statement yang kontraproduktif dengan proses penegakan hukum yang saat ini sedang berjalan,” ucapnya.
Soal jumlah dana KUR yang sudah disalurkan ke peminjam di Kabupaten OKI, menurut dia sangat banyak.

“Dana KUR yang sudah kita salurkan sangat banyak, tapi saya lupa jumlah besarannya, saya tidak mau berspekulasi karena saya sedang tidak pegang datanya, kalau kredit yang macet juga banyak sama seperti pinjaman nasabah biasa. Saya tidak mau memberikan komentar terkait hal-hal yang saya tidak pegang datanya, karena statement itu harus bisa dipertanggung jawabkan,” terangnya.

Mengenai proses hukum yang sekarang sedang berjalan pihaknya sangat menghormatinya. “Kita dukung supremasi hukum, jangan sampai statement kami kontraproduktif dengan kejaksaan, untuk lebih validnya silahkan tanya ke pihakkejaksaan,” tandasnya.

Terkait oknum BRI berinisil BAM  yang disebut-sebut terkait dalam kasus penggelapan dana KUR itu, pihaknya mengaku tidak tahu. “Saya tidak tahu siapa nama oknum BRI yang disebut-sebut itu, kalo masalah penegakan hukum tanya ke kejaksaan saja yang lebih valid. Kalau ada panggilan dari kejaksaan saya kira siapapun harus siap,” jelasnya.

Seperti diketahui sebelumnya, dugaan korupsi dana KUR BRI ini terungkap setelah pihak BRI Kayuagung selaku penyalur mengirimkan surat ke KUD Mekar Sari, dimana dalam surat tersebut dinyatakan bahwa KUD Mekar Sari belum juga melunasi pinjaman hingga batas akhir kredit, sehingga pihak bank mengenakan pinalty selama 2 tahun dan berkewajiban melunasi pinjaman dan membayar denda.

Berdasarkan keterangan dari para peminjam yang tak lain adalah anggota KUD Mekar Sari, bahwa mereka hanya meminjam uang senilai Rp 1,5 miliar untuk tiga kelompok anggota KUD pada 2009 dan telah melunasinya pada tahun 2012 lalu, sehingga terjadi selisih senilai Rp 9 miliar dan dananya entah kemana. Guna menyelesaikan permasalahan tersebut selanjutnya diadakan pertemuan antara pihak BRI dengan para peminjam di aula KUD Mekar Sari, Kamis (11/9).

Namun sayangnya, pada pertemuan yang berlangsung selama hampir 2 jam tersebut belum diperoleh titik terang karena Ketua Panitia Pengurusan KUR KUD Mekar Sari H Sutiyono, tidak hadir. Begitupun Bambang selaku pihak BRI yang saat itu mencairkan proses pinjaman bagi masyarakat Mekar Wangi. Warga menduga, ada permainan antara pihak Panitia Pengurus KUR dengan oknum pihak BRI, karena pada saat pengusulan pinjaman terjadi manipulasi data dan anggota KUD yang tidak menerima data pinjaman terpaksa ikut mengangsur. Jika tidak, maka sertifikat tanah, rumah dan kebun mereka yang menjadi agunan terancam tidak dikembalikan.

Ketua KUD Mekar Sari, Wakri didampingi Bendahara, Mukliadi mengatakan berdasarkan data yang ada di KUD, anggota KUD Mekar Sari yang memang mengajukan pinjaman ke BRI Kayuagung hanya 3 kelompok yang beranggotakan 30 orang, selebihnya tidak pernah mengajukan dan menerima dana pinjaman, namun memang oleh Panitia Penyalur, sertifikat mereka ikut menjadi agunan karena tanpa sepengetahuan pihak pengurus KUD.

 

TEKS     : DONI AFRIANSYAH

EDITOR  : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster