Meninjau Ulang Kenaikan BBM

 491 total views,  2 views today

Deri-Pransa-PutraOleh Deri Pransa Putra

Ketua Umum KOKOM HMI IAIN Raden Fatah Palembang

Pergantian rezim dari SBY-Budiono ke Jokowi-JK, sejak awal berharap akan membawa negeri ini lebih berdaulat, maju, sehat dan makmur, serta mewujudkan Indonesia tanpa korupsi. Namun secercah harapan itu, hampir hilang. Bahkan kini berubah menjadi kekecewaan. Apalagi kalau bukan disebabkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Tentu kebijakan ini berdampak luas di segala sektor kehidupan. Tak pelak. masyarakat juga ikut kecewa dan kesal. Betapa tidak? Sebab ketika kampanye Jokowi-JK mengesankan mewakili wong cilik. Namun faktanya, justeru merekalah presiden dan wakil presiden terpilih yang langsung menaikkan harga BBM. hanya berselang beberapa minggu setelah dilantik.

Oleh karenanya, wajar saja jika kemudian muncul berbagai bentuk penolakan terhadap kebijakan ini. Mulai dari aksi yang dilakukan mahasiswa di berbagai belahan nusantara. Atau aksi serupa dilakukan sejumlah sopir taksi, angkot, bis kota, dan elemen masyarakat lain. Reaksi ini sebagai bentuk protes

Sebab kenaikan harga BBM tidak hanya berdampak pada kenaikan biaya transporasi tetapi juga berimplikasi terhadap naiknya sejumlah kebutuhan bahan pokok. Tentu fenomena ini semakin menyulitkan sebagian besar masyarakat.

Sebenarnya ada beberapa hal yang menjadi alasan mendasar harga BBM dinaikkan. Pertama, pasca pelantikan dan diresmikan menjadi Presiden Republik Indonesia Jokowi dihadapkan pada situasi yang sanggat dilematis defisit “ anggaran mencapai Rp 27 triliun dan carry over BBM subsidi Rp 46 triliun. Total kas negara yang kosong mencapai US$ 7,2 miliar,” yang dijelaskan Luhut Binsar Panjaitan.Beberapa tahun terakhir ini, pembangunan infrastruktur dan kesehatan juga sangat minim penganggarannya karena kas negara lebih banyak dianggarkan untuk subsidi BBM.

Oleh karena itu, menaikkan harga BBM merupakan salah satu solusi karena menipisnya kas negara. mengurangi dana untuk subsidi BBM dan dapat dialihkan pada program – program pemerintah seperti Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS)yang bisa bermanfaat pada masyarakat. Kedua, seiring menurunnya harga minyak mentah dunia pada 30 Oktober 2014, terus menguatnya dollar AS di pasar saham global. Dollar yang semakin kuat membuat minyak yang dihargakan dalam mata uang dollar lebih mahal untuk pembeli yang menggunakan mata uang lemah seperti rupiah.

Alasan tetaplah alasan semata, menghentikan subsidi BBM ataupun mengurangi dan berdalih akan dialihkan untuk kepentingan pembangunan infrastuktur dan kesehatan lainnya yang memiliki manfaat lebih tinggi untuk masyarakat tetaplah sebuah alasan yang berdampak negatif pada rakyat Indonesia secara global dan seluruh sektor. Naiknya harga BBM tentu berdampak pada laju inflansiitu menandakan akan bertambahnya jumlah kemiskinan di Indonesia.

Meninjau Ulang Kenaikan BBM

Kebijakan Pemerintah untuk menaikan harga BBM sangat tidak arif dan bijak. Karena, pertama, apabila kita perhatikkan disetiap lini banyak sekali penggunaan anggaran yang tidak terpadu. Selain menaikkan harga BBM pemerintah harus menghemat diberbagai penggunaan APBN seperti operasional, sarana dan prasarana pejabat.

Kedua, Apabila sektor migas dikendalikan oleh BUMN, maka keuntungan akan terasa lebih dirasakan rakyat. Pengelolaan asing secara mayoritas disektor migas ini merupakan salah satu gagalnya pemerintahdalam memanfaatkan sumber daya alam untuk kesejahteraan rakyat

Ketiga,penganggarannya yang sanggat lemah, fungsi financial manajement yang tidak terpadu dan fungsi operasional yang belum optimal, dukungan pembiyaan alternatif yang belum tersedia, penyelenggaraan kas, piutang, utang, investasi dan aset yang belum optimal serta jauh dari optimal, tanggung jawab penggunaan anggaran kementerian juga belum tegas.

Sungguh prestasi yang menyakitkan.**





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster