Ironis, Tak Ada SD di Karang Anyar, Kecamatan Muara Padang, Banyuasin

 330 total views,  2 views today

Sekolah Swasta Minim Perhatian..Foto Bagus Kurniwan

Sekolah Swasta Minim Perhatian..| Foto Bagus Kurniwan

BANYUASIN – Desa Karang Anyar Kecamatan Muara Padang, hingga kini belum memiliki sarana pendidikan berupa Sekolah Dasar (SD). Anak-anak usia 6 hingga 12 tahun atau setingkat SD harus bersekolah di SD desa tetangga.

Ironisnya, SD Muara Padang yang menjadi tujuan mereka bersekolah itu, kini tak mampu lagi menampung banyaknya anak-anak yang bersekolah di sana. Akibatnya SD ini harus membagi jam pelajaran pagi dan sore hari belum dimilikinya lembaga pendidikan formal berupa SD di Desa Karang Anyar itu diungkapkan Ketua BPD Karang Anyar, Anang Cik kepada anggota DPRD Banyuasin Dapil 3 yang tengah menggelar kegiatan reses, Kamis (20/11) kemarin.

Jelas Anang Cik, jika usulan pembangunan SD ini sudah berkali-kali disampaikan, sayangnya hingga saat ini belum ada realisasinya. Tentunya, dengan kondisi yang terjadi saat ini akan sangat disayangkan jika SD Muara Padang yang selama ini menjadi “pelarian” anak-anak Desa Karang Anyar angkat tangan dan menolak anak usia sekolah untuk bersekolah disana, dengan alasan daya tampung yang terbatas.

“Kalau untuk saat ini masih bisa tertampung karena sekolah dibuka pagi dan sore hari. Kami berharap agar desa kami ini memiliki gedung SD sendiri, sehingga tidak perlu lagi bersekolah di desa tetangga. Kasihan juga anak-anak setiap hari harus berjalan kaki sepanjang 1,5 Km menuju sekolah yang cukup jauh. Kalau ada di desa ini, tentunya akan lebih baik dan mempermudah, kita tidak takut lagi anak kita tidak diterima gara-gara tidak ada kelasnya,” ungkap dia.

Untuk mempercepat dan mempermudah realisasi SD itu, dikatakan Anang, pihak desa telah menyiapkan lahan seluas 2 hektare yang statusnya lahan desa itu untuk dipergunakan sebagai lokasi pembangunan sekolah. Paling tidak, jika direalisasikan, SD ini minimal memiliki tiga ruang kelas. Satu ruang guru dan satu ruang penjaga sekolah.

“Kami tidak muluk-muluk dan minta yang macam-macam. Cukup tiga ruang kelas, dan satu ruang guru dan satu untuk penjaga sekolah. Lahannya ada, seluas 2 hektare, selama ini lahan itu dipergunakan sebagai lapangan sepakbola, kalau terealisasi lahan kas desa itu bisa dibangun berdekatan dengan lapangan sepakbola,” ungkapnya.

Terkait keluhan ini Aggota DPRD Banyuasin Dapil 3, Yuan Ari Effendi mengaku cukup terkejut dan laporan tersebut. Menurut dia, seharusnya setiap desa sudah harus memiliki lembaga pendidikan formal tingkat dasar agar program pendidikan dasar 9 tahun bisa berjalan dengan baik.

“Nanti akan kita sampaikan ke Dinas Pendidikan dan juga akan kita prioritaskan untuk dibangun pada tahun 2015 pada APBD induk. Karena ini sangat urgen sifatnya, masak desa tua tidak memiliki SD, sangat tidak masuk akal. Dimana salahnya,” tegas politikus PAN ini.

Senada dikatakan Arisa Lahari, tak adanya SD ini patut menjadi perhatian pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan Banyuasin. Apalagi disebutkan jika pihak desa sudah berkali-kali mengusulkan, itu artinya respon dari dinas terkait yang lamban atau sama sekali tidak dihiraukan.

“Nanti kami akan “paksa” supaya pembangunan SD di Karang Anyar ini menjadi salah satu prioritas pembangunan di 2015. Akan kita perjuangkan pembangunannya masuk dalam APBD induk. Selain itu juga untuk masalah ini akan kita panggil juga dinas yang bersangkutan,” tukas Lahari.

 

TEKS      : DIDING KARNADI

EDITOR    : RINALDI SYAHRIL

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster