Organda Usul Ubah Tarif Angkot, Sopir Harus Taati Keputusan

 344 total views,  2 views today

PALEMBANG – Organisasi Angkutan Darat (Organda) Palembang nampaknya belum puas dengan keputusan besaran kenaikan tarif angkutan umum yang disahkan, Rabu (19/11) lalu. Karena, Oraganda menyatakan akan kembali mengajukan usulan perubahan tarif Angkutan Kota (Angkot).

Ketua Organda Palembang, Sunir Hadi mengatakan, pihaknya mendapatkan masukan dari para pelaksana di lapangan seperti sopir yang menginginkan tarif di bulatkan saja. Sebab, tarif angkot yang di sepakati Rp 3.500 untuk angkot atau naik hanya 20 persen, hal itu di nilai belum sesuai. Selain itu sebutnya, para pemilik Angkot dan sopir Angkot juga menilai keputusan itu bersifat sementara.

“Idealnya naik menjadi Rp 3.800 sesuai harapan banyak sopir. Atau naik 30 persen,” ungkapnya, Senin (24/11).

Kata Sunir, apa yang dikeluhkan sopir tersebut sangat realistis, mengingat imbas dari kenaikkan BBM sangat luas, terutama penghasilan para sopir dan bakal memicu kenaikkan setoran Angkot. Jika dibandingkan dengan kota-kota lain seperti, Bandung, Bekasi dan Jakarta cukup jauh berbeda.

“Mereka menaikan tarif Rp 1.000. Sementara di Palembang hanya Rp 700. Ini kan tidak sesuai. Padahal jaraknya jauh,” katanya.

Sementara itu, sopir Angkot jurusan Perumnas-Kenten, Edi mengatakan, walaupun tarif ditetapkan Rp 3.500, ia dan sopir lainnya tetap tarik tarif angkutan penumpang Rp 4.000.

“Sebenarnya kami tidak mau menaikkan tarif. Namun BBM naik tinggi dan memicu naiknya onderdil kendaraan jadi kami naikkan sepihak,” katanya.

Edi menyebutkan, sebelum BBM naik, kebutuhan BBM untuk operasional Angkot nya setiap hari sebesar Rp 170.000. Tapi, dengan kenaikkan BBM tidak bisa lagi.

“Kalau kami hanya kenaikan tarif angkutan Rp 3.500 kami akan rugi. Bisa tidak makan anak istri dirumah. Kami juga sadar tarif naik terlalu tinggi penumpang jadi malas dan bisa beralih ke motor atau armada lain. Tapi mau gimana lagi. Kami tidak ingin rugi dan kami pikir kenaikan 30 persn lebih adil,”sebutnya.

Edi mengaku, walaupun ia dan sopir menarik tarif Rp 4.000 setiap penumpang, bukan berarti semua penumpang rela membayar. Dengan keadaan tersebut, ia masih beri toleransi kepada penumpang yang ingin membayar Rp 3.500. Namun untuk pembayaran sejumlah itu diminta dengan uang pas. Apabila tidak dengan uang pas, tarifnya Rp 4.000.

“Kami tidak maksa kepada penumpang. Karena penumpang sudah tahu kalau harga BBM naik dan angkot juga pasti naik,”akunya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Palembang, Masripin Toyib mengatakan, pihaknya telah melakukan rapat dengan pihak terkait termasuk Organda dan sudah di sepakati bahwa tarif angkot naik 22 persen, lebih tinggi dari pemerintah pusat yang meminta kenaikan tarif maksimal 10 persen.

“Kenaikan di Palembang jauh lebih tinggi dibandingkan pusat. Kita naik 22 persen,” ujarnya.

Sambungnya, saat ini pihaknya masih menunggu proses selanjutnya termasuk adanya Peraturan Wali Kota (Perwali) terkait penetapan tarif angkot dan bus kota tersebut. Sekarang Perwali nya sedang digarap di bagian hukum Sekretariat Daerah (Setda) Palembang.

“Kami harap seluruh pihak bisa menerima hasil kesepakatan beberapa waktu lalu. Jika kedapatan yang melanggar, maka ada sangsinya,”tukasnya.

 

TEKS   : ALAM TRIE MARSATA

EDITOR   : RINALDI SYAHRIL

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster