Pasokan BBM di Sumsel Aman

 283 total views,  2 views today

Antrian Panjang disalah Satu SPBU yang Ada di Kota Palembang. | Bagus Kurniawan

Ilustrasi SPBU | Foto : Bagus Kurniawan

PALEMBANG – Setelah kenaikan Bahan Bakar Minyak beberepa hari yang lalu, aktifitas di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Palembang cenderung stabil. Dari hasil pantauan Harian Umum Kabar Sumatera, Minggu (23/11) di SPBU yang berada di Jalan Demang Lebar Daun terlihat antrian khususnya roda dua tidak terlalu panjang, kondisi ini sama seperti harga BBM seperti premium masih dibandrol harga lama.

Alicia Irzanova, Senior Supervisor External Relations Pertamina Marketing Operation Region II mengatakan, untuk penggunaan premium hingga 23 November di Sumatera Selatan (Sumsel) sudah mencapai 723.122 kilo liter (KL), sedangkan untuk solar 504.714 kl.

“Kuota BBM di Sumsel, untuk premium saat ini mencapai 834.040 kl, sedangkan untuk solar 529.837 kl, dan untuk stock dalam sehari kita cukup banyak,” katanya melalui rilisnya.

Dia menambahkan, untuk stock BBM yang dimiliki Pertamina mencapai 50.000 kl baik untuk premium dan solar, jumlah ini baruyang ada di terminal Kertapati belum di kilang minyak. Naiknya harga premium dari Rp 6.500 menjadi Rp 8.500 per liter, solar dari Rp 5.500 jadi Rp 7.500 per liter membawa dampak pada turunnya konsumsi BBM.

“Konsumsi BBM di Sumsel untuk premium jumlahnya 2.500 KL dan solar 1.500 KL, dan di hari pertama BBM naik secara logika konsumsi terjadi penurunan karena sebelum kenaikan banyak pemilik kendaraan yang sudah mengisi penuh tanki kendaraan,” jelasnya.

Hanya saja kondisi tersebut tidak akan berlangsung lama karena diperkirakan hanya terjadi hanya dua sampai tiga hari saja dan selanjutnya kembali normal. Naiknya harga BBM khususnya premium menjadi Rp8.500 per liter diharapkan membawa pengaruh terhadap penjualan pertamax yang sekarang dijual Rp 12.750 per liter.

“Kita berharap pengendara yang awalnya mengisi premium maka adanya kenaikan ini bisa beralih ke pertamax, sedangkan pengendara yang sudah biasa menggunakan BBM non subsidi ini tidak akan berlaih ke BBM lain,” jelasnya.

Apalagi konsumsi pertamax saat ini masih tergolong kecil, dalam sebulan hanya tembus 600 KL saja sehingga kondisi sekarang ini membawa imbas positif terhadap penjualan pertamax. Alicia juga menjelaskan perubahan harga BBM tetap menguntungkan bagi pengelola SPBU, pasalnya setiap liter yang dijual sudah ada margin yang diperoleh.

Dia mengasumsikan, jika di harga lama, pengelola SPBU membeli sekitar 10 KL dan masih ada sisa dan menjualnya dengan harga baru maka sisa BBM yang ada dihitung dengan harga baru, meskipun begitu pengelola SPBU tetap untung menjual BBM subsidi.

 

TEKS     : AMINUDDIN

EDITOR    : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster