Awas, DBD “Membunuh” Kita

 245 total views,  2 views today

Ilustrasi Suasana Perumahana di Bantaran Sungai yang rawan dengan Nyamuk

Ilustrasi Suasana Perumahana di Bantaran Sungai yang rawan dengan Nyamuk. | Foto : Dok KS

• Waspadai “Musim” DBD

PALEMBANG – Masuknya musim penghujan saat ini, mewajibkan masyarakat Sumsel untuk mewaspadai sebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Hasil catatan yang dimiliki Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumsel, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, angka penderita penyakit DBD cukup tinggi saat memasuki Januari dan Februari 2015.

Pada 2010, penderita DBD Januari (180 orang) dan Februari (165 orang), 2011 tercatat Januari (99 orang) dan Februari (77 orang). Sedangkan 2012 untuk Januari, penderita DBD sebanyak 804 orang (11 meninggal) dan Februari 573 orang (3 meninggal).

“Begitu pula pada 2013, pada Januari 367 orang dan Februari 244 orang. Untuk 2014 ini, hampir merata besarannya. Tidak hanya Januari dan Februari saja, pada Mei lalu, sebanyak 418 orang dinyatakan menderita DBD ini. Untuk Januari sebanyak 134 orang dan Februari 111 orang,” ujar Kasi Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Provinsi Sumsel, Mulyono di kantornya, Ahad (23/11) kemarin.

Tegas Mulyono, pola hidup dan tingkat kepadatan penduduk juga memberikan pengaruh terhadap sebaran penyakit yang dibawa oleh nyamuk aedes aegepty ini. Dengan pendudukan terbanyak, Palembang menduduki peringkat pertama dengan jumlah penderita 398 pada 2014 ini. Sedangkan OKU Timur sebanyak 70 penderita, Prabumulih sebanyak 60 penderita, Banyuasin 63 penderita, Musi Banyuasin dan Muaraenim 55 penderita.

“Ini tercatat hingga September lalu. Sedangkan triwulan kedepan masih berjalan. Mudah-mudahan tidak mengalami peningkatan,” tegas Mulyono.

Menurutnya, Palembang sempat mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) pada 1998 lalu. Kondisi ini nyaris sama dengan saat ini yang juga hujan pasca kepungan asap. Dinkes Sumsel sendiri telah melayangkan surat imbauan kepada kabupaten/kota untuk mencegah tingginya penyakit ini.

“Kesehatan merupakan tanggung jawab bersama. Terutama bagi daerah-daerah yang rawan penyakit ini. Mulai dari mobilitas penduduk, topografi serta transportasi merupakan indikator tingginya penyakit DBD,” katanya.

Dirinya juga mengimbau, jika trend penyakit DBD tersebut tidak lagi menyerang manusia yang berumur maksimal 15 tahun, melainkan diusia di atasnya.

“Masih 40% menyerang anak-anak diusia itu,” imbuhnya.

Dinkes Sumsel sendiri telah menyiapkan upaya untuk menekan sebaran penyakit ini. Termasuk sosialisasi ke sekolah dan melakukan penyemprotan (fogging) terhadap jentik nyamuk.

Sementara, Koordinator Tagana Sumsel Sumarwan menegaskan, pasca musim kemarau lalu, pihaknya terus melakukan koordinasi dengan seluruh Tagana yang ada di Sumsel dengan mengaktifkan posko posko yang ada diseluruh Kabupaten Kota serta terus memberikan laporan secara rutin tentang kondisi daerah pasca hujan disamping juga melaporkan kondisi ketersediaan kebutuhan logistik.

“Kebersihan itu yang utama. Banyak sekali penyakit yang timbul pada musim penghujan ini. Anggota kita siapkan untuk bisa terlibat dalam hal apapun untuk menjaga kebersihan masyarakat Sumsel,” disampaikannya.

 

TEKS      : IMAM MAHFUZ
EDITOR   : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster