Stock BBM di Perairan Kosong, Harga Eceran Tembus Rp12 Ribu/Liter

 264 total views,  2 views today

KAYUAGUNG – Sejak harga Bahan  Bakar Minyak (BBM) naik, sampai sekarang wilayah perairan di OKI tidak mendapat pasokan BBM, akibatnya aktivitas nelayan dan transportasi sungai terganggu, bukan hanya itu, harga BBM di wilayah tersebut tembus Rp12 ribu/liter.

Menurut H Komala, salah satu nelayan di Kuala Sungai Jeruju, Kecamatan Cengal Kabupaten OKI, para nelayan saat ini tidak bisa beraktifitas, karena kapal-kapal nelayan tidak mendapat pasokan minyak.

“Sekarang semuanya serba salah, harga BBM sudah naik, tapi malah pasokan tidak ada, kekosongan pasokan BBM sudah terjadi satu minggu sejak BBM naik,” kata H Komala belum lama ini.

Wilayah perairan OKI, melaiputi  4 kecamatan yakni Cengal, Sungai Menang, Tulung Selapan dan Air Sugihan, selama ini wilayah perairan itu mendapat pasokan BBM dari Jakarta, Lampung dan Palembang yang dikirim melalui jalur sungai.

“Untuk penampung disini beli Rp 10 ribu/liter, kalau untuk tingkat eceran dijual Rp 12 ribu, masih enak kalau BBM nya ada, tetapi sekarang BBM tidak ada, hanya ada harga saja,” ungkapnya.

Karena tidak ada pasokan minyak, para nelayan tidak bisa melaut, bahkan sekarang nelayan sedang mencari profesi lain, karena pendapatan melaut sekarang sudah tidak seimbang lagi dengan hasil melaut.

“Kalau dibandingkan dengan hasil melaut masyarakat merugi, karena harga BBM yang tinggi sudah tidak sesuai dengan pendapatan nelayan saat ini,”ungkapnya.

Menurutnya, pasokan BBM yang mulai berkurang saat ini meliputi Desa Sungai Lumpur, Sungai Jeruju, Kuala Sungai Pasir, Kuala Sungai Jeruju dan Somor Kecamatan Cengal, kemudian nelayan Desa Sungai Sibur dan Pinang Indah Kecamatan Sungai Menang, nelayan Desa Simpang Tiga Abadi, Simpang Tiga Makmur, Simpang Tiga Jaya, Kuala Dua Belas Kecamatan Tulung Selapan dan beberapa desa di Kecamatan Air Sugihan.

“Jadi kami bingung dengan kebijakan pemerintah sekarang, warga di perairan hanya mengandalkan pendapatan dari hasil melaut, jika kami tidak melaut kami tidak bisa makan. Menurut kami jelas pemerintah sekarang tidak berpihak kepada masyarakat khususnya terhadap para nelayan seperti kami,” tegasnya.

Sedangkan salah seorang nelayan di Desa Simpang Tiga Jaya, Kecamatan Tulung Selapan, Robinson mengatakan, sebelum ada pengurangan pasokan BBM, di wilayahnya sudah sering terjadi kelangkaan bahan bakar minyak jenis solar, sementara saat harga BBM naik, harga di tingkat eceran semakin tinggi.

“Dengan harga BBM yang cukup tinggi ini, kalau biasanya kita melaut mencari ikan setiap hari terpaksa dalam seminggu hanya beberapa  kali melaut,” keluhnya.

Kades Sungai Lumpur, Kecamatan Sungai Menang, Dedi Irawadi didampingi Sekdes, Indra Gunawan membenarkan bahwa nelayan di wilayah perairan sulit untuk mendapatkan pasokan solar.

“Produsen minyak mengirimkan solar ke wilayah kami menggunakan perahu Jukung, ada yang dari Palembang, ada juga yang dari Jakarta melalui Rawajitu Lampung dan Bangka,” terangnya.

Dikatakannya, masyarakat berharap ada Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) terapung, sehingga harganya tidak begitu tinggi. “Kami di wilayah perairan ini membeli solar dari pengecer yang datang dari

Palembang dengan harga tinggi  Rp 10.000/liter, jelas nelayan keberatan. Soalnya kalau dibandingkan dengan hasil tangkapan ikan di laut, dengan harga BBM sekarang, para nelayan banyak yang merugi,” tukasnya.

 

TEKS   : DONI AFRIANSYAH

EDITOR   : RINALDI SYAHRIL

 

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster